Karena Aku Mencintai Manusia Setengah Dewa

Aku adalah seorang gadis yang berjuang untuk hidupku sendiri di Ibukota. Walaupun, kalau dipikir", keluargaku masih mampu membiayai aku hidup. Tapi aku lebih memilih untuk membiayai hidupku sendiri, merasakan hasil peluhku sendiri.

Aku masih ingat semua kejadian yang membuatku memilih hidup sendiri.

“Hanna, denger yang Mas Yudi bilang….”
“Gak, Hanna pokoknya gak mau rumah ini dijual!!”
“HANNA !!!!”….Brruukkk…

Kejadian itu masih terngiang di telingaku. Kala itu, Aku harus mempertahankan apa yang Almh. Ibuku amanatkan untukku.

“Hanna, rumah ini jangan sampai dijual. Simpan semua surat – surat dan kotak perhiasan Ibu ini di bunker rahasiamu.Baca surat dari Ibu saat keadaan sudah stabil. Ibu percaya Hanna bisa.”

Tak lama setelah itu Ibu tiada. Banyak hal berkecamuk di hatiku. Sanggupkah aku?

Ketika keadaan mulai stabil, Aku teringat pesan Ibu dan bunker rahasiaku. Malam itu, aku membaca suratnya dan terkesima. Ibu meninggalkanku banyak amanat, diantaranya beliau ingin rumah tidak dijual dan menitipkan surat – surat rumah padaku. Ada sekotak kado terbungkus kertas kopi bertuliskan “Untuk Hanna” dan itu tertulis di dalam surat Ibu sebagai “Kado Pernikahan” untukku dan Ibu menginginkan agar aku membukanya pada saat aku akan menikah. Terlalu cepat dan terlalu panjang Ibuku berpikir tentang masa depanku. Seorang Hanna bisa menikah?? Apa mungkin ??


Seorang Hanna adalah gadis yang tertutup, pemurung, minder, perasa, rapuh tapi manja. Aku selalu merasa nyaman bercerita tentang segala hal pada Ibuku. Namun sejak Ibuku meninggal, aku lebih sering bercerita pada “Jurnalku” yang kuberi nama “Kintan”.

Kintan atau Jurnalku adalah sahabatku. Segala keluh kesah kuuraikan secara jujur pada Kintan. Tapi kalau aku sedang malas cerita, aku menyimpan semua itu sendirian. Sejak aku tahu rumah ingin dijual, aku berpikir betapa piciknya kakak – kakakku. Malam itu, aku putuskan menyimpan semua yang Ibu amanatkan padaku dan menaruhnya kembali dengan rapi di bunker rahasiaku. Kotak bertuliskan “Untuk Hanna” kutaruh diatas semua benda milik Ibuku. Aku mengakhiri malam itu dengan menyegel rapi bunker rahasiaku dan mengepak pakaianku karena keesokan harinya, aku ingin pergi…ya…pergi.!

Aku pergi keluar dari rumah keesokkan harinya dengan membawa apa yang aku punya, pakaian dan kintan. Berkat sahabatku, Ari, aku bisa pergi dengan mudah dari rumah. Di sepanjang perjalanan, Ari sempat menanyakan tentang apa yang terjadi. Sedang aku hanya berkomentar,

“NO COMMENT…”

Ari yang sudah lama mengenalku hanya mendengus kesal mendengar aku berkata itu dan itu berulang kali. Aku memang malas untuk menjawab tentang itu semua karena bagiku itu buang – buang waktu. Aku sedang berpikir akan hidup seperti apa diluar sana.Seorang Hanna yang….aahhh…Ari pun berpikir bahwa aku tidak bisa bertahan.

Sampai malam hari datang, hari pertamaku tanpa AC, tanpa TV, tanpa telepon, tanpa kasur empuk dan tanpa makan malam, aku berpikir untuk berubah. Aku bercerita tentang ini pada Kintan dan aku memutuskan untuk mempersiapkan “Alter Ego” ku.


Ya, Alter Ego, jati diri keduaku. Malam itu kuputuskan menamai alter egoku dengan Laras, Laras Anggun Anindya. Karakter Laras 180° berbeda denganku. Laras adalah wanita yang anggun, cantik, lembut, open minded, dewasa, easy going dan punya sifat – sifat manis lainnya.

Aku hidup dalam jati diri Laras bertahun – tahun sampai kadang aku merasa kalau aku adalah Laras, terlahir sebagai Laras bukan Hanna. Hanna sepertinya sudah hilang, terkubur disudut hatiku paling dalam dan aku seperti terbuai dengan itu semua. Sampai aku tak memikirkan apapun, bahkan KTP dengan status asal – asalan Hanna pun tak jadi masalah buatku. Aku seperti bukan Hanna, tapi sepenuhnya Laras.

Kadang aku berpikir untuk mengakhiri perjalanan Laras, tapi aku tak bisa. Laras seperti mendarah daging di dalam diriku. Kadang sifat Hanna-ku berontak tapi kuabaikan. Yang tak bisa kuabaikan hanya Kintan. Dia tetap sahabatku, baik aku Hanna ataupun Laras. Hanya pada Kintan, aku bisa jadi sosok Hanna dan Laras sekaligus. Mungkin kalau Kintan bisa bicara, dia pasti berteriak marah padaku. Hanya pada Kintan aku tuliskan syair – syair kegundahanku dan cerita – cerita hidupku. Entah cerita kegundahan Hanna yang ingin mengakhiri perjalanan Laras maupun kegundahan Laras tentang cerita – cerita cinta.

Sejak ada Laras, cinta datang silih berganti di hidupku sebagai Hanna. Tapi semua hanya selintas lalu, tidak ada yang benar – benar tulus. Hanna ingin rasakan “cinta” seperti yang dipunyai Ibu. Ibu dan ayahku adalah 2 manusia yang punya sifat yang sangat bertolak belakang. Ibu yang ceria, tak kenal kata lelah, supel, easy going, lembut namun tegas tampak seperti Laras untukku. Sedang Ayah, seorang yang punya dedikasi tinggi pada pekerjaan, tidak ngoyo, punya dunia sendiri, lembut dan tegas. Ibu dan Ayah bias berjalan beriringan sampai maut memisahkan. Cinta seperti itu yang ingin aku, sebagai Hanna miliki.

Aku ingin belajar menjadi Ibu dan laras tampak menguasai itu. Sekarang aku mencari sosok “ayah” tapi apa ada manusia yang sama seperti Ayahku???


Oke, I?ll find it but sebagai siapa?? Hanna?? Laras?? Sepertinya aku belum bisa menonjolkan sosok Hanna, diriku sendiri. Aku menjadikan Laras sebagai tamengku, tameng andalanku, untuk mencari cinta sejatiku. Aku menemukan media yang bagus untuk mencari „cinta? ku itu. Internet!.

Ya, Internet!

Mungin aku bisa mencarinya lewat friendster atau facebook yang sedang booming akhir – akhir ini. Untukku yang bekerja di sebuah business centre tampak mempermudah semuanya. Aku bias online 3 kai sehari untuk cek friendster dan facebook-ku dan tampaknya, aku tidak menemukan masalah.

Masalah timbul ketika partner kerjaku sekaligus kakak angkatku, Andi, memperkenalkan aku dengan game online. Mas Andi memperkenalkan aku dengan Idolstreet dan RF Online. Namun aku terkesima dengan idolstreet yang punya tampilan char selayaknya „barbie?, membuat aku terhubung dengan Laras dan mengabaikan RF Online.

Di Idolstreet, awal pergaulan aku sebagai Laras dimulai. Di situ akubersahabat dengan Satria. Satria buatku sahabat selain Kintan walaupun Kintan tetap nomor wahid di hidupku. Satria membuka pintuku sebagai Laras ke pergaulannya. Sejak itu, charku yang bernama sama denganku pun mulai dikenal orang.

Sampai aku bertemu Yudha. Yudha adalah sahabat sekaligus kakak angkat Satria. Yudha yang kutahu adalah lajang, punya gamecenter mungil, baik, perhatian dan penyayang. Sejak itu aku akrab dengan Yudha, dia menjadi “couple” ku di Idolstreet. Sampai suatu ketika kebenaran terbuka. Aku sebagai Laras selalu bilang selalu bilang kalau aku bekerja di luar negeri tapi teman bermain idolstreetku tidak bias bohong dan menyembunyikan keberadaanku. Sampai terkuaklah dimana aku berada dan Yudha pun berubah.

Saat itu aku benar – benar kalut dan ingin mengetahui kebenaran dibalik sikap Yudha yang berubah. Aku dan temanku nekat dating ke tepat Yudha dan
taraaaaa….Yudha ternyata buan Yudha yang ada di profil friendster-nya selama ini. Yudha adalah kakak dari laki – laki yang fotonya terpampang di friendster yang selama ini kulihat.

Motif si kakak yang memang bernama Yudha adalah ingin menjodohkan adiknya yang bernama Rian denganku. Saat itu, harapanku untuk dapatkan cinta buyar. Seolah – olah memang dunia sedang memperolok – olok Hanna dan Laras bersamaan, tidak ada yang sejati tampaknya, tulus pun tidak. Setelah aku tahu semuanya, aku sebagai Hanna hanya bias berlapang dada walaupun aku sebagai Laras merasa tidak terima. Jujur, aku terlanjur saying pada sosok Rian yang ternyata bersifat Yudha.

Enta mengapa, hati ini bilang kalau perjalanan cintaku baru akan dimulai. Sepertinya, Kintan pun mengatakan hal yang sama, tapi mana mungkin. Yudha sudah beristri dan mempunyai 1 orang anak laki – laki bernama Alief. Aku bukan tipe perusak rumah tangga orang jika sebagai Hanna tapi Laras pun akan berpikiran sama, no no no thanks.

Tapi kenapa hatiku sebagai Hanna dan Laras berkata bahwa perjalanan cintaku baru akan dimulai?? Dengan Rian?? Tampaknya tidak. Lalu dengan siapa?? Apa ada laki – laki lain selain Yudha?? Kalau memang ada, kuharap ini yang terakhir untuk Laras dan Hanna, tapi siapa??

Kegundahanku akankah seperti ini selama hidupku?? Apakah benar kerapuhanku ini dapat membuat hidupku lebih baik??

Perkenalkan, namaku Hanna, Hanna Vieanka Maryam.

Hari itu terlalu banyak yang terjadi di hidupku. Setelah kejadian Yudha dan Rian, Aku sebagai Laras dan Hanna seolah enggan untuk mencari apa yang menjadi tujuan utama selama ini. Seolah, mencari 'cinta' melalui media internet memang salah. Sepulang dari kantor, tak pelak, aku mencari Kintan. Aku ingin menumpahkan segala kekesalan di hati hari itu.


Aku menemukan Kintan di atas meja belajar di kamar kostku. Kubuka lembar demi lembar mencari bagian yang kosong untuk kuisi tentang hariku hari itu. Lambat namun pasti, lembar yang kosong itu mulai terisi dengan bagaimana lelahnya aku, kegundahanku sebagai Hanna. Laras?? Laras tampaknya tak ambil bagian untuk hari itu.

Setelah lelah menceritakan semuanya, aku merasa belum saatnya untuk meninggalkan malam, jadi kuputuskan untuk bermain game online 1 atau 2 jam. Aku pergi ke sebuah gamecenter dekat kost dan begitu sampai, rasanya sejam atau 2 jam kurang cukup untukku. Aku memutuskan untuk mengambil paket malam. Jadilah aku main 12 jam hari itu. Aku memutuskan untuk main Idolstreet.

Aku membuka billing komputer yang akan kumainkan malam itu, men - double klik icon Idolstreet dan menunggu loading untuk masuk ke game tersebut selesai. Id login kumasukan, password dan kurang dari 1 menit aku sudah berada dalam game tersebut. Belum selangkah char-ku jalan, sudah ada whisp dr Yudha.

"Ras, Aku mau bicara", tulis Yudha saat itu.

"Oke.....mau bicara dimana Mas?", jawabku

"Di Titanic aja. Kamu bikin room aja pake namamu Ras, ya?" balas Yudha.

"Oke", ketikku di layar chat...

Tanpa banyak pikir, aku menyewa room di Titanic yang kuberi nama Laras dan langsung kukabari Yudha untuk masuk ke room tersebut sambil memberitahukan password-nya. Tak perlu begitu lama menunggu Yudha. Dia tiba di room Titanic secepat kilat.

"Ras, sini!", panggil Yudha agar aku mendekati char-nya

"kenapa Mas?", jawabku setelah charku berhadapan dengan char-nya

"Ras, aku mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Maaf, bukan maksudnya membohongi kamu. Tapi jujur, itu memang alasan kenapa aku mendekatimu", jelas Yudha.

"Sudahlah Mas, ga usah dipikirkan. Yang sudah terjadi terjadilah. Itu memang sudah nasibku. Lagipula, ini dunia maya, semua orang berhak melakukan apapun yang mereka suka, termasuk Mas Yudha", jawabku

"Bukan Ras, Bukan itu. Memang benar yang kamu bicarakan. Tapi bukan itu yang mau aku bicarakan sekarang", jawabnya

"Lalu apa???", jawabku sambil keheranan.

Agak lama aku menunggu Yudha menuliskan sesuatu di layar chat.

"Aku mau bicara kalau sebenarnya apa yang sudah kulakukan terhadapmu kemarin sudah mempengaruhi hidupku", tulis Yudha tak lama kemudian.

"Maksudnya???", jawabku segera.

"Ya, Aku jadi benar - benar sayang dan jatuh cinta sama kamu, Ras. Waktu kamu ke tempatku kemarin, ingin mengetahui semua kebenarannya, aku hanya bisa terdiam karena sebenarnya aku sayang sama kamu.", jelas Yudha

"hhhhaaaaaahhhh????!!", aku kaget.

"Maaf....", jawab Yudha.

"Tapi Mas, kamu kan sudah beristri, punya 1 anak yang masih kecil. Aku ga mau merusak rumah tanggamu", jawabku.

"Tapi aku nggak sayang istriku", tukas Yudha.

"Sayang atau ga sayang, itu bukan urusanku. Mas Yudha harus bertanggungjawab atas apapun yang udah Mas Yudha lakukan dan ucapkan", jawabku.

"Tapi aku benar - benar sayang sama kamu, Ras", tulis Yudha.

"Tapi Mas,......", aku kehabisan kata - kata.

"Ras, plizzzz.....kasih aku kesempatan!!", tulis Yudha.

"Haaaahhh....Laras ga tau. Dah, Laras Off!", jawabku bergegas.

Belum sempat Yudha membalas tulisanku, aku keburu menekan Alt + F4 di keyboardku dan aku tidak menyelesaikan paketku malam itu.

Aku berjalan gontai keluar dari gamecenter itu dan sesampainya aku di kost, aku hanya bisa merebahkan kepalaku di bantal. Aku berpikir, Apa yang kucari??? apa ini yang kucari ???? Tapi Yudha sudah beristri.

Hanna berpikir, ternyata Laras begitu bodoh. Dibalik Laras yang sempurna, tersimpan kegundahan yang sama dengan Hanna. Hanna yang selalu gundah karena tidak ada pria yang akan memandangnya seperti seorang pria memandang Laras. Laras yang selalu gundah karena tampaknya selalu menemukan kegagalan dalam setiap langkahnya.

Ingin rasanya aku sebagai Hanna mengubur jauh2 sosok Laras dan berusaha menjadi diriku yang sesungguhnya. Tapi aku belum siap mengetahui kalau dunia ini terlalu besar untuk seorang Hanna.
Aku menutup hari itu dengan setengah hati dan hanya bisa berkata, "JUST BACK OFF"....or SURRENDER ???


Keesokan paginya, aku terbangun seperti biasa. Hanya ada 1 yang mengganjal dihatiku. Apa yang ingin aku lakukan hari ini???

Aku sebagai Hanna ingin melewati hari itu dengan bekerja seperti biasa, tapi aku sebagai Laras ingin melewati hari itu dengan menangis. Laras sedang gundah, gundah karena cinta. Kenapa aku harus kenal dengan Yudha??

Aku terbangun dr tempat tidurku, bersiap - siap untuk berangkat ke kantor seperti biasa. setelah semuanya siap, aku bergegas keluar kost dan memberhentikan angkutan umum apapun yang lewat. jarak tempuh kantorku dan kost hanya 300mtr, jadi dalam tempo 15 menit, sudah pasti sampai.

Sesampainya di kantor, aku sudah disambut tampang bantalnya Mas Andi dan ajakan setannya...

"Han, RF yuk nanti pulang kerja??? yuk haaann!!", ajak Mas Andi.

"Ogah....lagi ga napsu main game ahhh.", jawabku sambil slonong girl ke arah meja administrasi.

"Pliss Hannaaa....ya ya?? Hanna mau apa Mas beliin deh!", rayu Mas Andi.

"Bener ya Mas???", semaanggaatt dunk kalo ada iming - imingnya.

"Bener..apa ajah buat Hanna asal temenin gwe main RF", jawab Mas Andi.

"Hanna minta dibayarin makan Mie Kremes nanti, deal??", hehehehe

"Deal...!!!, thank you adikku manis", jawab Mas Andi.

Ya, aku sebagai Hanna akan selalu jadi adik yang paling manis untuk Mas Andi. Hanya partner - partner kerjaku yang menganggapku sebagai Hanna yang manis.

Mas Andi pernah marah padaku tentang Laras.

"Han, Laras itu ga perlu ada. Laras itu sama seperti Hanna. Menutupi sesuatu yang tak perlu ditutupi. Manusia tidak ada yang sempurna. Bagiku, tidak ada yang salah dengan Hanna. Kamu manis, baik, cerdas, supel, apa yang harus kamu takuti??? Anak - anak juga ga pernah keberatan dengan sifatmu. Kamu hanya perlu mencintai dirimu sendiri, ngerti Han??"

Mas Eko, Supervisor-ku juga pernah marah ttg hal yang sama.

"Hanna yang ini dah cukup buatku kalau aku laki - laki single. Sayangnya aku sudah menikah dan ga ada adik laki - lakiku yang masih single. Kalo ada, sudah kulamar kamu buat dia. Laras buang aja ke laut. Laki - laki mana yang mau lepas wanita seperti kamu, Han??? kalau dia lepas kamu, berarti dia manusia paling bodoh"

Semua perkataan itu selalu terngiang - ngiang di telingaku setiap hari. Tapi terkadang egoku bermain disini. Laras juga berhak untuk mengetahui bagaimana jalannya nanti. Sedangkan Hanna hanya bisa menunggu ketidakpastian, akan sampai mana Laras memakan hidupnya.

Aku menghampiri komputerku dan mengaktifkan Yahoo Messenger ku. Tak lama aku OL, datang PM dr sahabatku, Dewi. Begitu kulihat daftar teman - temanku, tertera nama Yudha disitu. Dia OL.

"Han, lo dimana?", Tulis Dewi singkat.

"Dikantor, kenapa dew?", balasku.

"Ini gwe lagi YMan sama Mas Yudha. Parah.", balas Dewi

Kenapa parah??? kebetulan Dewi juga main Idolstreet dan dia kenal dengan Yudha.


"Parah kenapa???", jawabku keheranan.

"Mas Yudha nekat niy.", makin bingung aku dengan jawaban Dewi.

"Nekat kenapa?", tanyaku.

"Sebelumnya gwe mau tanya ma lo. Lo sayang ga sama Mas Yudha?", tulis Dewi

"hmm..gwe sayang dia kalau dia single, bukan triple kayak sekarang", jawabku.

"bentar", balas Dewi

Agak lama aku menunggu balasan dari Dewi. Dalam hati banyak pertanyaan. Belum hilang rasa gundahku atas apa yang terjadi kemarin. Memang semua salahku melangkah. Menjalani semuanya kayaknya ga mungkin. Saat harus kusudahi semua, banyak banget hambatannya.

"Han, Mas Yudha nekat mau ceraiin istrinya. Dia lebih pilih lo. Gila!", PM dari Dewi tiba - tiba.

"Haaaaahhhhh??!! bilang ga boleh...", jawabku segera.

"Dia bener - bener cinta mati sama kamu, Han", jawab Dewi tak lama.

"Oke. Tapi aku tetep ga bisa sama dia, dew. Lo paham kan??", balasku

"Ya..ya...Idolstreet bawa semuanya ke kehidupan nyata ya, Han. Gwe ga tau kalo semuanya jadi begini.", jelas Dewi.

"Iyh. Seandainya dia single, gwe mau jalanin hidup sama dia tapi kenyataannya ga bisa kan??", balasku.


"Iya. Gwe juga setuju lo sama dia klo dia belum punya istri. Mas Yudha baik kok.", balas Dewi.
"Iyah", jawabku singkat.

Setelah percakapan itu, hatiku sebagai Hanna bicara pada Laras.

"Apa ini yang lo mau, Ras??? Mau sampe kapan lo siksa hidup gwe, Ras??"

Tapi Laras diam saja.

Hari itu semua pekerjaanku kuselesaikan tanpa hambatan yang berarti. Selepas kerja, Mas Andi sudah menyeretku ke depan kompi gamecenter yang ada, kebetulan di lantai atas tempat kerjaku. ( tempatku provide Gamecenter juga soalnya - red )

Selesai memasukkan Akses Billing Pegawai ke kompi tersebut, aku men - double click icon RF Online sesuai janjiku ke Mas Andi. Jadilah aku seorang pemain RF terhitung hari itu. Mas Andi menyuruhku membuat sebuah Char Accretia dan sejak hari itu juga, aku menjadi seorang Accretia Comet ( Comet nama Server tempat aku bermain ).

Aku memilih menjadi Warrior. Nama charku VieANKaCHu.

Dengan sabar Mas Andi membimbingku dan aku tertantang dengan RF Online. Ternyata, di RF Online aku menemukan Satria, Sahabatku di Idolstreet.

"Ras, maen RF Juga??", tanya Satria.

"Kok lo tau ini gwe, Sat??", tanyaku kembali.

"Orang tanya, balik nanya. Tau lah, Lo kan ga kreatif. Nama Vieanka cuma 1 biji di dunia pergame online-an. Cuma lo doang", jawab Satria.


"wkwkwkwkwkw....iya yah?? gimana kabar, Sat??", tanya ku.

"Baik. Bentar ya, panggil anak - anak dulu. Ada Laras ya kudu dikabar - kabari", jawab Satria.

"Anak - anak?? siapa??", tanyaku.

"Semuanya juga ada. Lo masuk Guild kita aja ya, Ras. Bentar, Panca ketuanya, dia lg OTW", jawab Satria.

wedew...ternyata dunia kecil juga. Semua temen - temen Idolstreetku ternyata maen RF Online juga, Accretia juga dan Comet juga.

"LARAAAASSSS!!"........

Aku terpaku dengan tulisan Hijau di layar ***u. bingung gimana bikin warna yang sama, aku tanya Mas Andi.

"Mas, ini jawabnya gimana?? kok Hijau sendiri yang lain kan abu" warnanya", tanyaku ke Mas Andi yang sedang asiik di sebelahku.

Akhirnya dia ajarin gimana cara balesnya. Itu ternyata whisp dari char yang namanya Nca.

"Ini Panca ya??", balasku.

"Iyah. Masuk Guild Ras", ajak Panca.

Aku menekan tombol yang ada di pojok kanan bawah layar monitorku. Detik itu aku jadi anggota Guild S.C.O.R.P.I.ON.

"wew...makasih ya nca. siapa aja yang main di guild ini??", tanyaku.


"semuanya juga ada. Mas Yudha, Mas Rian, Satria, gwe, Jho, banyak", jawab Panca.

"waduhhh....oke deh.", jawabku. Walaupun di hati bingung, aku masuk ke dalam dunia apa lagi ini.

"Ras, Tahun Baru nanti dateng ke Bekasi ya??", ajak Panca.

"Mang ada acara apa??", tanyaku.

"Kita bakar2 ayam disini. oke??", jawab panca.

"Ya deh, Aku kesana..", jawabku.

"seepp...sini kubantuin GB", ajak Panca.

Ngerti ga ngerti, aku ikutin aja ajakan Panca.

Itu berjalan setiap hari. Idolstreet kulupakan. Aku jadi addicted ke RF Online.
Guild S.C.O.R.P.I.ONku sudah seperti keluarga buatku. Terkadang, aku maen RF Online bukan untuk GB atau Leveling, tapi cuma untuk bertemu teman - temanku, sahabat - sahabatku. Ternyata sejak aku addicted dengan RF, bukan cuma Laras yang masuk kedalamnya, Hanna pun ikut terbius pesona RF Online.

Entah berapa lama aku sudah bermain RF Online. Aku seperti bisa melepaskan semua beban - bebanku. Walaupun aku merasa seperti anak bawang di guildku, tapi aku bahagia. Kadang bisa menjadi Laras dan Hanna sekaligus di waktu yang sama.

Aku tak merasa bahwa RF Online yang akan membawaku ke dalam dunia yang sekarang sedang kujalani sendiri. Dunia dimana aku mengorbankan semua kehidupanku.


Tenyata semua baru saja dimulai...kehidupanku baru saja dimulai....

Haahhh......

Entah berapa lama aku terbius oleh RF Online sampai aku gak sadar akan penyakit lamaku yang bisa datang kapan saja. Sehari aku ga main RF Onlie, terasa ada yang hilang.
Aku mengidap Anti - Phospholipid Syndrom atau Sindrom Darah Kental sejak SMU.

Sindrom darah kental adalah penyakit autoimun yang menyebabkan darah menjadi kental. Antibodi antifosfolipid merupakan salah satu faktor risiko trombosis dimana darah di dalam tubuh cenderung kental dan mudah membeku sehingga dapat menyebabkan sumbatan di dalam pembuluh darah nadi (arteri) maupun pembuluh darah balik (vena). Keberadaan antibodi terhadap fosfolipid ini dapat diketahui melalui pemeriksaan antibodi dalam darah dengan mendeteksi adanya Antibody Anticardiolipin (ACA) dan Lupus Anticoagulan (LA). Adanya antibodi ini pada seseorang tidak serta merta atau tidak secara absolut menunjukkan bahwa akan terjadi pembekuan darah, namun kemungkinan terjadinya pembekuan darah akan lebih besar daripada orang lain. Banyak individu dengan antibodi ini tidak mengalami sumbatan pembuluh darah (trombosis), ada yang baru akan mengalami gejala akibat trombosis suatu saat kemudian, namun ada pula yang menunjukkan gejala sindrom darah kental ini di usia muda.

Akibat darah kental, pasokan darah yang membawa oksigen, zat-zat nutrisi, dan lain-lain ke organ dan jaringan di dalam tubuh dapat berkurang bahkan terhenti sama sekali, -tergantung pada tingkat keparahan kelainan tersebut-, sehingga menimbulkan gangguan pada berbagai organ di dalam tubuh. Gejala pada otak berupa sakit kepala atau migren berulang, vertigo, kejang, daya ingat menurun, bahkan strok yang tidak lazim pada usia 40-an. Gejala pada mata dapat menyebabkan penglihatan kabur hingga buta mendadak. Pada telinga dapat terjadi
pendengaran berkurang bahkan tuli mendadak. Gejala pada jantung dapat berupa serangan jantung. Organ lain seperti ginjal, hati, paru-paru juga dapat mengalami trombosis, demikian pula pada kulit dan vena dalam di lengan atau kaki.

Karena aku maen RF Online tak kenal waktu, malam itu jadi malam paling menyakitkan untukku dan awal pertemuanku dengan dia.

Malam itu aku sedang leveling di Lab. Bionik. Tiba2 darah segar keluar dari hidungku. Reflek aku langsung lari menuju kamar mandi untuk membersihkan semuanya. Darah yang keluar dari hidungku membuat aku kesakitan. Begitu kuanggap darahnya berenti, aku kembali ke meja komputerku dan menulis whisp ke Yudha yang malam itu sedang membantuku leveling untuk rehat sebentar. Aku memberitahukan Yudha apa yang terjadi, tapi dia tidak bisa berbuat apa - apa.

Merasakan kesakitan yang sangat membuatku tak konsen untuk melanjutkan leveling, jadi aku kembali ke markas accretia dan duduk disana sambil mengetikkan kata - kata dari lagu yang sedang kuputar di komputer server di chat guild. Tiba - tiba ada yang menuliskan sesuatu di chat guild.

"Ras, pliss deh..dah malam gini nyanyi - nyanyi, berisik tau!!"

Begitu kubaca, ternyata pengirimnya adalah N3Yo, salah satu anak guildku.

"Ya dah...muuv deh", balasku.

"Iyah niy, Bisa diem ga siy. Ganggu konsentrasi orang aja"

Aduhhh..ada lagi yang bilang kalau aku ganggu konsentrasinya main. Setelah kuteliti, bukan N3Yo yang mengirimkan tulisan itu, tetapi anak guild yang bernama Bho.

"Ya Ya....muuv deh kalo Laras ganggu konsentrasi lo", jawabku.


"Ya, lain kali diem aja klo ga lagi ngapa - ngapain. Dah malam, ngerti ga?", jawab Bho.

"Ya, ngerti....", balasku.

"Mba Ras, ngapain di markas??", N3Yo bertanya padaku.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku terlanjur sakit hati karena aku ga tau harus gimana caranya menghilangkan rasa sakit akibat mimisan tadi.

"Hoy, lo ga jawab yang N3Yo tanya?? Lo Hode ya??", tanya char yang bernama Bho itu.

"Sorry Bho, gwe ga tau lo siapa tapi yang jelas gwe bukan HODE dan N3Yo dah tau siapa gwe dibanding lo. Skrg gwe lagi kesakitan karena gwe baru aja mimisan dan kalo lo ga ngerti gimana rasanya, JUST BACK OFF....BOY!!", jawabku.

Tanpa tunggu panjang lebar dan menunggu balasannya, aku langsung keluar dari game tersebut dan bener - bener rehat sambil mengatur emosiku.

Setelah hampir 30 menit aku rehat dr RF Online, aku berusaha untuk login lagi. Setelah masuk, semua fungsi chat aku block, dari chat all, guild, whisp, sampai chat map. Aku murni bermain game itu sendiri, gak chat sama siapa pun, even Yudha.

setelah hampir se jam aku OL sendiri, iseng kubuka semua fungsi chat. Aku terkejut, teman - teman guildku sedang membicarakan aku.

GoLDIroN : Laras memang begitu, kalo diceng-in suka ga mau.. tapi kalo ngeceng-in orang demen....gitulah cewek...

Bho : Jadi char yang namanya VieANKaCHu itu bener" cewek ya??


N3Yo : Iyah. Kita kenal dia dah lama banget. Baru tau ya Bho???

Bho : ya iya lah....duuhh..ga enak gwe...ngerasa bersalah..

TheKin9 : udahlah. Kasian Laras....mana chat di block semua lagi...

Bho : iyah....

Aku ga tega. Memang hanya chat whisp yang ga aku buka. Setelah dipikir - pikir, aku membuka chat whisp. Tak berapa lama, Bho whisp aku.

"Ras, maav ya..aku ngaku salah", aku Bho

"Ga papa kok. Aku mang dah biasa diginiin. Aku kan badutnya Scorpie", jawabku "Bukan kok. Kamu bukan badutnya Scorpie", balas Bho.

"Hehehe...menurut kamu bukan, menurutku iya. Udahlah.", jawabku

"Mang tadi kamu kenapa?", tanya Bho

"Ga kok, cuma mimisan aja. Ga usah dipikirin", jawabku

"haaahhh??!! Yudha tau??", tanya dia lagi.

"Ya, dia tau. Udahlah", jawabku

"Kok malah diem aja..??", tanyanya.

"Bis mau gimana???", tanyaku.

"Kenapa ga datengin kamu?", tanyanya.


"Buat apa??? bikin repot orang aja.", jawabku

"Tapi kan kamu lagi sakit. Dia kan satu kota sama kamu masa ga bs dtg?", tanya bho lagi.

"Ya itu kan urusannya dya mau dateng atau ga.", jawabku

"Ya ampuuunnn...Maav ya", jawabnya.

"Ya, ga papa kok, Bho", jawabku

Setelah itu Bho terdiam. Aku melanjutkan permainanku kembali. Tak lama, dia whisp aku lagi.

"Ras, boleh minta no hapenya?", Tanya Bho.

"Ya, tapi buat apa?", tanyaku.

"Kalo ga boleh juga ga papa", jawabnya.

"boleh, ini 0818*****98", jawabku.

"oke...aku off ya. maavin aku ya Ras", pintanya.

"Iyah...berisik", jawabku

Ga lama memang dia off. Aku pun Off. Hidungku dan sakit kepalaku tidak bisa kompromi.

Sesampainya aku di kost, HPku berbunyi. Ku sama sekali ga mengenali nomornya.

"Ya, siapa ya", tanyaku heran.


"Ini Bho, gimana keadaannya Ras?", jawab yang disana.

"Begini lah....aku istirahat dulu ya, Bho. Besok aja diterusin ngobrolnya", balasku.

"Tapi bener istirahat ya, Ras", Tanyanya.

"Iyah...", jawabku.

"Ya dah, met istirahat, Beb", balasnya.

Aku langsung menutup HPku dan aku tersadar...Kalau ada yang aneh. Dia memanggilku "Beb".

Aku langsung merebahkan diriku di kasur dan enggan berpikir macam - macam, padahal, inilah awal semuanya terjadi. Aku cuma anak bawang, ga pantas diperlakukan spesial.

Setelah kejadian itu, Aku semakin dekat dengan sosok Aji a.k.a Bho.

Setiap hari kita ga pernah melewatkan hari tanpa sms dan OL RF online. Sampai suatu saat dya kirim sms yang bunyinya,

"Ras, sebaiknya kita jadi adik kakak aja ya???"

Dalam hati aku bertanya,

"Memang selama ini hubunganku dengan Bho apa??"

Aku mengirimkan sms kembali kepadanya, bertanya memang ada apa dan memang dya merasa hubungan ini hubungan apa?

Dya membalasnya dengan isi sms ini,


"Ras, jujur aku jadi sayang banget sama kamu. Aku ngerasa kamu dah kayak pacarku. Tapi aku ga enak sama Yudha. Aku ngerasa dah ambil kamu dari Yudha"

Aku terperangah membaca sms itu. Aku cuma bisa meneteskan air mata walaupun aku ga tahu kenapa airmata itu keluar. Tak berapa lama, Bho menelponku.

"Ya?", jawabku ketika mengangkat telpon drnya.

"Ras, maafin aku. Aku ga sanggup ambil kamu dari Yudha", ujarnya

"Yudha???", tanyaku

"Iyah, Yudha. Aku tau kamu deket sama Yudha sebelum kenal aku. Aku juga tau perasaan Yudha sama kamu. Aku lebih baik mundur daripada ngerasa bersalah sama Yudha", jawabnya.

"Sekarang aku tanya, gimana perasaan kamu sama aku?", tanyaku sambil setengah terisak.

"Jujur, Aku sayang sama kamu Ras", jawabnya.
"Skrg aku jawab jujur sama kamu", ujarku.

"Jawab apa??", tanyanya.

"Aku mau jujur, kalo aku juga sayang sama km. Aku juga sayang sama Yudha. Tapi sayangku sama Yudha cm sebagai adik karena aku tahu kalau aku ga bs sama dya", jawabku.

"Kenapa ga bs??", tanya Bho.

"Yudha sudah beristri dan punya anak. Aku bukan perempuan yang suka merusak rumah tangga orang. Tapi aku juga ga bisa melarang orang untuk sayang aku", jawabku yang sudah menangis saat itu.

"Aku.....Ras....Aku....", ujarnya setengah terbata.

"Dari dulu aku selalu mencari cinta untuk hidupku sendiri. Tapi semuanya pergi. Orang - orang yang aku sayang pergi, aku sendiri. Atau aku memang harus sendiri ji??", tanyaku dengan tangisku.

"Ga.....ga.....aduuuhhh", jawabnya.

Sebelum sempat dya berbicara, aku sudah menutup flip HPku yang otomatis memutuskan pembicaraanku dengan Bho. Aku menangis sejadi - jadinya. Semua seperti flashback untukku.

Ketika Ayahku pergi meninggalkan dunia ini, aku belum mengerti apa arti kehilangan. Yang kuingat hanya senyumnya, tegasnya, kebaikannya, amarahnya dan semua yang pernah aku rasa adalah suka.

Ketika kakak perempuanku yang paling tua meninggal, aku hanya bisa terdiam. Mengenang dya sebagai kakak yang paling mengerti aku. Aku hanya bisa melihat ke-4 anak - anaknya yang masih kecil dan butuh perhatian seorang Ibu. Ketika itu, aku hanya bs telpon semua teman2ku dan melampiaskan kesedihanku.

Ketika Ibuku meninggal, aku sudah mengerti semua. Ketika itu, penyakit Anti - Phospholipid-ku sedang parah - parahnya. Ibu yang selalu mendukungku agar aku bisa survive dan semangat sekolah untuk mengejar beasiswa serta lulus SMU dengan nilai yang baik. Aku yang terancam pergi dari dunia kala itu. Aku sudah memikirkan bahwa aku yang akan mengisi tempat kosong disamping makam kakakku. Tapi ternyata, Ibuku pergi meninggalkan aku. Rasanya hatiku hampa. Bener2 ga bs apa2..

Ini yang aku rasa sekarang, HAMPA....


Tak berapa lama, HPku kembali berbunyi....kubuka flip HPku dan aku melihat nama Bho di layar HPku. kuangkat...

"Ya....", jawabku.

"Beb, maafin aku. Aku ga bisa boong kalo aku bener - bener sayang sama kamu", ujarnya.

"Ya...", jawabku.

"Aku.....bener - bener sayang kamu", ujarnya lagi.

"Ya.....", jawabku.

"Kenapa kamu cuma jawab 'ya ya ya' dari tadi??", tanyanya.

"Aku tau kalau aku tidak pantas diperjuangkan, ji. Jadi jangan paksa diri kamu untuk sayang dan berjuang untukku", jawabku.

"Kenapa??? aku sekarang mau berjuang untuk kamu Ras, apapun", ujarnya.

"Jangan....nanti kamu menyesal", jawabku.

"Ga, aku ga perduli siapa kamu, ada apa denganmu, aku sayang kamu", jawabnya.

"andaikan dya tau Laras itu siapa...", hatiku berbicara.

"Terserah kamu, ji", jawabku.

"Aku mau kamu jadi pacarku. Aku mau kamu jadi istriku, aku mau kamu jadi bagian hidupku, aku mau kamu jadi jodohku", ujarnya.

"ga salah??? aku ga pantes, ji", jawabku sambil kembali terisak.


"Udah, aku ga perduli kamu mau ngomong apa. Aku tetep mau kamu jadi pacarku mulai detik ini, ngerti??", ujarnya.

"Ya......", aku kembali menangis ketika mengucapkan kata - kata itu.

Setelah pembicaraan itu, aku dan Bho sepakat untuk main RF Online. Dia pakai char Bho dan aku pakai char Cora-ku. Kita berjanji bertemu di Istana Haram. Aku menunggunya lama kemudian muncullah sosok Bho dibelakangku, Besar. Dia minta kepadaku untuk mengambil foto kami berdua. Aku menyimpannya dengan hati2.

Hati itu aku merasa bingung sekaligus bahagia. Bingung karena apa aku harus membuka diriku sebagai Hanna atau tetap sebagai Laras. Bahagia karena aku mempunyai teman berbagi sekarang.

Ini adalah awal dari apa yang harus kujalani sekarang. Hitamku berawal dari kehadiran cinta ini........cinta yang sebenarnya harus kubunuh, tapi aku tak sanggup. Dilema....

Setelah hari itu, kehidupanku sebagai Hanna dan Laras berubah. Setiap pagi selalu ada yang menelponku untuk membangunkanku dan mengucapkan kata - kata "Luv U Beb" setiap hari.

Rutinitasku berubah. Hpku yang awalnya Gagu a.k.a Ga Guna, mendadak berubah kayak HPnya selebritis yang sedang kejar setoran. Dering Hp baik telpon masuk atau sms ga berenti2 dan itu berasal dari orang dan nomor yang sama yaitu Bho.
Setiap hari aku harus melaporkan ke Bho, memakai baju apa aaku ke kantor....huuffff....karena waktu dya telponku di jalan, dya dengar ada yg godain aku. huffff....

Rutinitas hibernasiku juga berubah, dari biasa tidur mlm jadi tidur pagi.
huuufff...masa - masa indah buatku sekarang yang hanya bisa mengingatnya.


Sampai suatu waktu dia menelponku disaat jam istirahat kantor. Kala itu Mas Andi yang angkat telponku, aku ga tau dya ngomong apa tapi yang jelas tiba - tiba Mas andi memberikan telpon itu padaku...

"Niy, cowok lo...", sambil memberikan hpku.

"Weeehhh...kenapa?", tanyaku

"Ngomong aja sama dya, oke?", sambil tersenyum simpul.

"Penasaran, kalo dah senyum - senyum setan gitu, biasanya ada yg aneh", pikirku dalam hati

"Haloo..."

"Iyh beb...", jawabnya.

"ngomong apa sama Mas Andi tadi?", tanyaku.

"Ga, ga ngomong apa2. kalau pun ngomong, rahasia atuh cinta", jawabnya.

"kok rahasia - rahasiaan?", tanyaku.

"Iyah, ini obrolan laki - laki, perempuan ga boleh tau", jawabnya.

Obrolan ini berlangsung sampai aku pulang ke kost. Tapi sesampainya di kost, obrolan pun semakin serius, ga ada lagi bercanda - bercanda.

"Ras, kamu kerja di Samarinda aja. Disini juga banyak kok lowongan. sekalian aku bs jagain kamu", ajak Bho.

"wew...masa???", tanyaku.


Singkat cerita, malam itu aku memutuskan untuk mencari kesempatan kerja di Samarinda. Tapi ternyata ini menjadi awal perpecahan aku dengan Mas Andi dan teman - temanku. Mereka ga setuju aku pergi kesana. Tapi akal sehatku ga bs berpikir jernih. Hari itu bagai neraka di kantorku, semua orang cuek padaku. Tapi entah kenapa, aku seolah - olah tidak memperdulikan mereka.

Kejadian hari itu tidak merubah keputusanku. Aku tetap akan berangkat ke Samarinda walaupun aku belum memutuskan kapan.

Dalam hati berpikir, "ini baru anak - anak kantor, apa jadinya kalo anak - anak guild tau???"......

Setelah hari itu, tiada hari tanpa sms atau telpon. Frekuensi Bho menelponku jadi lebih sering dari biasanya ketika tahu bahwa aku akan pergi ke Samarinda. Teman - teman kantorku sudah tidak bisa membantahku atau berusaha meyakinkanku untuk tidak berangkat ke Samarinda. Mas Andi mulai jarang bicara padaku, begitu juga yang lain...dan saat itu, semakin membuatku yakin kalau memang aku harus ke Samarinda...

Jadi hari itu aku putuskan untuk memberitahukan ke Mas Eko sebagai Supervisor ku bahwa aku positive ke Samarinda...Aku pergi ke kantor seperti biasa, Mas Andi sudah stand by lebih dulu dari aku. Aku langsung menyapanya dan menanyakan Mas Eko sudah datang atau belum.

"Mas Andi, Mas Eko dah dateng lom?", tanyaku

"Lom, kenapa lo nyari Eko, Han?", jawabnya

"hmm..Hanna mau resign akhir bulan ini ( Januari )", jawabku

"hah??? lo dah dapet kerjaan baru? dimana?", tanya Mas Andi

"Hanna jadi berangkat ke Samarinda, Tgl. 3 Februari besok", jawabku

Aku langsung melihat perubahan yang terjadi di raut muka Mas Andi. Dia langsung berdiri dari kursinya dan menghampiriku.

"Lo mau kesana? Ngapain?? ngejar si Bho itu?", tanyanya..

"Ga, Hanna mau cari suasana baru. Hanna bosen di jakarta juga sekalian biar deket dya", jawabku.

"Lo gilaaaaa...lo bener2 gilaaaa", jawabnya.

Hari itu benar2 hari yang memuakkan buatku. Bener - bener bete setengah gila karena semua teman - teman kantorku ga sepaham denganku.

Sejak saat itu, Mas Andi sering membuka HPku, membalas semua sms dr Bho dan itu dengan sepengetahuanku. Biar dia tau kalau memang Bho bukan laki - laki ga bener. Saat itu mataku benar - benar tertutup dengan semua pesonanya.

Waktu berjalan cepat sampai tiba saatnya aku berangkat. Aku ingat hari itu tanggal 1 Februari. Malam itu aku bermain RF dengan Bho. GoLdIron a.k.a Jho tiba2 whisp aku.

"ras, mau kemana?", tanyanya.

"Mau Opp....mau istirahat", jawabku.

"tumben...", ujarnya

"Huuh....oiya, Jho, aku pamitan ya", ujarku

"Mau kemana? Opp aja pake pamit", jawabnya

"Ga Lusa aku mau ke Samarinda", jawabku.

"Apa???...ga ga....Lo ga boleh kemana2", Jawabnya.

"Kenapa?", tanyaku

"Pokoknya lo ga boleh kemana2..Bho Anak samarinda, Lo jadian ya ma dya? jangan bilang iyah", jawabnya.

"Iyh, Ras jadian sama bho", jawabku

"AN***NK....sumpah...", ujarnya.

Tiba - tiba charnya Offline sampai tidak berapa lama, TheKin9 a.k.a Yudha whisp aku...

"Ras.....lagi dimana?", tanyanya..

"Dimana? di Sette...kenapa?", tanyaku

"Bisa ke Markas ga? aku pengen ngomong", Yudha tulis itu seakan - akan ada masalah penting yang harus diutarakan.

"Ya...ras kesana", jawabku.

Setelah melewati beberapa menit, char Vieankachu - ku tiba di Markas. Aku sempat berkeliling Markas cuma sekedar ingin tahu, ada siapa saja disana.

"ras, dimana?", Yudha whisp aku lagi.

"Dimarkas...", jawabku

"tunggu disitu", suruhnya...

"ya....", jawabku.

Tiba - tiba, bho whisp aku.....

"Beb, di Markas?? Ngapain?", tanyanya..

"Huuh....ga tau ini Yudha mau ngomong", jawabku

"Mau ngomong apa Yudha?", tanyanya.

"Ga tau...ini lagi nunggu....kenapa?", tanyaku

"Ga, ntar kasih tau ya dya ngomong apa aja", katanya.

"Iyh, beb....", jawabku.

Aku duduk di depan bank. sambil liat kiri kanan ada siapa aja. tiba - tiba Yudha dtg...duduk disebelahku.
"ras, kamu kenapa?", tanyanya.

"kenapa? ga kenapa2? mang kenapa?", tanyaku beruntun.

"Kok jarang OL lagi?", tanyanya.

"oooo.....males aja", jawabku

Belum sempat Yudha tulis sesuatu, aku langsung mengutarakan kalo aku mau pamit ke samarinda.

"Mas Yud, Ras Pamit...", ujarku.

"Pamit kemana? Opp? kok cuma bentar?", tanyanya.

"Ga, Lusa Ras mau ke Samarinda", Jawabku.

"HAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!...ngapain?", tanyanya.

"HHHmmmm....Ras mau cari suasana baru, sekalian cr kerja disana", jawabku.

"Eh, si Bho anak Samarinda juga kayaknya. Eh, jangan2 kamu?",..

"Kenapa mas ?", tanyaku..

"Kamu sama Bho ga jadian kan??", tanyanya.

"hmmm...Ras jadian ma Bho, Mas", jawabku.

"HAAAAAAAAAAAAHH!!! Trus kmu mau ksana demi dya gitu?", tanya Yudha.

"Ga kok...", jawabku.

"Bentar - bentar.......Bentar....kamu disini aja. Tunggu", suruh Yudha.

Aku menunggu di markas sekian lama, lama banget..sekitar 20 menit sampe tiba - tiba Yudha whisp aku..

"Ras, Party..Party ma aku", suruhnya.

"Oke...", sambil ku tekan comment untuk party sama Yudha.

Aku kaget karena Bho sudah 1 party dengan Yudha.

"Ras, skrg pake chat party aja....aku mau ngomong ma kalian ber2", kata Yudha.

"Ngomong apa?", tanyaku.

Tiba - tiba chat party dari Yudha masuk ke layar monitorku...

"Ras, Bho, kalian jadian?", tanya Yudha..
"Iyh...kenapa? kan tadi lo dah tau dari gwe, kenapa lo tanya lagi, Yud", jawab Bho.

"Ga, gwe cuma mau pastiin aja. Kenapa lo bs jadian ma Laras?", tanya Yudha

"Ya karena gwe sayang ma dya. Lo sendiri kenapa? Tadi lo bilang Laras cinta sejati lo, kenapa lo ga berusaha rebut dya dari gwe?", tanya bho

Aku yang membaca semua itu cuma bisa terdiam. Aku ga bisa nulis apa - apa. Aku cuma bs tertegun di depan layar monitor komputerku...menunggu apa yg akan terjadi kemudian.

"Laras memang cinta sejati gwe tapi gwe ga bs rebut dya dari lo ataupun dari siapapun, karena gwe ga bisa", jawabnya.

"kenapa?", tanya Bho.

"Karena gwe dah beristri dan punya anak. Oke, memang gwe ga sayang sama istri gwe, gwe sayang sama Laras, cuma gwe punya anak yang bener - bener gwe sayang, bho. Gwe ga bs lepas tanggung jawab", jawab Yudha.

"Kalo mang Laras cinta sejati lo, Lo harusnya bisa milih dong mana yang terbaik buat lo", ujar Bho.

"Ya, gwe bisa milih kalo Laras lah yang terbaik buat gwe. Tapi lo liat posisi gwe, Gwe ga bs korbanin anak gwe, ngerti kan lo?", jawab Yudha.

"ya....trus mau lo apa?", tanya bho ke Yudha.


"Gwe mau lo jaga Laras. Jangan lepasin dya. Ngerti? Gwe restuin lo pacaran ma Laras", ujar Yudha.

"Thanks....doain gwe bisa membentuk keluarga yang baik nanti", jawab Bho.

"Gwe doain...Jaga dia di Samarinda buat gwe", ujar Yudha.

"Ya....", jawab Bho.

Malam itu, RFku berakhir dengan perasaan ga tentu. Belum lama aku Off dari RF, ada telpon masuk ke HPku. Kubaca di Layarnya...Jho.

"Ras, Ini Jho", kata suara yang kudengar di HPku.

"Ya...kenapa Jho?", tanyaku.

"Lo ga boleh pergi sama Bho. Lo ga Boleh ke Samarinda, Ga boleh!!", ujarnya.

"kenapa?", tanyaku.

"Lo dah kayak kakak buat gwe. Kalo mang lo mau ke Samarinda, suruh si Bho jemput lo ke Jakarta, bukan lo yg ke Samarinda Sendiri!!", jawabnya dengan nada tinggi.
"Ya, ga Bisa....PokokNya Ga Boleh!!", Ujarnya..

Malam itu secara bergilir, semua anak - anak Guildku menelponku. Mereka tidak mengijinkan aku untuk berangkat ke samarinda. Namun, tekadku sudah bulat kalau aku tetap pergi ke Samarinda.

Malam itu sepertinya semua amarah teman - temanku, ku anggap angin lalu. Lusa tetap aku berangkat ke Samarinda. Aku sepertinya sudah buta dengan cinta sehingga mengorbankan segalanya. Aku ga ada pikiran macam2 tentang Bho. Semuanya sepertinya indah....berwarna...

Andai aku tau semua akan berakhir Hitam, aku lebih pilih tetap disini....Andaikan aku bisa memutar kembali waktu...huuuffttt...

Samarinda kota yang Indah, dengan sejuta memori.......memori indah namun terlalu kelam untuk diingat......Samarinda itu......

Setelah malam gari dimana semua men-judge bahwa aku salah, aku mempersiapkan semuanya. Tak pakaian, Baju2, semuanya, sampai tiket yang sudah kupesan lewat Reservation Online. Kala itu, aku menggunakan Lion Air.

Aku sudah mempersiapkan semuanya, sampai hari itu tiba...

Pagi itu, aku sedah mendapat telpon dr Bho, yang kala itu tetap kerja walaupun aku mau datang, maklum PNS..

Hari itu aku naik penerbangan ke Balikpapan jam 15.20. Pagi itu aku siap2 sendirian. Tampaknya teman2 kantorku pun enggan untuk mengucapkan "Selamat Tinggal Untukku". Mungkin bagi mereka aku sudah terlalu menyakiti hati mereka kali ya.

Aku berangkat dr kost jam 10 pagi ke Pasar Minggu untuk naik DAMRI dari sana. Perjalanan ku tempuh tanpa ada hambatan. Aku sampai di Terminal Pasar Minggu dengan selamat. Naik bus DAMRI dengan selamat walaupun masih harus menunggu lama.

Di bus tersebut aku menelpon Bho, dengan provider yang sama dengan Bho, rasanya akan baik2 saja, pulsaku akan tahan sampe Samarinda. Kucari namanya di daftar hpku...kutekan dan kudengar nada sambungnya...

"hallo beb", sapa suara disebrang sana.


"Haloo...beb, aku dah di bis mau ke Bandara", jawabku.

"Wew, ati2 ya dijalan", ujarnya.

"ya...", jawabku.

"Ya udah, simpen pulsanya buat dijalan nanti", ingatnya.

"Oke...tha2", jawabku.
"eeh...mana Love Spell nya?", tanya Bho.

"oh iya, Luv you beb, Muuuaacchh", jawabku

"Luv You too, Muuaachhh", balasnya

Aku pun menutup flip hape ku. Ughhh..rasanya deg2an. Gimana ya? bakal ketemu sama seseorang yang memang dah masuk kedalam hidupku.

Bus pun mulai berjalan. Lambat namun pasti, bus yang sudah dipenuhi penumpang itu pun melaju.

Aku melihat pemandangan di luar jendelaku dan berpikir,

"Apa aku akan merindukan semua ini?? apa jalan yang kupilih sudah benar?? apa dya benar2 menyayangiku?? apa aku sanggup jauh dr suasana ini??" ?
tapi itu hanya pikiran selintas laluku. Aku tak memikirkan semua itu. Yang kupikirkan kala itu hanya, bisa ga seorang Hanna sampai ke Samarinda dengan selamat.

Sampai di bandara, aku langsung menuju loket Check in untuk dapetin Boarding
Pass....bayar Airport Taxes, langsung nunggu di Waiting Room...wkwkwkwkwkw....standart.

Pas nunggu, aku di temenin sama suara si Bpk. Bho yang menelponku.

Ga terasa, pukul 15.00 sudah tiba. Aku mulai mengirimkan sms ke semua teman2ku minta pamitan. ada yang bales, ada yg diem aja. gpp lah.

Jam 15.15 aku mulai memasuki pesawat, kuliat di boarding pass ku, kursiku nomor 5C...huufftt...

lama kutunggu, akhirnya pesawat itu jalan juga dan aku akhirnya meninggalkan Jakarta...Banyak bayangan sekelebat masuk di pikiranku, tapi tak kuperdulikan. Yang aku inginkan hanya sampai di Samarinda dengan selamat.

Pukul 18.30, aku sampai di Balikpapan. Turun di lapangan terbang a.k.a Bandara Sepinggan malam itu. Udaranya berangin alias Windy.....beeuuhh...rasanya, menusuk banget.

Aku langsung menelpon Bho saat itu, nada sambung terdengar..

"Hallo beb, dah dimana?", tanyanya.

"Masih di Jakarta", jawabku.

"Hah?????", jawabnya.

"Boong denk...dah di Sepinggan", jawabku sambil terkekeh.

"Pantes, suaranya jenih, deket", jawabnya.

"huuh", jawabku.


"ya dah, nanti dari situ kamu naik taxi aja ke Terminal Bus, bilang mau naik Bus yang ke Samarinda, ya?" jelas bho.

"Oke Oke beb...Luv You, Muuaacchhh", jawabku.

Perjalananku masih jauh teman..........Massssiiihhhhh jauh untuk sampai ke Samarinda dan menemukan bahwa semuanya akan menjadi hitam.

Andai aku taauuuu...

Setelah aku menutup Hpku, aku mulai mengikuti orang – orang yang berada di depanku karena jujur aku bingung. Bandara Sepinggan tidak seperti Bandara Soekarno – Hatta yang teratur. Aku akhirnya tahu kalau Bandara Sepinggan itu kecil, waktu itu hanya ada Pesawatku, Lion Air dan Batavia Air.

Aku mengikuti orang – orang di depanku sampai tiba di tempat pengambilan bagasi, deg – degan, takut bagasiku ilang. Setelah menunggu lama, akhirnya terlihatlah tas pakaianku, hitam dengan ciri khas pita orange di kantung depan tas tersebut. Kuhampiri, kuangkat..Huuufftt...berat walaupun isinya cuma pakaian aja. Aku menenteng tas pakaianku seorang diri, berjalan menuju pintu keluar dan begitu sampai di depan Bandara Sepinggan, sejauh mata memandang, hanya ada taxi.

“Pasti taxi nembak nih”, pikirku dalam hati.

Dan itu terbukti ketika kutanyakan berapa ongkos taxi dari Bandara ke Terminal Bus.

“Rp. 45.000 kak”, jawab supir taxi yang disambut tanda tanya buatku.

“Mungkin Terminal Bus itu jauh kali dari sini”, pikirku dalam hati.

Akhirnya, aku menaiki taxi tersebut dengan harga Rp. 45.000 yang kami
sepakati dari awal. Di dalam perjalanan, Si Supir bertanya,

“Mau ke Samarinda ya, Kak?”, tanyanya.

“Iyah, Kenapa memangnya? Masih ada kan Busnya?”, tanyaku lagi.

“Masih. Tapi kenapa ga naik taxi aja kesana sekalian?”, jawabnya.
“Duuhh, saya dijemput di terminal. Nanti ke Samarinda sama – sama temen saya”, alibiku. Soalnya serem juga kan jalan dari Balikpapan ke Samarinda. Kebetulan aku belum tau medannya seperti apa.

“Oooo.....”, jawab si supir taxi.

Sambil kuperhatikan jalan, Balikpapan termasuk kota yang bersih. Tak sempat ku berpikir macam – macam, tiba – tiba si supir bilang,

“Sudah sampai kak”, ujarnya.

“Haaaaahhhhh”, dalam hatiku.

Perasaan belum ada 15 menit naik taxi, kok dah sampai?? kalau di Jakarta, itungan taxi seharga Rp. 45.000 itu ya, kayak dari Grogol ke Cawang deh. Tapi karena aku malas berargumen, aku langsung keluar taxi dan celingak – celinguk.

“Ke Samarinda kak???”, terdengar suara di belakangku.

“Uugghh...iyah.”, jawabku setengah kaget.

“Kalau mau ke Samarinda jam segini, naiknya dari lampu merah disebelah sana kak”, sambil menunjukkan arah lampu merah tersebut.

“Ooo..trus saya naik apa ya kesana?”, tanyaku.

“Naik ojek aja kak, Rp. 5,000. saya antarkan”, ujarnya.

“Ooo..tukang ojek toh”, pikirku.

Tanpa pikir panjang, akhirnya aku setuju naik ojek ke lampu merah tersebut. Jaraknya lumayan jauh ya, tapi terobati karena Busnya masih ada. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera menaiki bus itu.

“Ke Samarinda kak?”, tanya kondektur itu.

“Iyah, ini bis ke Samarinda kan?”, tanyaku.

“Iyah. Untung masih sempat, ini bus terakhir kak”, jawabnya.

“Hmmm...beruntung berarti saya. Makasih Pak!”, jawabku.

“Sama – Sama”, jawabnya.

Kulihat kiri kanan, bangku masih sepi. Tiba – tiba teringat kalau aku belum makan dari Jakarta. Aku lihat melalui jendela, ada warung rokok yang masih buka. Beli roti yang Rp. 1000 an lumayan buat ganjel deh.

Aku turun dari bus dan membiarkan tas pakaianku di dalam bus. Aku membeli 1 buah donal coklat dan segelas aqua gelas. Setelah bayar, langsung naik ke bus ga pake lama. Begitu duduk di Bus, ternyata si supir mulai menyalakan mesin Bus.

“akhirnya jalan juga”, ujarku dalam hati sambil melihat jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul 19.00.

Tapi setelah kutunggu, kok gak jalan – jalan? Ternyata, cuma mau manasin mesin aja. Bus itu jalan pukul. 20.00 dari Balikpapan. Ketika bus itu jalan, aku menelpon Bho.


“Halo, beb. Dah dimana?”, tanyanya.

“Masih di Bus, baru jalan”, jawabku.

“Tapi masih ada kan Busnya?”, tanyanya.

“Masih lah. Kalo dah ga ada, aku naik bus apa sekarang? Bus setan ya?”, jawabku yang dibalas suara tawa Bho.

“Ya dah, simpen pulsanya buat nanti. Kalau sudah lewatin Jembatan Sungai Mahakam, telpon ya”, suruhnya.

“Oke”, jawabku.

Aku segera menutup hapeku dan mulai berpikir, perjalanan seperti apa yang akan aku lewati sekarang.

Sebisa mataku memandang, hanya ada warna hitam. Aku gak tau pemandangan apa yang sedang aku lewati. Yang kutahu, Bus itu melaju cepat seperti cara jalan KOPAJA atau Metro Mini di Jakarta. Agak sebel juga karena ga bisa liat apa – apa, tapi mau tidur juga ga bisa, takut kelewatan.

Akhirnya aku cuma bisa diem, berdoa semoga bener ini bus ke Samarinda.

1 jam......sudah lewat...tapi belum sampe2 juga...

2 jam.....sudah lewat, tapi bener2 belum sampe juga...

Hampir 3 jam, baru aku merasa sudah melewati beberapa pemukiman penduduk.
Tak berapa lama, aku melihat Jembatan Besar di depan sana

“Apa itu Jembatan Sungai Mahakam??”, tanyaku dalam hati.


Aku ga bisa mikir apa – apa, cuma aku langsung telpon Bho.

“Ya Beb, dah sampe mana?”, tanyanya.

“Kayaknya dah sampe Samarinda deh”, jawabku.

“Dah liat Jembatan Sungai Mahakam??”, tanyanya.

“Iyh, udah”, jawabku. Tau bener tau salah, nyaut aja 'udah'. Yang aku ingat cuma aku melewati pemukiman penduduk yang terbuat dari kayu disamping sungai itu.

“Ya dah, aku jemput di Terminal Bus deh. Ya?”, tanyanya.
“Oke, Ati2 dijalan ya Beb?”, ujarku.

“Siipp...Luv You beb”, jawabnya.

“Luv You too”, jawabku sambil menutup flip hpku.

Ketika aku melewati bagian daratan yang lebih tinggi dari Sungai Mahakam, Aku sempet mengambil gambar Jembatan tersebut.

Tak berapa lama, aku akan melewati Jembatan tersebut. Rasa di dada berkecamuk. Ini kali pertamaku pergi keluar Jakarta tanpa siapa pun. Ketika melewati Jembatan itu, dalam hati aku berteriak..

“WELCOME TO SAMARINDA, HANNA!!!!!”....

Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu, cuma aku bangga, aku bisa sampai Samarinda dengan usahaku sendiri. Dalam hati, Andai Ibuku masih hidup,, mungkin dia dah jantungan denger aku ke Samarinda sendiri.

Bus itu melaju ke arah tertentu yang seperti aku tau kalau itu mengarah ke
Terminal Bus Samarinda. Tak berapa lama memang aku sampai di Terminal Bus Samarinda. Begitu turun dari Bus, belasan tukang ojek menawarkan jasa untuk mengantarkan kami, penumpang bus tersebut ke alamat yang dituju masing – masing. Cuma untukku, itu tak perlu, karena aku dijemput Bho..
Tak berapa lama, hapeku berbunyi, ternyata Bho.

“Beb, dimana??”, tanyanya.

“Di Terminal”, jawabku.

“Aku dah didepan terminal. Kamu dimananya?”, tanyanya.

“Di dalam terminal, kenapa?”, tanyaku.

“Keluar...keluar sini dari terminal. Aku di pintu depan”, ujarnya.

“Oke”, jawabku.

Sambil kutenteng tas pakaianku yang makin lama kok makin berat ke pintu depan. Aku tak perduli dengan siulan para pria – pria di sepanjang jalan yang aku lewati. Sesampainya aku di pintu depan, Aku tidak menemukan sosok Bho sama sekali.

Tak lama, hpku berbunyi lagi. Kuhempaskan tas pakaianku dan kubuka flip hapeku, ternyata Bho.

“Beb, kamu dimana?”, tanyanya.

“Dah di pintu depan, kamu dimana?”, tanyaku.

“Aku dah dipintu depan. Kamu mang di pintu depannya dimana?”, tanyanya


“Ya di depan pintunya”, jawabku

“Apa kamu di pintu yang lain ya?”, tanyanya.

“Mang ada berapa pintu???” tanyaku agak2 panik.

“Ada 2, bentar2, aku ke pintu yang satu lagi, Tunggu situ, jangan kemana2”, ujarnya.

“Iyah”, jawabku sambil menutup hpku.

Lama aku menunggu sampai aku digodain bapak – bapak yang berenti disebelahku dengan motornya menawarkan ingin kemana. Jujur, serem. Tak berapa lama, datanglah motor yang menghampiriku. Begitu motor itu berhenti di depanku, sontak bapak – bapak yang menggodaku, pergi. Si Pengendara membuka tutup helmnya dan aku baru sadar kalo itu, Bho.

“wew beby, lucu amat berdiri disitu. Sini, ngapain diem disitu”, tanyanya.

Aku melangkah maju sambil manyun karena sebel, dari Balikpapan sampe Samarinda jauh, capek, yang jemput lelet. Begitu kuhampiri dya, begitu aku berdiri di sampingnya, aku langsung menghempaskan kembali tas pakaianku ke tanah, begitu kuhempaskan tas itu ke tanah, Bho langsung membuka helmnya dan memelukku. Rasanya, kangen itu bener – bener meledak. Bho memelukku erat.
Dia melepaskan pelukannya setelah mengecup keningku.

“Beby, capek?”, tanyanya.

“Iyah”, jawabku.

“Ya dah, kita cari hotel aja dl ya?”, ujarnya.

“Kok hotel?? mang km belum cariin kost buat aku, beb?”, tanyaku.


“Belum, ga sempet. Besok pagi aja ya?”, jawabnya.

“Ya dah, deh”, jawabku.

“Ini pake helmnya. Aku beli yang warnanya sama kayak helmku. Gpp kan?”, tanyanya.

“Ga papa”, jawabku.

Akhirnya aku memakai helm tersebut, menaiki motor Satria Fu – nya dan mengikuti kemana motor itu melaju. Aku gak tau apa yang ada dipikiran Bho dan aku juga mendadak ga bisa mikir apa – apa. Apa yang terjadi kemudian diluar perkiraanku.

Apa memang itu harus kulewati???......

Malam itu aku berkeliling Samarinda untuk cari hotel, ternyata dia juga belum cari hotel dr tadi keran sibuk maen RF. Dari satu hotel ke hotel lain. Akhirnya kita nemuin satu hotel yang lumayan lah klo buat tidur aja. Dia check in pake namanya. Gak lama kita dianterin ke kamar yang dah disewa dan hal pertama yang aku lakuin, lompat ke kasur karena bener – bener capek.

“Huuuuaaaahhh....”, teriakku sambil menjatuhkan diri di kasurnya.

“Eh, langsung tidur lagi. Capek banget ya Beb?”, tanya Bho.

“Iyah, capek. Kupikir Balikpapan – Samarinda tuh deket, taunya??”, jawabku.

“Jauh ya Beb?”, tanya Bho.

“Banget", Jawabku.


"Eh, sini – sini, bangun dulu”, ajaknya sambil menyuruhku bangun dari kasur.

“Kenapa???”, tanyaku heran sambil berusaha bangun dari tempat tidur.

“Sini.....”, jawabnya sambil langsung memelukku erat.

“Kangen banget sama Beby. Kangen banget”, ujarnya.

Lama dia memelukku, kemudian Bho mencium keningku dan memandang wajahku dari dekat.
“Beb, kamu lucu. Aku kangen banget sama kamu, beb. Kangen...”, ujarnya.

“Iyah....sama”, jawabku yang cuma bisa diam terpaku ga bisa ngomong apa – apa.

Kemudian Bho mencium bibirku, lama sekali. Aku rasanya bingung waktu dicium Bho seperti itu. Ada perasaan seperti terbang kemana gitu. Mungkin karena waktu itu aku terbuai cinta, cinta yang bisa membuatku lupa akan segalanya sampai aku bisa menyerahkan apa yang kupertahankan untuk laki – laki yang saat itu masih menyayangiku.

Ya, malam itu aku menyerahkan semuanya ke Bho. Idiot sekali perbuatanku saat itu kalau kupikir – pikir sekarang. Tapi, dia seolah – olah bisa meyakinkanku kalau dia akan selamanya untukku. Bisa menerima apa adanya aku. Terlalu picik pemikiranku saat itu.

Setelah semuanya terjadi, Aku dan Bho langsung tertidur sampai aku tak memikirkan apa yang telah terjadi.

Pagi harinya, aku terbangun oleh bunyi hapeku, ternyata teman SMU-ku, Pandu yang sms. Aku tak sempat membalasnya karena terpikir olehku apa yang sudah kulakukan dengan Bho semalam. Apa yang ada dipikiranku semalam??? Aku langsung membangunkan Bho. Kucium pipinya...dia terbangun.


“Pagi Beb.....”, sapanya sambil memelukku.

“Pagi juga....Enak bubunya??”, tanyaku.

“Enak, kayak ada yang jagain. Tenang”, ujarnya.

“Beb, enak bubunya?”, tanyanya.

“Iyah, enak”, jawabku.

“Hmmm....eh Beb, boleh minta sesuatu ga?”, tanyanya.

“Apa???”, tanyaku.

“Beb, kalo kurusan bagus deh. Kurusin dikit ya??”, pintanya.

“Ya......mang mau ngurusin badan kok”, ujarku.

Jujur, saat aku berangkat ke Samarinda, berat badanku Wow banget. Mungkin ada sekitar 77 – 78 Kg, padahal tinggi badanku cuma 162cm. ( aslinya sekarang jauh dr kata gemuk....kekurusan malah..)

“Aku pengen Beb paling ga perutnya rata, lengannya kecil, pahanya kecil. Bisa??”, tanyanya.

“Bisa.....”, jawabku

“Aku minta 3 bulan bisa? Deal??”, pintanya.

“Oke Deal”, jawabku.

“Oke. Sekarang Beb bubu aja lagi. Aku mau anter si bapak ke Klinik dl, nanti siang aku dateng lagi. Kita cari kost, oke?”, ujarnya.

“Oke....”, jawabku.

Setelah selesai mandi, Bho segera berangkat. Begitu Bho berangkat, aku ga bisa tidur. Aku bergegas mandi dan segera membersihkan tempat tidur dan aku melihat sesuatu disana....merah itu...

Aku melihatnya di atas sprei putih itu. Aku cuma bisa diam menatapnya dan berharap kalau apa yang sudah kulakukan itu akan baik – baik saja, walaupun aku meragukannya saat itu. Aku segera mengambil MP3 Playerku, kupasang headset – nya di telingaku menekan tombol On dan berusaha tenang. Aku mendengarkan semua lagu – lagunya dan merasakan rindu yang teramat dalam kepada semua teman – temanku di Jakarta. Kalau aku tidak pergi, kalau aku mengikuti saran teman – temanku, mungkin bercak merah itu tak mungkin terlihat oleh mataku.

Aku menangis dan tak sadar, aku tertidur.

Tok Tok Tok....

“Huuffttt....”.....

Aku terbangun oleh suara ketukan di pintu.

“Sebentar...”, jawabku.

Setelah kubuka, ternyata itu Bho...

“Enak bubunya???”, tanyanya.

“Iyah...”, jawabku. Sambil berusaha menenangkan diri seakan2 aku tidak menangis.


“Yuk, kita ke cari kost buat kamu. Beres – beresin bajunya”, ujar Bho.

“Iyah...”, jawabku sambil beranjak membereskan semua pakaianku.

Dalam hatiku saat itu berkata, “apa yang Bho rasakan ya??”....Cuma aku tidak memperdulikannya.

Setelah baju rapi, aku segera bersiap2 untuk berangkat. Tapi Bho kemudian memanggilku..

“Beb, cini..”, ajaknya.

“Kenapa ciy Beb?”, tanyaku.

“Pengen cium beby...”, ujarnya.

“Ugghh..dah mau berangkat pake minta cium2 segala”, jawabku.

“Masih kangen beb....kangen banget”, ujarnya.

Aku pun menghampirinya dan Bho segera memelukku dan mencium bibirku, lama. Sampai aku sulit bernapas. Aku gak tau harus gimana....meleleh.

Setelah ciuman mematikan itu, Aku dan Bho segera meninggalkan hotel dan bergegas ke kost baruku. Setelah lama duduk diatas motor, akhirnya sampai juga di kost tersebut. Agak jauh dan karena faktor roaming a.k.a ga ngerti jalan, bagiku, itu jauh. Letaknya di Jalan Gatot Soebroto ( kayak nama jalan di Jakarta yaa?? ).

Begitu masuk, aku langsung suka tempatnya. Kasurnya Spring Bed, dapet kipas angin, meja belajar, lemari tapi kamar mandi diluar dan itu kost bebas. Harganya Rp. 350.000. Wew, di Jakarta ga mungkin dapet segitu. Alhasil, aku segera
membayar kost tersebut dan membereskannya.Bho pulang ke rumahnya untuk
membawa apa saja barang – barang yang kubutuhkan. Dia bilang kalau dia akan datang besok siang. Memang, hari sudah malam waktu itu.

Setelah kubereskan semuanya, aku segera merebahkan diri di kasur baruku.

“What I've done, God??”, dalam hatiku berkata sambil menerawang langit – langit kamarku.

Aku ga tau apa yang terjadi besok. Yang terjadi terjadilah....Huuufftt...Akhirnya aku menutup hari itu dengan tangis dalam hati dan akhirnya aku tertidur.

The Real Story....had just begin.........

Pagi keesokkan harinya aku terbangun dikarenakan ada ketukan di pintu kamarku. Ku masih belum bisa beranjak dari kasurku karena kurasakan rasa lelah yang terlalu. Ketukan itu terdengar lagi bersama suara yang sangat ku kenal, Bho. Ku lihat layar Hpku, kaget, karena sudah jam 15.00 WIT,

“Haaaahhhh...siang amat!!!!”, pekikku dalam hati.

Langsung aku terduduk di kasurku dan berdiri, berlari – lari kecil kearah pintu kamar kostku, lalu kubuka pintunya, terlihatlah wajah Bho.

“Lama amat siy bukanya Beb??”, tanya Bho sambil berjalan masuk ke kamarku.

“Huuh, baru bangun aku Beb...muuv”, jawabku sambil manyun karena baru bener – bener bangun.

“Ya dah, ga papa. Enak bubunya?”, tanyanya sambil menghampiriku, membenahi rambutku yang berantakan.

“Enak, buktinya baru bangun jam 3 siang. Mantab”, jawabku.


“Hehehehe.....ini aku bawain banyak barang buat kamu. Buka yuk”, Jawabnya sambil memelukku dan mencium keningku.
Lalu dia membuka tas yang dia bawa lalu memperlihatkan semuanya padaku. Dia bawa piring, gelas, sendok, alat2 tulis, senter, gantungan baju, sampe kapur barus a.k.a kamper.

“Banyak amat Beb bawaannya???”, tanyaku.

“Huuh....kan Beb pasti butuh semuanya niy”, jawabnya.

“Ada yang kurang Beb.”, jawabku

“Apa???”, tanyanya.

“Anterin aku ke Swalayan ya. Mau beli pembalut. Dah tanggal – tanggal aku haid”, jawabku.

“Iyah..mau pergi sekarang? Mang Beb dah “dapet”??”, tanyanya.

“Kayaknya mau dapet, ini dah tanggal 5 Beb...”, jawabku.

“Oke oke....Yuk!”, ajaknya.

Kami pun pergi ke Swalayan terdekat. Berusaha bersikap tenang, karena jujur saat itu aku memang mengharapkan untuk segera haid. Apa yang sudah kulakukan membuat hatiku tak tenang tapi aku tak bisa apa – apa selain banyak berdoa.

Setelah kami pulang dari Swalayan, itu saatnya bagiku untuk mengenal lebih jauh. Setelah percakapan yang cukup lama sambil kami berbaring di tempat tidur, barulah aku sadar bahwa dia Pria Gemini yang egois. Dia tidak suka dipush, tidak suka dilarang – larang. Tapi sebenarnya dia seorang pria yang posesif terhadap pasangannya, terhadap aku. Dia melarangku dalam segala hal, yaitu :


1.Aku tidak boleh keluar kost kalau tidak perlu.
2.Aku tidak boleh main game online apapun.
3.Aku harus kabari semua aktivitasku tapi aku tidak perlu tahu apa yang dia lakukan.
4.Dia berhak lakukan apapun yang dia suka.
5.Dia berhak tentukan kemana aku pergi.
6.Dia berhak tahu pria mana yang dekat denganku apabila kami ternyata putus dan apabila pria tersebut tak cocok untukku ( menurutnya.. ), maka aku tidak boleh jadi / dekat denganku.
7.Aku tidak boleh bersikap manja dengannya.

Masih banyak lagi sepertinya larangan2 dari Bho selain dia juga mem – pushku harus langsing singset. Selama aku disana, jarang rasanya menyentuh yang namanya nasi. Aku ingat, keesokkan harinya dia bawa 3 botol aqua 1 literan dan 3 bungkus roti manis yang kecil – kecil dan itu adalah makananku setiap hari. Waktu itu aku haid tanggal 6 Februari siang. Rasanya, perut perih campur sakitnya nyeri haid dan tanpa Bho tahu, AP Syndrom ku mulai kambuh.

Berhari – hari aku hanya makan roti itu dan minum air itu. Terkadang kalau memang airnya dah habis, dia belum mengantarkan atau membelikanku air, aku harus minum air dari bak mandi. >.<

Tapi itu belum cukup menyadarkanku. Rasanya aku masih buta dengan cinta itu. Bho juga mulai jarang datang ke kost ku, jadwal datangnya tak tentu. Terkadang datang hanya tanya kabar, naik ke kasur dan tidur sampai batas kunjungan di kost ku habis, kemudian dia pulang ke GEIM ( nama Game Center tempat dia biasa main di Jalan Antasari – punya Zenith ), main sampai pagi, pulang ke rumah buat mandi, kerja, sore ke kostku, tidur disana, jam 11 mlm pulang ke Game Center buat RF-an trus pulang. Itulah siklus kehidupan seorang Bho. Waktu aku mau melamar kerja, dia memang mengantarku mem-print semua lamaran dan CV, membantu mem-fotocopy semua dokumenku. Tapi kalau aku mendapat panggilan, aku harus berangkat sendiri dengan berbekal sebuah peta kota Samarinda.

Karena aku ga tau trayek Angkutan Kota disana, akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki dari kost ke tempat tujuan. Memang, mayoritas semua penduduk Samarinda mengendarai motor, otomatis trayek angkutan kota cuma 3, Trayek A Mobil Biru, Trayek B Mobil Merah dan Trayek C Mobil Hijau. Aku lupa dari mana ke mana semua trayek itu, ga jelas soalnya.

Peta Samarinda itu sontak menjadi jimat kebanggaanku. Aku pernah jalan dari Jl. Gatot Soebroto, ke Jl. Agus Salim, trus Ke Jl. K.H. Khalid, Trus tembus Jl. Perintis Kemerdekaan, Nongol2 di Jl. Awang Long, jalan lagi ke Jl. Gajah Mada, lurus lewat Kantor Gubernur di sana, lewat Jl. RE Martadinata, ngaso dulu di pinggir Sungai Mahakam ( sambil mikir, “gila, jauh juga gwe jalan” ), trus jalan
lagi lewat Jl. P. Antasari, lurus lewat Jl. Soetomo, Kanan ke Jl. Soepomo, liat
Mal Lembuswana, motong lewat Jl. Camar, tembus2, GATOT
SOEBROTO...sampe kost-an. Agak bangga juga karena cuma berbekal Peta, aku sampe juga ke kost, modal nekat, kaki lumayan sakit. Tapi seneng.

Ya, itu yang kudapat di Samarinda, selain jagoan mati lampu, nomor 1 deh. Dari mulai ngomel sampe terbiasa. Makan cuma roti aja. Minum cuma air putih aja. Indah dunia. Apa kata dunia kalau aku ga mampu jalani semuanya???

Rasa sakit haid itu ga kerasa sampai akhirnya haidku selesai tanggal 10 Februari dan kejadian selanjutnya membuat hidupku dilema, harus sedih atau bahagia dengan keadaan yang sedang kuhadapi......

Let the story begin......


Semakin hari, jadwal kedatangan Bho ke kostku menjadi tidak bisa diprediksi. Terkadang dia juga tak datang alasannya banyak, tapi itu tak kupikirkan sama sekali.


Tapi entah, hari ini, 13 Februari, dia datang ke kostku, padahal hari masih sore. Dia datang dan langsung masuk ke kamar kostku yang kebetulan tak kukunci. Aku sedang mendengarkan MP3 Playerku saat dia masuk.

“Sore beby!!!”, sapanya.

“Huuummmm….”, balasku yang saat itu masih mendengarkan music melalui headset MP3ku.
“Matiin dulu dunk musiknya. Ga kangen ya???”, tanyanya.

Mendengar dia berkata seperti itu, aku langsung melepaskan headset MP3ku dan tersenyum.

“Lho, bukannya kamu beb yang ga kangen sama aku?”, jawabku sambil berdiri menghampiri kasurku.

“Kata siapa aku ga kangen kamu?”, jawabnya.

“Kata aku barusan Beb. Lagian ga ada kabar!!”, jawabku sambil manyun manja.

“Tuhh..jangan kayak anak kecil deh”, jawabnya.

Ya, itu yang selalu kudapat setiap aku keluar manjanya. Lumrah siy sebenernya kalo aku ngambek manja karena memang cuma dia satu – satunya manusia yang kukenal di Samarinda. Kadang ku berpikir, apakah benar – benar sayang padaku.

Hari itu aku benar – benar tak bisa pungkiri bahwa aku kangen banget sama Bho. Apa pun yang dia lakukan asal dia bisa didekatku, pasti kulakukan. Hari itu dia meminta sesuatu kepadaku. Sesuatu yang mungkin berat untuk kuulangi lagi tapi karena terdorong rasa sayangku padanya, kami pun melakukannya lagi. Yang ini berbeda dari pengalaman pertama dan kedua. Aku merasakan perasaan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata – kata. Sepertinya kami saling memiliki, dia milikku
dan aku miliknya. Sampai kami merasakan sesuatu yang benar – benar tidak bisa kami bending dan bagiku, itu sesuatu yang indah.

Kami tak tau sudah berapa lama kami bergelut dengan perasaan itu. Waktu terasa berhenti, semuanya diam, terasa dunia hanya milik kami berdua. Aku tak tau yang Bho rasakan saat itu, tapi buatku adalah segalanya.

Kami terbaring tak berdaya, menghela napas kami yang tersengal – sengal. Aku tak memikirkan apapun saat itu, yang kupikirkan hanya ada aku dan dia.

Tak lama berselang, ketika semua sudah terasa normal, Bho bergerak. Dia merubah posisi tidurnya berbaring menghadapku, dia mengusap peluh di keningku dan mengecupnya.

“Beb, aku takut”, ujarnya.

“Takut apa?”, tanyaku.

“Takut semuanya…”, ujarnya.

“Semuanya???”, tanyaku.

“Ya, semuanya. Aku takut beb”, ujarnya.

“Coba kamu jelasin, kamu takut apa?”, tanyaku sambil merubah posisiku menghadapnya sambil mengelus pipinya.

Dia memegang tanganku yang mengelus pipinya, mengecupnya dan menggenggamnya erat.

“Aku takut kamu bukan jodohku, Aku takut kamu ga akan jadi istriku, aku takut kamu ga aka nada buatku, aku takut!”, ujarnya.


“Aku akan selalu ada buat kamu beb, tapi kamu yang selalu pergi”, Ujarku.

“Aku takut, aku takut aku ga bisa jauh dari kamu”, ujarnya.

“Memang kenapa kamu ga bisa jauh dariku??”, tanyaku.

“Ini pengalaman pertamaku melakukan sesuatu sampai sejauh ini. Kalo kamu nanti “Isi”, aku belum siap”, ujarnya.

“Hmmm……aku juga belum siap”, jawabku

“Itu dia, Beb. Tapi aku bener – bener ga bisa jauh dari kamu. Aku yang bikin kamu begini”, ujarnya.

“Trus kamu maunya apa?”, tanyaku.

“Aku ga tau mau apa?....”, jawabnya.

Kami pun terdiam. Aku baru menyadari bahwa dia mengeluarkan sesuatu ke dalam diriku. Langsung pikiranku mengatakan bahwa aku harus tenang, kalau tidak, bisa jadi pertumpahan darah saat itu juga.

Memang yang indah yang kurasakan, sampai saat ini pun aku masih bisa ingat bagaimana rasanya. Tapi aku tak ambil pusing saat itu. Tak terasa kami pun tertidur..

“Beb….”, suara itu membangunkanku.

“Hmmm….”, Jawabku yang masih setengah sadar.

“Aku pulang dulu ya….mau ke GEIM. Dah janjian niy sama anak2 sekalian mau tambah billing”, jawabnya.


“Oia…..ya dah kalo gitu”, jawabku sambil berusaha bangun dari kasur.

“Udah, beb tidur aja. Ga usah anterin aku ke depan. Ya??”, ujarnya.

“Iyah”,jawabku.

Dia segera keluar dari kamar kostku. Kudengar motornya berlalu. Aku segera bangun, mau ke kamar mandi, pengen pipis. Begitu bangun, kulihat HP Bho tertinggal. Kuambil, mati ternyata. Kunyalakan dan ternyata ada kode pengaman HPnya.

Penasaran, Aku pindahkan Simcardnya ke Hpku, kuaktifkan dan tak sengaja, aku membuka Outboxnya. Dia mengirimkan sebuah sms ke seseorang bernama “Zhie”, yang kutahu bahwa dia adalah mantan gebetan Bho, isinya… “Adeeeeeekkkk…….Kakak kangeeeeeeeeeeennnnnnn”…

Huffttt……nyesek banget pas baca itu. Rasanya mau marah tapi kupikir, buat apa, buang – buang energy. Langsung aku ke kamar mandi. Selesai mandi, aku langsung siap – siap untuk interview besok. Tidur.

Keesokkan harinya, aku bangun pagi jam 07.00 WITA. Aku langsung mandi dan bersiap – siap. Setelah semuanya siap, aku berangkat. HP Bho kutinggal di kamar kost karena aku ga perduli lagi.

Sebelum berangkat, aku mampir ke tempat ibu kost dl ingin menanyakan rute angkot ( orang Samarinda bilang angkot itu Taxi hehehe..kalo taxi disebut apa ya?? ). Aku harus naik angkot hijau. Tapi sebelum itu, aku harus jalan ke AM Sangaji dulu, lewat pasar di jalan Perniagaan, baru naik angkot dari sebrang pasar ke Jl. P. Antasari.

Tampaknya aku datang terlalu cepat. Akhirnya aku makan nasi kuning dulu sebentar. Rasanya seneng juga ngerasain nasi lagi setelah lama makan roti.


Setelah pulang dari sana, di jalan, bho telpon Tanya ttg HPnya, ya aku kasih tau kalau HPnya ada di kost. Malam harinya, dia ke kost jam 9 malam.

Hari demi hari kulewati seperti itu, sampai suatu hari aku merasakan ada yang gak beres denganku. Kepalaku sering pusing, aku sama sekali ga napsu makan, maunya tiduran aja. Ibu kost dan temen kostku sampai heran karena aku ga keluar – keluar kamar. Begitu aku keluar kamar, mereka menanyakan itu kepadaku.

Temen kostku bilang kok aku kayak orang hamil, malas ngapa – ngapain. Apa yang temen kostku utarakan langsung tertangkap otakku. Apa benar aku hamil??

Keesokkan harinya, aku langsung pergi ke apotik di jl. Camar, pagi – pagi. Aku membeli sebuah alat test kehamilan dan aku langsung memakainya begitu aku sampai di kost.

Kuikuti semua petunjuk di kemasan alat test tersebut, aku menunggu hasilnya dengan perasaan tak menentu. Aku ingat betul, itu tanggal 24 Februari. Hari paling membingungkan buatku. Setelah menunggu lama, aku terkejut dengan hasil yang tertera di alat test kehamilan itu. Hasilnya Positif.

Aku menangis sejadi – jadinya. Aku bingung. Aku rasanya ga tega untuk mengugurkannya dan ga mampu juga kalau harus mempertahankannya karena kami sama – sama belum siap.

Hari itu, aku benar – benar drop. Aku mimisan hebat, migrant berat dan lemas. Tapi yang lebih hebatnya, Bho ga tau. Karena aku terlanjur bête dengan statement dari dia sehari sebelumnya. Waktu itu aku tanya kenapa aku ga boleh tanya tentang apa yang Bho kerjain. Dia jawab…

“Kamu ga perlu tanya itu Beb, aku baik – baik aja. Kamu tuh kalo mau ngabarin aku kabarin kalo kost kamu banjir trus tinggal 0.5mtr lg km mau tenggelam,
baru telpon atau kabarin aku”.

Oke…Done!!...

Dengan bertambahnya masalah hari itu, itu membuatku berpikir keras. Apa yang harus kulakukan. Aku menemukan solusinya tapi aku harus rela kehilangan Bho, ya, kehilangan Bho.

Aku tau apa yang akan terjadi apabila aku memberitahukan tentang kehamilanku pada Bho dan rasanya aku ga sanggup menambah daftar dosa dalam hidupku.

What will happen next??? Is out of my mind……huufftttt

Lagu dari band Garasi diatas menjadi soundtrack hidupku saat itu. Kudengarkan lagu itu setiap hari sambil menunggu kedatangan Bho ke kost ku. Lagu ini yang selalu mewakili semua gelisah hatiku. Setiap Bho datang ke kost, mulutku rasanya ingin utarakan semua yang terjadi, tapi begitu mau mengeluarkan suara, seperti ada yang mencekik tenggorokanku. Jangankan suara, melihat dia pun rasanya aku tak sanggup.

Sebenarnya, pada saat peristiwa itu terjadi, secara tak sengaja, aku merekam suara saat dia merayuku. Itu kulakukan agar saat aku merindukannya tapi sosoknya tidak bisa ada di sampingku, aku masih bisa mendengarkan suaranya. Sampai sekarang, rekaman itu masih tersimpan rapi sebagai bukti bahwa aku masih menghargai dirinya sebagai seorang yang pernah ada di hatiku dan memberiku sesuatu yang sangat aku sayang saat ini.

Malam tgl. 1 Maret aku memutuskan untuk mengutarakan semua keputusanku walaupun aku tak membicarakan mengenai kehamilanku. Hari itu dia datang sekitar pukul 7 malam. Seperti biasa, dia datang dengan motor Satria FU berplat putih, mengenakan jaket coklatnya dan helm VOG Super Sonic hitamnya. Pintu kamarku terbuka…tampaklah sosok yang sebenarnya tak mau kulihat. Dia menyapaku,


“Malam beb….”, sapanya.

“Iyah…malam. Tumben dateng?”, tanyaku.

“Kok nanyanya gitu??? Kamu kangen ya beb?”, tanyanya.

“Ga tau kangen atau ga….tapi yang jelas, roti manisnya sama aquanya abis tuh”, jawabku.

Bho heran melihat perubahan sikapku. Biasanya aku terlihat manja dan seolah menanggap kalau aku begitu membutuhkan kehadirannya. Seandainya aku tau dimana beli roti itu, aku pasti jalan sendiri.

“Kok gitu?”, tanyanya.

“Kenapa? Kan aku ngasih tau kalo makanan abis. Jadi aku Tanya kamu beli dimana?”, jawabku.

“Iyah, nanti aku beli lagi. Tapi kok kamu aneh beb??”, tanyanya.
“Aneh kenapa??? Biasa aja kok beb”, jawabku.

“Hmmm..eh, beb. Kenapa ya kok aku jadi pengen makan terus? Menunya ga berubah2. Kmrn smp mkn 5 kali”, tanyanya.

“Kelaperan kali kamu atau doyan”, jawabku.

“Gak kok. Aku malah ga suka makan itu. Kamu tau aku ga suka makan kerang. Kmrn sampe makan bny”, ujarnya.

“Kok bisa, kayak orang ngidam aja. Kamu ngidam Beb?”, tanyaku.


“Ga tau, tapi bener kayak ngidam. Tau deh, mang kamu hamil?”, tanyanya.

Stuck ditanya gitu, aku Cuma senyum aja. Tapi aku mau coba pancing….

“Kalo iyah mang kenapa?”, tanyaku.

“Beneran?”, tanyanya.

“Kalo bener gimana? Kalo enggak gimana?”, tanyaku.

“Kalo bener, aku lom siap Beb. Kalo boong mah, Alhamdulillah”, jawabnya.

Jawabannya makin memperkuat keputusanku. Karena aku tau seperti apa sifat Bho.

“Beb, kayaknya aku mau pindah kost aja”, ujarku mengalihkan pembicaraan.

“kenapa mau pindah kost?”, tanyanya heran.

“Ga papa, dah ga nyaman disini. Takut kena banjir juga Beb. Ga papa kan?”, tanyaku.

“Ya ga papa. Tapi carinya yang kayak gini juga ya….biar aku bs nengokin kamu”, ujarnya.

“Iyah…..”, jawabku.

Aku Cuma bias mengangguk aja. Tapi tiba – tiba dia nyeletuk…

“Beb, tadi kamu lom jawab. Kamu ga hamil kan??”, tanyanya.

“Ga….”, jawabku spontan.


“Trus aku kenapa ya beb kok tiba – tiba bisa suka banget makan kerang? Kalo ga makan, mual”, ujarnya.

“Mungkin kamu mang lagi pengen kali ya”, jawabku.

“Masa?”, jawabnya

Aku tau kalau Bho lagi ngidam. Malam itu kami mencari kost-an, tapi ga nemu yang kami pengen. Ditengah jalan, dya ngajak makan kerang rebus. Dia makan banyak banget disitu. Aku kasian liat dia, kasian karena dia belum bisa terima kalau wanita yang ada disampingnya sedang mengandung darah dagingnya.

Malam itu Bho pun tampak aneh, dia biasa membawa motornya dengan kecepatan tinggi. Tapi malam ini dia membawa motornya dengan kecepatan yang luar biasa lambat.

“Beb, jalannya pelan aja ya. Ga tau niy, feelingku nyuruh bonceng bawa kamu pelan2”

Itu yang dia ucapkan malam itu.

Sebelum sampai kost, dia mampir ke swalayan, namanya Planet Swalayan. Dia beli banyak cemilan dan makanan. Aku Tanya buat apa, dia jawab..

“Cemilannya buat ngemil di GEIM. Makanannya buat kamu”

Hah…aku bingung….

“Beb, kamu kan ga begitu suka ngemil? Kok tumben ngemil skrg?”, tanyaku.

“Iyah niy, ga tau. Aku dr beberapa hari lalu pengen banget makan chitato sama
Lays. Ngidam!”, ujarnya


“Tapi ga banyak kayak gini kali, Beb”, jawabku,

“Ga tau deh, segini biasanya masih kurang. Kamu bener ga hamil kan beb?”, tanyanya kesekian kali.

“Berisik deh”, jawabku sambil memencet hidungnya.

Bho kemudian merangkulku, mencium keningku dan berkata…

“Kalo bener kamu hamil, aku bingung tapi seneng karena aku makannya jd banyak. Cuma…”, ujarnya.

“Cuma apa beb?”, tanyaku.

“Cuma aku ga tau nanti anakku makan apa. Aku bener – bener lom siap Beb”, ujarnya sambil melihat wajahku.

Mungkin dia ingin membaca raut wajahku. Membaca apakah aku berbohong atau ada sesuatu yang aku sembunyikan. Sungguh, Aku takut dia tau kalau aku bohong.

“Huuh….aku tau kok”, jawabku sambil kusembuyikan raut gelisahku.

“Ya dah, yuk pulang. Dah malam. Besok kita cari kost lagi. Pulang aku kerja ya Beb?”, ujarnya.

“Iyah…..”, jawabku.

Setelah dia mengantarkanku ke kost dan sudah kupastikan bahwa dia sudah pergi ke GEIM, aku segera pergi ke net dekat kostku. Niatku, aku ingin mencari tahu tentang “NGIDAM”. Apa benar laki – laki bisa ngidam??

Malam itu kebetulan aku dapat tempat yang agak ke pojok. Itu memberiku
keleluasaan untuk mencari informasi tentang apa yang kubutuhkan. Aku medapatkannya….dan tercengang.

( Info dari Blog )
Istri hamil tapi mendadak suami yang ngidam, lho kok bisa? Mungkin beberapa suami pernah mengalami fenomena tersebut saat istri mereka hamil? Namun benarkah ada hubungan antara kehamilan dan ngidam yang dialami sang istri dengan 'ngidam mendadak' yang dialami suami?

Para peneliti dari St George's University, London, Inggris mencoba meneliti fenomena gejala tersebut pada 282 calon ayah. Dan dalam studinya, mereka menemukan beberapa calon ayah mengalami mual-mual di pagi hari (morning sickness), kram, rasa sakit dan tak nyaman pada punggung. Meski ditemukan kemiripan gejala-gejala saat hamil pada pria namun fenomena yang dikenal dengan 'Couvade Syndrome' ini, masih belum bisa djelaskan secara pasti. Fenomena ini masih dianggap sebagai sesuatu yang misterius.

Para peneliti memonitor pria dengan usia 19-55 tahun, di mana pasangan mereka secara rutin juga memeriksakan kandungan di St George's Hospital. Calon ayah ini juga mengalami gejala-gejala yang dialami istri mereka, seperti kejang otot (kram), nyeri dan rasa tak nyaman pada punggung, perubahaan mood, kenaikan nafsu makan, mual-mual di pagi hari, mudah lelah, depresi, fainting, susah tidur, pusing, dan sakit gigi yang terkadang juga dialami ibu hamil. Dan pada tingkat yang lebih tinggi, beberapa pria juga mengalami perubahan ukuran perut yang semakin membesar seperti tengah mengandung, atau biasa disebut dengan istilah 'baby bump'. Dalam studi ini beberapa pria mengalami gejala dan ngidam di awal kehamilan pasangan mereka, namun ada beberapa yang harus mengalami gejala tersebut sampai si bayi lahir. "Mereka terlihat seperti mewarisi gejala kehamilan seperti yang dialami pasangan mereka, namun terkadang mereka tak menyadarinya," jelas pemimpin riset Dr Arthur Brennan.

Salah seorang responden mengatakan pada BBC: "Aku selalu cepat merasa lapar dan ingin makan setiap waktu. Nafsu makanku terus meningkat. Bahkan aku tak
pernah bisa berhenti untuk tidak menyantap ayam olahan dan poppadoms (makanan khas india)." Beberapa pria juga mengatakan mengalami rasa sakit perut, mual-mual saat bangun pagi, dan juga rasa tak nyaman pada bagian pinggang, dan moody. Namun semuanya akan berakhir saat bayi lahir. "Beberapa orang mungkin mengalami hal tersebut dan ingin merasakan apa yang dirasakan pasangan mereka, namun beberapa dari mereka juga mengalami gejala-gejala itu di luar keinginan mereka," tambah Dr. Brennan yang menyebutkan Couvade Syndrome tak bisa didiagnosa secara medis.

Senada dengan Dr. Brennan, Dr Val Collington, kepala School of Midwifery St George's, mengatakan wanita yang tengah menjalani masa kehamilan dan menjelang kelahiran terkadang juga dibarengi dengan 'gejala hamil' yang ditemukan pada pasangan pria mereka, terlebih pada trimester pertama. Dr Harriet Gross, pengajar senior dari Department of Human Sciences, Loughborough University menyebut gejala tersebut sebagai sympathetic pregnancy, dan memiliki korelasi dengan fenomena psikosomatis (gejala yang dialami tubuh secara fisik yang disebabkan oleh dorongan psikis), yang diikuti perubahan hormonal pada tubuh calon bapak.

Memang ada beberapa suami yang tak menyadari bahwa ia mengalami perubahan emosi dan kondisi tubuh saat istri mereka hamil, namun ada mungkin juga yang menyadari namun malu untuk mengakuinya.

WOW….

Baiklah. Setelah mendapat informasi itu, aku segera pulang dan tidur nyenyak.
Setidaknya aku berlega hati karena ga terlalu merasakan apa yang Bho rasakan.

Keesokan harinya, Bho menepati janjinya untuk mengantarkan aku cari kost baru. Malam itu kami mencari di seputaran Jl. Juanda. Kami tak menemukan kost yang seperti kostku di Jl. Gatot Soebroto. Kemudian tibalah aku di Jl. Juanda 8. Aku menemukan kost yang aku mau, sebuah kost khusus wanita. Memang jauh dari yang Bho inginkan. Dia marah padaku malam itu. Sekembalinya kami di kost ku yang lama, dia menunjukkan rasa tidak sukanya.

“Kenapa kamu langsung setuju aja siy?”, tanyanya.

“Kenapa mangnya? Capek Beb keliling2 tapi ga nemu, aku gak sanggup…perutku…”, ujarku sambil menutup mulutku, takut keceplosan.

“Kenapa perut kamu??”, tanyanya

“Mampus….mati gwe dya tanya lagi…”,hatiku berbicara.

“Perutku tuh lagi ga enak. Lagi mules2 dari kemaren”, jawabku.

“Masa? Kemaren kamu ga papa deh Beb”, ujarnya…

“Beneran…ughhh”, jawabku sambil pura2 memegang perutku yang saat itu bukan mules tapi mual.

“Beb, apa siy yang kamu sembunyiin dari aku??? Jujur deh”, ujarnya setengah memaksaku.

“Ga ada apa2….kenapa siy beb??”, tanyaku.

“Aku bingung. Aku mendadak suka, cenderung doyan makanan yang selama ini ga aku suka, nafsu makanku ga terkendali, dipikiranku Cuma ada kamu kamu dan kamu. Aku juga ga tau kenapa setiap aku bonceng kamu naik motor, perasaanku bilang kalau aku ga boleh bawa kamu naik motor kenceng2..ada apa siy beb?”, ujarnya dengan nada yang agak tinggi walaupun masih terdengar lembut buatku.

“Itu Cuma pikiran kamu aja”, jawabku.

“Ga..ga mungkin. Trus kamu kenapa pilih kost yang khusus cewek siy? Kamu ga suka aku dtg ya?”, tanyanya.


“Enggak..aku suka kamu dtg. Cuma aku capek kalo harus kesana kemari tapi ga nemu. Perutku sakit Beb”, ujarku yang hampir menangis.

Melihatku yang sudah setengah menangis, Bho memelukku. Memelukku erat.
Memelukku erat sekali. Kemudian dia mencium keningku berulang – ulang. Kemudian dia menangkupkan tangannya diwajahku yang masih merah bengkak krn masih sesegukan nangis. Dia menatapku lama…kemudian mencium bibirku…lama….dan aku tidak merasakan ada gairah disana tapi aku merasakan rasa sayang dan rasa memohon seakan – akan dia ingin tau apa yang sedang kurasakan dan kusembunyikan. Setelah dia selesai menciumku, tangannya tetap menangkup wajahku dan dia mengatakan sesuatu padaku.

“Beb, aku ga tau apa yang kamu sembunyiin dariku. Kamu tau aku gelisah pengen tau. Aku juga tau kalo kamu lagi gelisah. Aku peluk kamu, aku cium kamu, tapi kamu tetep ga mau bilang. Kamu kenapa?”, tanyanya.

Ingin rasa hatiku mengatakan…”Aku hamil chayank”..dan berharap dia bahagia mendengarnya dan kembali memelukku erat. Tapi itu Cuma bayangan di pelupuk mataku yang akhirnya makin memperderas aliran air mataku. Bho heran melihatku kembali menangis…kembali memelukku sambil mengatakan sesuatu…

“kalau kamu ada masalah, kamu cerita!”, ujarnya.

“kamu ada masalah beb?”, tanyanya.

Aku hanya bisa menggeleng perlahan…

“Trus kenapa??”, tanyanya.

“Aku sayang kamu Beb”, jawabku sambil memeluknya erat. Aku memeluknya erat seakan – akan aku tahu bahwa dia bukan untukku.


“Aku tau kamu sayang aku, beb. Tapi ada apa? Ngomong?”, desaknya.

“Ga..ga papa. Mungkin Cuma karena kangen aja”, jawabku masih sambil menangis.

“Kangen??? Kamu kangen aku sampe nangis gini? Trus kenapa pilih kost itu?”, tanyanya.

“Karena aku capek keliling2 Samarinda, cari yang kayak kost ini ga ada. Perutku sakit Beb!”, ujarku.

“Perut kamu kenapa? Kamu kemaren ga kenapa2, knp bs sakit sekarang?”, tanyanya.

“Ga tau”, jawabku

“Ya dah, sini….”, ajaknya.

Bho duduk di kasur ku dan dia menyuruhku duduk dipangkuannya. Aku tak kuasa menolaknya karena aku memang butuh ketenangan. Setelah aku duduk di pangkuannya, dia kemudian menghapus air mataku dan mencubit hidungku.

“Arrgghhhh….”, erangku.

“Kenapa?”, sambil setengah ketawa.

“Mampet Beb…abis nangis malah dipencet idungnya”, jawabku setengah manyun.

“Udah2….muuv ya kalo aku tadi bentak – bentak kamu. Jujur, aku ga mau kehilangan momen kayak gini Beb. Jujur, aku Cuma bisa tidur nyenyak di kasur kamu. Walaupun kasur dirumahku lebih bagus, Cuma aku lebih bahagia tidur di kasur kamu”, ujarnya.

“Kenapa begitu?”, tanyaku.


“Aku ngerasa dijagain, disayang….makanya aku sebel kamu pilih kost itu sampe kasih DP segala. Kita bisa cari kost yang lain besok Beb”, ujarnya.

“Muuv, tapi aku ga kuat. Perutku sakit. Ga sanggup kalo harus naik motor lama2”, jawabku.

“Perut kamu kenapa siy Beb?”, tanyanya sambil mengusap – usap perutku.

Hiks……tangisku meledak lagi ketika dia mengelus perutku. Saat itu aku hanya berpikir dan berkata dalam hati. Aku mengatakannya kepada sesosok makhluk hidup yang ada diperutku.

“Nak, itu tangan ayah lg elus perut bunda. Inget ya chayank, ayah juga sayang kamu”

Aku mengatakannya seolah – olah benar bho sayang sama janin yang ada di perutku. Entah si kecil bisa merasakan atau tidak, yang jelas aku sudah mengatakannya bahwa ayahnya sayang.

“Kamu kenapa siy beby???”, sambil menarik wajahku supaya aku melihat wajahnya.

“Ga papa…..ga papa”, jawabku.

Akhirnya Bho menyerah untuk mendesaknya mengatakan yang sebenarnya. Malam itu kami berkemas untuk membereskan semua barang2ku di kost lama. Aku pindah malam itu juga.

Dia mengantarkanku ke kost baruku. Dia merasa bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan, sebelum pulang, dia menciumku di depan kamar kostku sambil memelukku erat. Kemudian mencium bibirku sekali
lagi, membuatku meleleh lagi kemudian ia menyudahinya dengan mencium keningku.

“Beb, aku pulang dl. Kamu jangan khawatir sama aku ya, aku baik2 aja”, ujarnya. “Iyah…..”, jawabku lemas.

Aku melihat kepergiannya dengan hati yang tak menentu. Entah hati bahagia atau sedih dengan semua keputusan yang kuambil, tapi aku mulai belajar mengikhlaskan segala sesuatu yang akan terjadi di hari – hari depan.

Malam itu, ketika aku membereskan semua pakaianku ke dalam lemari, aku melihat Kintan. Sahabat lamaku yang selama ini kuabaikan. Dia tampak kusam, tak terawat. Aku kembali menangis melihat dan mengingat semuanya. Kupeluk Kintan erat – erat dan aku mulai membaca semua yang kuceritakan dari awal sampai lembar terakhir. Tangisku semakin menjadi dan aku mengakhiri malam itu dengan tangisan demi tangisan dan akhirnya aku tertidur.

Aku tak tau apa yang terjadi setelah itu….andai aku tau akan pahit rasanya, aku pasti tidak akan melakukannya…..

Semua itu pasti ada hikmahnya…..tapi selanjutnya…aku tau…semakin aku ?
mencintainya…semakin aku tau bahwa aku bukan wanita tegar yang bisa menelan apapun sendirian. Aku butuh dia….benar – benar butuh dia…

Pagi itu aku terbangun dan menyadari bahwa untuk tidur atau sekedar membicarakan hal – hal yang begitulah.ini bukan kamar kost-ku yang dulu. Bukan kamar tempat biasa aku dan bho menghabiskan waktu entah

Kepergiannya semalam menyisakan perasaan yang membingungkan untukku.

Kulihat kamar itu sekeliling, catnya yang pink menyiratkan perasaan yang berbeda dengan perasaanku saat itu. Aku terduduk di kasurku yang hanya setipis tikar, mengambil guling dan bersandar pada dinding dibelakangku. Aku memikirkan, “apa
yang harus kulakukan sekarang???”

Pertanyaan itu berulang – ulang muncul di benakku. Kuberanjak dari kasurku, membuka tirai hijau kamarku, membuka jendelanya dan angin pagi berhembus memasuki kamarku. Ingin rasanya aku meraih Hpku dan mengirimkan sebuah sms untuk Bho sekedar mengucapkan “Pagiiiii…dah bangun belum?”, seperti yang sering kukirimkan ketika aku masih di Jakarta. Tapi rasanya buang – buang waktu. Aku tau apa yang akan terjadi apabila aku mengirimkan sms itu. Yang akan terjadi hanya kekosongan belaka, tidak akan ada balasan “Pagiii juga beby….udah bangun kok”, seperti yang selama ini kuterima seperti saat aku di Jakarta.

Aku beranjak dari jendela itu, kembali duduk dikasurku yang tak mungkin dipakai Bho untuk tidur menunggu chip war malam RF Online.

Seketika itu juga, aku teringat Kintan. Buku itu ada di sebelah kasurku. Kuraih dia, kubuka halaman demi halaman, kubaca lembar demi lembar, mengingatkan betapa bahagianya hidupku dl. Sifat Bho yang dulu takut banget kehilanganku, berubah menjadi sosok bho yang selalu ingin dimengerti. Ketika aku membaca lembar terakhir, Hpku berbunyi….

“Bho???, tumben???”, ucapku dalam hati. Kuangkat.

“Ya, ada apa Beb?”, tanyaku.

“Pagi, gimana tidurnya??, tanya Bho….

“Begitulah….”, jawabku setengah hati.

“Kamu kenapa Beb? Kamu dimana?”, tanyanya.

“Aku baik – baik aja. Aku di kamar. Kenapa?”, tanyaku


“Aku di bawah…..turun sini”, ujarnya.

“Ngapain dibawah???”, tanyaku kaget.

“Turun sini, ga pake lama”, suruhnya.

“Bentar”, jawabku yang diiringi suara terputus di Hpku.

Aku segera mengganti bajuku, memakai parfum seadanya, membuka pintu kamar, pake sendal, lari ke kamar mandi, cuci muka trus turun ke bawah.

“Aduuhhh!!”, pekikku ketika kurasakan perutku nyeri.

Kuelus – elus perutku sambil berbicara dalam hati pada sesosok makhluk mungil di dalam sana..

“Bentar dd, bunda dipanggil ayah ke bawah. Bentar ya”, ujarku

Kuturuni tangga curam itu dengan hati – hati. Berjalan perlahan, mencoba menahan rasa sakit di perutku. Kulihat Bho menungguku di atas motor satria – nya.

“Lama amat siy beb, ngapain dulu??”, tanyanya ketika aku dtg menghampirinya.

“Hmmm…ganti baju, cuci muka, lagian jalannya juga pelan – pelan”, jawabku.

“kenapa pake ganti baju segala?”, tanyanya.

“Ga enak keluar pake baju tidur, kamu mau aku keluar pake tank top gitu? Mau aku diliat orang pake baju itu?”, tanyaku.

“Ga lah…kalo ada yang liat, kucolok nanti matanya”, jawabnya.


“Trus ngapain pagi – pagi dateng?”, tanyaku

“Kok tanyanya gitu??? Dah betah ya kost disini? Ga kangen aku lagi?”, tanyanya.

“Bukan gitu. Kamu kan biasanya ga nongol jam segini. Lagian kenapa kesini pake baju hansip siy?”, tanyaku.

“enak aja baju hansip, ini seragam kantor. Dudutz”, jawabnya.

“Ya aku juga tau itu seragam kantor kamu, tapi kok kayak baju hansip ya warnanya?”, tanyaku smbil mesem – mesem.

“Kulang ajal ( Kurang ajar - pake logat cadel ), tau niy dari sana nya”, jawabnya sambil memegang tanganku.

“Apaan ciy? Kamu ga kerja beb?”, tanyaku.

“Ga. Tadinya dah mau berangkat, Cuma Kak Pi?u ga jadi berangkat. Kata dia ga usah, ya aku ga berangkat”, jawabnya.

“Hmmm…selain jadi Hansip, merangkap kerja jadi supir juga ya?”, tanyaku sambil senyum.

Bukannya ngomong sesuatu dia malah menarik tanganku, merangkul pinggangku, melingkarkan tangannya di pinggangku dan mencium lembut rambutku.
“Gimana jadinya perut kamu? Dah mendingan beb?”, tanyanya.

“hmmm…semalem iyah, tp tadi sakit lagi”, jawabku.

“Mana sini kuelus”, ujarnya.


Belum sempat aku mengatakan „ga papa?, tangan kanannya sudah mengelus perutku. Pengen nangis rasanya, karena aku tau ini ga akan berlangsung lama.

“Ada dedenya ya Beb?”, tanyanya.

“Hah???”, tanyaku heran.

“apa dia sudah tau atau ada yang ngasih tau?? Tapi siapa??”, hatiku berbisik, panik ga karuan.

“Iyah, kayak ada dedenya? Beb mau tau ga kenapa aku langsung kesini”, ujarnya.

“Hah??? Kenapa kamu kesini??”, tanyaku.

“Pindah ke bangku disana aja yuk?”, ajaknya.

Aku pun mengangguk. Dengan tangannya yang masih melingkar di pinggangku, kami berjalan beriringan ke arah bangku tersebut. Dia menyuruhku duduk disampingnya.

“Beb mau tau kenapa aku ga ganti baju dulu tapi langsung kesini?”, tanyanya.

“Iyah”, jawabku.

“Gini, aku semalem mimpi. Bapakku sembuh dari sakitnya. Kamu tau Bapak kalo ngomong susah kan?”, tanyanya.

“Iyah, mang apa hubungannya?”, tanyaku.

“Di mimpiku, Bapak bisa ngomong lancar lagi dan bilang ke aku kalo Bapak seneng karena dia mau dapet cucu laki – laki. Kamu tau kan kakak2ku anaknya perempuan semua?”, tanyanya lagi.

“Iyah. Sapa tau kakak kamu hamil beb, anaknya laki – laki”, jawabku panik.


“Ga mungkin, kata Bapak dia liat ibu dari cucu laki-lakinya dan pas dijelasin ma Bapak, itu mirip banget sama kamu”, jelasnya.

“terus?”, tanyaku panik..

“Sekarang aku mau tanya, kamu hamil atau ga?”, tanyanya.

“Kalo iyah gimana? Kalo enggak gimana?”, tanyaku agak sedikit seneng karena kayaknya ada sinyal2 bagus.

“Kalo enggak, ya ga pa pa. Kalo iya??”, dia berenti ngomong.
“Kalo iyah kenapa?”, tanyaku.

“Kalo iyah, aku mohon, gugurin”, ujarnya.

Damn, aku tau aku terlalu cepat mengambil keputusan bahwa dia akan berubah pikiran walaupun Bapaknya sudah bermimpi seperti itu. Aku terpaku, diam, hatiku langsung kosong seketika. Ingin aku segera pergi dari hadapan laki – laki yang sama sekali ga punya hati ini.

“Kok diem Beb, hamil atau ga?”, tanyanya.

“Ga”, jawabku spontan.

“Oke. Aku percaya sama kamu. Aku Cuma ga mau kalau kamu hamil. Aku bingung gimana cara kasih makan anakku nanti”, ujarnya.

“Kasih makan ya gampang, beli di warteg juga bisa”, ujarku.

“Uangnya dari mana?”, tanyanya.


“Kamu punya gaji kan? Buat apa kalo bukan buat makan. Oia, aku lupa, buat beli billing warnet di GEIM ya yang Rp. 300.000 / bulan trus beli premi, lupa gwe”, jawabku agak ketus.

“Kok kamu ngomongnya gitu?”, tanyanya.

“gitu gimana?”, tanyaku.

“Ya gitu, seakan – akan aku salah”, ujarnya.

“Lho, anggep gini deh. Anggep aku hamil, kamu bilang suruh gugurin ya kan?
Karena kamu ngerasa kalo kamu ga bs ngasih makan anak kamu nanti, ya kan? Tapi kamu bisa beli billing Rp. 300.000 / bulan buat RF Online dan bisa beli premi Rp. 10.000 setiap hari kan? Ga mampu ya ngasih makan orang kalo kayak gitu?”, tanyaku.

“Aku belum siap kalo kegiatan game ku terganggu”, ujarnya.

“Wew….Ya udah. Go Ahead with your life lah….”, jawabku.

Aku berdiri dan langsung berjalan meninggalkan Bho dikursi itu dan ga berharap dikejar sama sekali. Makin yakin hati ini kalau aku akan menjalani semuanya sendiri dan aku akan mempertahankannya walaupun ayah kandungnya sama sekali ga menghendaki kehadirannya.

Tiba – tiba ada tangan yang menarik tanganku. Keseimbanganku goyah dan tanpa sadar, aku sudah berada dalam pelukan Bho. Dia memelukku erat tanpa mengeluarkan statement apapun. Tiba – tiba dia mengucapkan sesuatu padaku.

“Kamu hamil kan beb?”, tanyanya untuk kesekian kali.

“Ga”, jawabku sama seperti td.

“Tapi kenapa omongan kamu sepertinya kondisi kamu kebalikan dari yang sebenarnya”, ujarnya.

“Maksudnya?”, tanyaku.

“Ya, kamu kayak sedang hamil”, ujarnya.

“Sok tau….dah sana pulang”, jawabku.

“Gak”, jawabnya.

Dia melepaskan pelukannya disertai munculnya suara baru dari arah belakangku.

“Ada apa Nak?”, tanyanya.

Aku menoleh ke belakang dan yang bertanya padaku adalah ibu pemilik kost tersebut.

“Ooo….ga papa bu, Cuma ada sedikit masalah”, jawabku.

“Masalah apa Nak?? Ga boleh pagi – pagi ribut. Itu siapa?”, tanyanya.

“Hmmm…ini…”, ujarku terbata.

Tiba – tiba Bho berjalan ke arah Ibu itu dan memperkenalkan dirinya.

“Pagi Bu, maaf saya mengganggu. Saya Aji, calonnya”, jawabnya.

“Haaaaaaaaahhhh…calon apa???”, tanyaku dalam hati.

“Calon pacarnya atau calon suaminya Nak Aji?”, tanya ibu kostku.

“Calon suaminya”, jawab Bho.

Mendengar jawaban Bho..pusing, mumet, migrain campur jadi satu.

“Sini..sini…masuk. Duduk ngobrol sama Ibu”, ajak si Ibu.

Mendengar ajakkan si Ibu bikin aku mules2. Otomatis aku harus menjaga semua perkataanku, padahal kan tadi lagi seru – serunya ngomong. Duuhhh…

“Ooo…jadi kamu itu calonnya Vie toh Nak?”, tanya si ibu meyakinkan.

“Iyah, doakan ya Bu. Makanya tadi ada kesalahpahaman sedikit”, jawab Bho.

“Salah paham??? Siapa yang salah paham?? Salah paham dalam masalah apa??”, ujarku dalam hati, jangkel.

“Ga papa, itu biasa”, jawab si Ibu.

Saat itu, akhirnya si Ibu ngalor – ngidul tanya ini itu. Aku jadi bingung mau apa.
Masalahnya aku sedang memikirkan bagaimana tindakanku selanjutnya. Aku tidak mampu kalau harus menggugurkan kandunganku. Lagipula, apa – apaan Bho bilang ke Ibu Kost kalo dia „Calon Suami? ku??? Ini aja disuruh gugurin kok. Selagi percakapan si Ibu dan Bho semakin seru, aku memohon pamit sebentar.

“Bu, maaf, Aku ke atas dulu ya?”, potongku.

“Oia, kamu mau ikut ke atas nak?”, tanya si Ibu ke Bho.

“Iyah bu, mau selesaiin masalah yg tadi”, jawab bho.

“Sudahlah, silahkan silahkan”, kata si Ibu.

Tanpa banyak basa – basi, aku langsung jalan cepet ke arah tangga untuk naik ke kamarku. Bho mengikutiku di belakang.


“Beb, jangan cepet – cepet kenapa?”, serunya.

Aku ga perduli, dia masih mengikutiku. Begitu aku sampai di tangga, aku segera menaikinya. Dianak tangga keberapa, aku merasakan sakit yang hebat di perutku dan aku merasakan ada yang mengalir di kepalaku. Aku berpegangan erat pada pegangan tangga.

“Beb, kenapa siy buru – buru?”, tanya Bho.

Begitu aku membalikkan badan, aku tak sadar bahwa darah sudah mengalir keluar dari hidungku. Bho panik. Dia langsung menggendongku ke kamarku. Aku hanya bisa menyuruhnya ini itu, ambil ini ambil itu. Setelah darahnya berhenti, aku Cuma bisa melihat bho terdiam disamping kasurku.

Hari itu berakhir dengan pulangnya bho ke rumah setelah menemaniku seharian di kost. Dia bingung dengan keadaanku dan aku bingung dengan apa yang harus kulakukan. Apa aku harus jujur atau tetap memendam ini sendirian???

Semuanya akan kuputuskan besok. Ya besok....huuuuffttt...

Pagi hari setelah kejadian itu, aku bertekad membuka semuanya. Aku gak mau harus pergi dari Samarinda dengan beban berat di pundakku. Kehadiran sesosok makhluk hidup di perutku sudah membuatku berpikir keras, harus seperti apa jalanku ke depan nanti?? Yang aku tau hanya aku akan menjalaninya sendiri.

Sore itu Bho mengajakku makan di tempat biasa dia makan, tumben banget sebenernya. Aku menanyakan alasannya ke Bho, Cuma dia selalu mengalihkannya ke topik lain. Sampai akhirnya aku gak tahan, aku mulai membicarakan apa yang ingin kubicarakan.

“Beb, aku mau ngomong?”, potongku.


“Ngomong apa?”, tanyanya.

“Tentang siapa aku dan gimana keadaanku”, jawabku.

“Aku tau siapa kamu”, ujarnya.

“Ya aku tau, tapi bukan yang kayak gitu. Namaku bukan Laras..tapi”, ujarku.

Sebelum aku bisa meneruskan perkataanku, ucapanku dipotong sama Bho.

“Hanna kan?”, potongnya.

“Ya…kamu kok tau?”, tanyaku keheranan setengah pucat pasi.

“Aku tau waktu kamu tidur, ga sengaja aku buka dompet kamu dan apa kamu ga sadar sama CV kamu Beb?”, ujarnya.

Oiya, aku baru tau kalau di CV ku tertera namaku yang sebenarnya, bukan Laras Anggun Anindya tapi Hanna Vieanka Maryam.

“Ya, muuv…”, jawabku.

“Ga papa..aku juga tau kenapa kamu begini. Aku liat buku harianmu dan ga sengaja, terbaca sama aku, Beb.”, ujarnya.

“Hah??? Kamu baca semua??”, tanyaku.

“Sayangnya, Ya! Makanya aku ga kaget waktu kmrn ibu kost mu panggil kamu „Vie?, aku tau semuanya”, ujarnya.

“Ya, Muuv. Aku terlalu malu mengakui bahwa aku ga seperti wanita lainnya. Aku tumbuh dengan sosok Laras sekian lama dan akhirnya, dia seperti menyatu dalam diriku, aku harus akhiri semuanya”, jawabku.


“Kenapa kamu bisa bilang kalau kamu ga seperti wanita lain?? Apa yang kurang siy Beb??”, tanyanya.

“Ga tau. Mungkin karena masa kecilku yang entah kenapa berbeda dengan yang lain. Masa laluku mempengaruhiku, Beb”, jawabku.

“Ya, setiap orang punya masa lalu. Aku ga perduli sama masa lalu kamu. Tapi dengan kamu berbuat seperti ini, kamu jadi akan menderita sendiri”, ujarnya.

“Ya, aku tau. Makanya, aku mau mengakhiri semuanya. Aku harus memilih siapa dan bagaimana aku sebenarnya. Aku harus mengakhiri semuanya”, jawabku.

“Ya, tapi jangan akhiri aku ya Beb. Jangan!”, ujarnya.

Apa yang baru Bho katakan tapi seperti anak panah yang langsung menusuk jantungku, membuatku sekarat dan mungkin akan mati perlahan – lahan.

“Kenapa ngomong begitu?”, tanyaku

“Karena mang aku ga mau kalo ga ada kamu”, ujarnya.

“Seandainya aku hamil, kamu masih mau ada aku?”, tanyaku.

“Kenapa kamu tanya begitu?”, tanyanya.

“Gpp, tanya aja. Soalnya kmrn kamu bilang kalo aku hamil, digugurin kan? Apa gunanya kalo masih sama – sama”, ujarku.

“Kamu bener hamil kan Beb?”, tanyanya sambil merubah posisi duduknya.

“Ga….aku Cuma tanya, kalo aku hamil, apa kamu masih mau ada aku?”, tanyaku.


Pertanyaan itu ga dijawab sama Bho sampai kami tiba di kostku dan aku juga sudah malah menanyakannya lagi. Bagiku jawabannya sudah jelas, „BIG NO?.

Kupikir, Bho akan langsung melesat pergi ke GEIM setelah kami jalan, ternyata dia singgah dulu di kostku. Aku heran, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WITA, tapi dia tetep belum juga mau ke GEIM. Dia menahanku di atas motornya sebelum akhirnya dia mengajakku bicara.

“Beb, duduk disana yuk”, ajaknya sambil menunjuk bangku panjang di depan kostku.

“Tumben, ga ke GEIM? Nanti ga dapet tempat lho”, jawabku.

“Ga papa. Kalo aku dtg, pasti ada kok tempat kosong, kompi „dewa? pasti tersedia buat aku, Beb”, jawabnya.

“Susah siy ya yang jadi „anak emas? nya si Koko itu”, jawabku sambil berjalan ke bangku itu.

Kami duduk dan diam untuk sementara waktu. Tak sadar, selama sesi diam itu, Bho memperhatikanku dari bawah sampai atas. Aku jadi jengah melihatnya.

“Beb, jangan diliatin kayak gitu”, ujarku.

“Kenapa? Mang ga boleh liatin pacar sendiri?”, tanyanya.

“Ya boleh, tapi jangan gitu”, ujarku.

“Kamu berubah Beb, Paha kamu kecil, Perut kamu rata, kamu kurusan”, ujarnya.

“Trus kenapa?”, tanyaku.

“Aku bener – bener kangen suasana dulu. Aku kangen banget”, ujarnya.


“Mang kemaren kemana aja Beb? Dr kemaren juga dah begini bentuknya, express!”, jawabku.

“Aku baru sadar. Tadi pas di tempat makan, banyak cowok – cowok liatin kamu. Kayaknya klo ga ada aku, diajak kenalan kali kamu td”, ujarnya.

“Masa??”, tanyaku.

“Iyh, tadi pas cuci tangan, aku denger di meja dkt situ lagi ngomongin kamu”, ujarnya.

“Ngomongin apa?”, tanyaku.

“Ya mrk bilang, „cewek pake baju putih cantik tuh sob. Sayang dah ada anjingnya?”, ujar bho menirukan ucapan org itu.

“Maksudnya „anjingnya? apa?”, tanyaku.

“ya, „anjingnya? tuh aku”, ujar Bho.

“Kok gitu?”, tanyaku.

“Itu sebutan aja”, jawab Bho.

“Mang kamu kenapa? Kan mrk ga ngajak aku kenalan”, tanyaku

“Iyah memang ga, tapi aku cemburu. Kamu diliatin orang – orang yang suka sama penampilan kamu”, jawabnya.

“Lho kan katanya kamu minta aku begini, dah begini malah cemburu”, jawabku.

“Iyah, payah ya?? Aku takut kamu diambil orang Beb”, ujarnya.


“Ya kenapa mangnya?”, tanyaku.

“Ga…Ga papa. Oiya, kamu jd gimana? Laras atau Hanna?”, tanyanya.

“Hanna, aku tetep Hanna. Aku pilih Hanna, Cuma aku ambil beberapa sifat positif Laras. Aku ga mau selamanya jadi Laras. Tanpa sadar, Aku lebih cinta Hanna”, jawabku.

“Kalau aku?? Kamu cinta aku??”, tanya Bho.

“Hmmm….dengan segala sifat kamu, aku sayang sama kamu”, jawabku.

“Cuma sayang??”, tanya Bho.

“Bagiku sayang jauh lebih dalam artinya dibanding cinta. Cinta bisa datang dan hilang begitu aja, kalau sayang ga. Jujur, kalo aku putus sama kamu, Beb. Aku ga akan pernah bisa benci sama kamu”, ujarku.

“kenapa?”, tanyanya.

“Karena aku ga bisa benci sama ayah dari anakku sendiri”, hati kecilku berbicara.

“Karena kamu…….”, jawabku, semuanya tertahan di tenggorokanku.

“Kenapa kamu ngomong „putus? kayak gitu? Apa siy Beb yang kamu sembunyiin? Apa siy?”, tanyanya mendesakku.

“Ga, ga ada apa – apa”, jawabku.

“Kamu punya cowok lain? Kamu marah sama aku? Kamu Benci sama aku, Beb? Apa?”, tanyanya.


“Ga, ga ada cowok lain. Aku ga marah sama kamu dan aku ga akan bisa benci kamu”, jawabku.

“Trus kamu kenapa bisa bilang begitu? Kamu kenapa?”, tanyanya serius.

“Ga papa. Dah sana kamu pulang Beb. Aku ngantuk”, jawabku sambil berdiri dari bangku itu.

“Gak…ga akan pulang kalo kamu ga ngomong”, jawabnya.

Belum sempat aku menjawabnya, Bho langsung memelukku, membisikkan sesuatu di telingaku.

“Aku sayang kamu,entah sebagai Hanna atau Laras. Aku terlanjur cinta kamu, Beb”, bisiknya.

Dia melihat wajahku dan aku membalas apa yang dia bisikkan di telingaku dengan terbata – bata karena tangisku sudah hampir meledak. Menahannya membuatku tersiksa, melepaskannya membuatku lebih menderita.

“Aku sayang kamu sebagai Hanna dan sebagai Laras. Skrg aku memilih Hanna. Aku harus hidup dngan segala kekurangan Hanna, hidup dngan sifat Hanna. Aku terlanjur cinta Hanna dan cinta kamu. Tapi aku terlanjur sayang pada sesuatu yang hidup bersamaku sekarang dan mempertahankannya membuatku kehilangan cinta kamu, jadi maafin aku, Beb”, jawabku yang berusaha sekuat tenaga mengucapkan semuanya.

“Kamu terlanjur sayang apa? Sampai kamu harus merelakan semuanya. Apa hubungannya dengan aku Beb? Sampai kamu merasa akan kehilangan cintaku”, jawab Bho.

“Aku sayang pada sesuatu yang belum nyata Beb. Aku masih harus memperjuangkannya. Aku ga perlu membicarakannya dengan kamu, karena aku
sudah tau jawaban apa yang akan kuterima nanti. Daripada tambah menyakitiku, lebih baik aku rasa sendiri aja”, jawabku.

“Kamu kenapa begini siy?”, tanya Bho.

“Aku Hanna, Ini sifat Hanna yang perlu kamu tau. Tadi kamu bilang terlanjur cinta kan? Sama siapa? Hanna atau Laras? Kalau kamu cinta Laras, Laras sudah ga ada”, jawabku.

“Beb….”, ujar Bho.

“Kalau kamu ga suka Hanna, Silahkan pergi dan pikirkan lagi semuanya”, jawabku sambil menurunkan tangannya yang menangkup wajahku dan segera meninggalkan Bho dalam kebingungan dan tangisku pun meledak seketika ketika aku membalikkan badanku, meninggalkannya.

Aku berjalan menuju tangga kamar kostku ketika sebuah tangan menangkapku dari belakang dan terdengar suara yang begitu familiar di teligaku, Bho.

“Beb, jangan kemana2 plisss….”, pintanya.

“Beb, aku ga kemana – mana. Kamu yang selalu pergi, aku selalu duduk manis tunggu kamu disini. Kamu yang kemana? Kamu yang masih belum bisa meninggalkan kesenangan kamu. Selama kamu belum bisa, aku ga akan bisa bilang sama kamu, sesuatu yang selama ini mengganggu pikiranku”, jawabku.

“Tapi Beb….”, jawabnya.

“You better be go home…It almost 11 o?clock, beb. Ya?”, jawabku.

“Kamu tetep ga bs bicara tentang itu?”, tanyanya.

“Ga bisa sayang, karena aku sudah tau jawabannya tanpa aku bicara sama kamu.

You have to find your own light Babe…..”, jawabku dalam tangisku.

Aku segera melepaskan tangannya, berjalan ke tangga itu, menaikinya dengan cepat, masuk ke kamarku, menguncinya dan mematikan lampu sambil menangis sejadi – jadinya. Aku belum putus dengan Bho tapi lambat atau cepat, itu pasti terjadi.

Aku mengakhiri malam itu entah dengan apa. Aku bingung harus gimana. Sebelum aku memejamkan mata, ada sms masuk ke Hpke, Bho.

“Cinta, aku tau salahku apa, tapi apa terlalu fatalkah salahku? Aku tak sanggup melepaskan gairahku akan sesuatu yang membuat adrenalinku bergejolak tapi kalau aku harus kehilanganmu krn itu, aku ga sanggup.”

Aku membacanya dalam diamku. Liat besok…yang terjadi, terjadilah….

Aku menangis malam itu mengingat semuanya….Apa aku bisa tanpa Bho?

„Suara siapa itu ya??, bisikku dalam hati.

Aku terbangun pagi itu oleh suara merdu seorang wanita yang aku ga tau siapa. Dalam hati mikir..

„Itu manusia atau bukan ya?? Merdu banget suaranya..?, pikirku dalam hati.

Mendengar suaranya seperti ada perasaan galau dan sedih yang berkepanjangan. Seperti perasaan yang tersakiti namun berusaha tegar hadapi semuanya. Setengah mati aku penasaran pengen tau itu suara siapa tapi setengah mati juga ketakutanku, takut kalo itu bukan manusia.

„Ini Kalimantan Hanna…bukan Jakarta?, bisik hati kecilku.

Pagi itu aku bertahan tidak keluar kamar untuk cari tau si pemilik suara merdu
itu. Aku sudah tak bisa memejamkan mataku lagi. Yang ada dipikiranku hanya si „Pemilik Suara Merdu? itu. Aku dapat merasakan apa yang dia rasakan karena aku sedang merasakannya juga.

Akhirnya, aku hanya bisa diam mendengarkan dia menyanyikan lagu itu. Tiba – tiba dia merubah nyanyiannya, lagu berirama melayu. Ugghh…suaranya enak banget, Siti Nurhaliza kalah deh. Beneran. Lagu itu menceritakan tentang kebesaran Tuhan, bagaimana kita manusia menjalani kehidupan ini terkadang melupakan kebesarannya.

Engkana' ri mabellae
Ri lippu wanua laeng
Deceng Muaro Usappa
Uwellai wanuakku
Tanah Ogi Wanuakku
Wanua tallessurekku Indo' ambo' malebblikku
uwa'bokori ulao

Pura janci ri aleku singkerru ri atikku iapa urewe' mattana ogi
uruntukpi usappae

Indo' Ambo' Malebbikku
Aja' tapettu rennuang Marillau ri Puangnge
Natepu winasakku

(dapet liriknya Cuma ga bs nyanyinya…ga bgus suara saya..)

Aku ga tau artinya tapi ini lagunya mengiris banget. Wanita itu menyanyikannya berulang – ulang. Mendengar iramanya, tanpa sadar airmataku menetes. Walau gak tau artinya, tapi kayaknya sedih banget.

Tanpa kusadar, aku tertidur oleh nyanyian itu. Seperti menina bobokan aku yang sudah lupa rasanya tidur nyenyak.

Aku terbangun kedua kalinya hari itu dengan nyanyian. Kulihat jam di HPku, menunjukkan pukul 10.00 WITA. Ugghh…dah siang ternyata dan belum ada tanda – tanda dari Bho sampai jam segini. Aku bangun dan terduduk di kasurku, aku merasakan perasaan yang tak menentu. Mual campur pusing. Hmmm….apa ini yang namanya “Morning Sickness”??

Aku berusaha mengontrol semuanya. Aku berusaha bangun, melihat penampakkan diriku di kaca, menyisir rambutku dengan tanganku sambil berpikir,

„Apa yang mau kulakukan hari ini???

Setelah kulihat rapi, aku bangun dan berusaha mencari dompetku. Aku mau cari makanan yang lumayan bisa isi perutku hari itu. Aku membuka pintu kamarku dan melihat sosok wanita cantik di seberang kamarku, ya….di kamar seberang kamarku, dia sedang menyanyi dengan suaranya yang pelan namun merdu.

Tingginya tidak lebih tinggi dari aku, badannya langsing, kulit putih, rambut panjang dan wajahnya agak seperti campuran Indonesia dan arab, kayaknya. Aku seperti patung didepan pintu kamarku sampai akhirnya si pemilik suara merdu itu melihatku dan menyapaku,

“Halo….”, sapanya.

“Halo juga…”, balasku setengah gagap. Cantik, kayak gambaran Laras.

“Anak baru ya???”, tanyanya.

“Iyah Kak”, jawabku.

“Sini……”, ajaknya untuk datang ke kamarnya.

Aku menutup pintu kamarku dan berjalan perlahan ke kamarnya.

“Kenalin, Namaku Ajeng. Kamu?”, ujarnya.

“Saya Hanna Kak. Tapi Ibu Kost panggil saya Vie, lebih gampang katanya”, jelasku.

“Ya dah, aku panggil kamu Vie aja. Hanna agak sedikit ribet juga”, jawabnya.

“Ya dah…gpp kok”, jawabku yang sambil memperhatikan kamar Ajeng.

Kamarnya penuh dengan boneka manusia, atau biasa kita sebut Barbie. Tipe – tipe wanita feminine tampaknya. Dia juga memakai baju yang sangat wanita buat saya. Andaikan saya punya kepercayaan diri yang besar untuk pakai baju seperti itu.

“Kamu kok pucet Vie? Dah makan kah?”, tanyanya.

“Belum. Gak tau mau makan apa. Perut lagi ga enak”, jawabku.

“Diare kah? Kakak punya obat diare kalau kamu mau”, jawabnya.

“Gak ga…bukan diare. Hmmm..begitulah”, ujarku.

“Begitulah kenapa?? Kamu sakit??”, tanyanya.

“Ceritanya panjang. Lain kali aja Vie cerita Kak. Kakak mau kemana?”, tanyaku.

“Kak Ajeng mau car mam, ikut yuk. Kita mam sama – sama”, ajaknya.


“Iyah. Vie tapi mau ke tempat Ibu kost dulu, gpp?”, jawabku.

“Gpp, Vie mau ke tempat istrinya Abah?”, tanyanya.

“Siapa istrinya Abah kak?”, tanyaku.

“Hmm..kamu belum tau ya?”, jawabnya.
“Tau apa Kak?”, tanyaku heran.

“Ibu – ibu yang tua itu kita biasa panggilnya Istrinya Abah. Dia Cuma yang jagain kost aja. Kalo yang punya kost itu anaknya Abah. Kita biasa panggil dia Suneo. Nah, yang nagihin uang kost itu istrinya, biasa kita panggil Istrinya Suneo”, jawabnya.

“Kok Suneo kak?”, tanyaku setengah mesem – mesem.

“Iyah, soalnya mukanya mirip sangat sama si Suneo di Doraemon itu Vie. Ya dah, tunggu kakak dibawah aja ya”, jawabnya.

“OOO…oke oke”, jawabku setengah ketawa.

Aku turun ke bawah, berjalan perlahan menuruni tangga dan berjalan pelan juga kea rah rumah Istrinya Abah. Sampai disana aku memencet bel nya dan tak lama keluarlah Istrinya Abah.

“Assalamualaikum Bu”, salamku.

“Wa?alaikum salam, Vie. Kenapa?”, tanyanya.

“Ini bu, mau kasih foto copy KTP sama minta kwitansi pembayaran boleh?”, tanyaku.


“Hmm..oiya, Kwitansinya nyusul ya nak. Anaknya Abah soalnya yang bikin bukan Ibu”, jawabnya.

“Oke..ga papa Bu”, jawabku.

“Mau kemana Vie?”, tanyanya.

“Mau cari makan sama Kak Ajeng”, jawabku.

“Ajeng?? Kamu dah kenal Ajeng?”, tanyanya.

“Iyah, Kenapa mangnya Bu?”, tanyaku heran.

“Ga, sekedar informasi aja. Ajeng mau dikeluarkan sama Anaknya Abah”, jawabnya,

“Memang kenapa? Belum bayar kost kah?”, tanyaku.

“Bukan itu, Ajeng itu agak sedikit gila”, jawab si Istrinya Abah.

“Hah…?? Gila gimana?”, tanyaku.

“Iyah, dia suka ngamuk. Suka ngomong sendiri. Dia agak stress”, jawabnya.

“Masa siy bu? Suaranya bagus kok. Semalam Vie dengar”, jawabku tak percaya.

“Iyah, tak tau lah dia kenapa. Dia gak ngamuk kah semalam?”, Tanya Ibu.
“Ga kok bu, ga sama sekali”, jawabku.


“Kak Ajeng, dari mana?”, tanyanya.


“Dari cari mam ini sama anak baru, kenalin Say”, jawab Kak Ajeng.

Sosok itu pun muncul dihadapanku, wanita lebih mungil dari Kak Ajeng, kulitnya agak lebih coklat dari aku. Tersenyum manis menghampiriku.

“Namaku Nur Aini. Panggil Aini aja atau Gadas juga ga papa”, jawabnya.

“Vie, namaku Vie. Kok Nur Aini jadi Gadas??”, tanyaku.

“Panjang ceritanya. Eh, lahir tahun berapa kah?”, tanyanya.

“Hmmm….198*. kenapa mangnya?”, tanyaku.

“Weeehh…berarti Kak Ajeng tetap paling tua ya. Keduanya Kak Vie. Disini semuanya rata – rata 88 – 87 kak”, ujarnya.

“Wedew….Masa?? Kak Ajeng memangnya lahir tahun berapa?”, tanyaku.

“198* Vie. Tua yaaa??”, jawab Kak Ajeng.

Akhirnya kami bertiga terlibat percakapan yang mulai akrab. Tadinya berdiri jadi duduk di ruang tamu sambil ngemil Snack dari kamar Kak Ajeng sama Aini. Pukul 10.00 malam, Kak Ajeng pamit untuk tidur. Dia pun segera berlalu dan kami, aku dan Aini meneruskan percakapan kami lagi. Selang berapa jam, aku teringat dengan yang dibicarakan Istrinya Abah tadi siang.

“Ai, boleh Tanya kah?”, tanyaku sambil sedikit berbisik

“Ya, kenapa Kak?”, jawab Aini.

“Kak Ajeng memang „agak agak? ya Ai?”, tanyaku

“Hmm…dia bukan gila Kak, Cuma depresi”, jawab Aini.

“Depresi kenapa?”, tanyaku.

Aini pun menjelaskan panjang lebar tentang alas an kenapa Kak Ajeng depresi.

Dulu Kak Ajeng punya pacar, waktu SMU kelas 2. Mungkin karena salah pergaulan, Kak Ajeng hamil waktu umur 16 tahun dan akhirnya sang pacar pun menikahi Kak Ajeng. Mereka sama2 masih belia. Ternyata, si suami ( dah jadi suami Kak Ajeng ), terlibat sama Narkoba juga. Kak Ajeng ga bisa apa – apa karena saking cintanya. Suatu malam, pas Kak Ajeng sedang hamil tua, Si Suaminya pulang ke rumah dalam keadaan sadar tapi bawa perempuan. Kak Ajeng marah, Tanya siapa perempuan itu. Suaminya gak jawab. Sang suami pun bermesra – mesraan dengan perempuan itu dihadapan Kak Ajeng.
Kak Ajeng awalnya santai, tapi lama – lama stress juga. Setelah perempuan itu pulang. Dia bicara sama suaminya, maunya apa. Tapi ga digubris sama suaminya. Kak Ajeng terus desak suaminya untuk bilang maunya apa. Akhirnya si suaminya bilang ke Kak Ajeng, maunya apa. Dia mau Kak Ajeng lakuin sesuatu buat dia untuk tunjukkin kalo Kak Ajeng sayang sama dia. Suaminya minta Kak Ajeng buat iris urat nadinya.

Dilatar belakangi perasaan sayang lah, akhirnya Kak Ajeng menuruti apa yang suaminya mau tapi dengan satu kondisi, suaminya juga harus nurutin apa yang Kak Ajeng mau. Suaminya juga mau ngelakuin apa yang Kak Ajeng mau. Kak Ajeng minta suaminya Minum Obat Nyamuk. Deal, akhirnya mereka melakukan apa yang pasangannya masing – masing minta. Kak Ajeng motong urat nadi dan suaminya minum obat nyamuk.

Apa yang mereka lakukan masuk Koran di Samarinda. Dua – duanya berhasil diselamatkan. Tapi anak yang dikandung Kak Ajeng harus lahir premature.

Sejak saat itu, Kak Ajeng jadi depresi. Dia sering minum obat2 penenang sampai dia ga sanggup hidup tanpa obat – obat itu. Sampai lahir anak keduanya.

Anaknya 2, Yang pertama perempuan, namanya Bella. Yang kedua laki – laki namanya Vio. Setelah lahir anaknya yang kedua, ternyata suaminya ga berubah – berubah, padahal Kak Ajeng sudah berkorban banyak sekali, sampai dia jadi begini.

Sekarang, anak – anaknya diasuh sama ibunya Kak Ajeng, sementara Bapaknya ga nerima Kak Ajeng lagi dirumahnya. Itu alasan kenapa Kak Ajeng kost. Dia gak diterima sama keluarganya lagi.

Dia memang suka ngamuk, tapi itu jarang terjadi lagi sejak anak – anak kost mulai sering mengajak Kak Ajeng komunikasi dan Kak Ajeng mulai membuka diri.

Malam itu, sambil tiduran, lampu mati, aku berpikir. Aku gak mau sampai depresi seperti Kak Ajeng. Cukup buatku melihat jalan cerita Kak Ajeng. Dia cantik, sempurna dimataku tapi dibalik itu, dia menyimpan suatu perasaan yang tak ingin aku miliki. Aku ingin bertahan, mempertahankan sesuatu yang sekarang hidup ditubuhku.

Aku mungkin punya hubungan yang sangat indah dengan seorang Dewa yang entah sedang apa sekarang. Dia tak memberiku kabar sama sekali hari ini. Mungkin sekarang dia sedang sibuk untuk repel – repel di Sette dan mencoba menjadi pahlawan untuk rakyat – rakyat Accretia di Comet. Dia memang Dewa, tapi aku manusia. Manusia yang masih punya hati, perasaan dan keinginan. Bukan berarti Dewa ga punya perasaan, tapi Dewa ga bisa jadi milikku seutuhnya.

Bho, Dewa di RF Online. Rasanya dia sudah jadi milik semua Acc disana, bukan milik VieaNKaChu yang biasa – biasa aja. Aku Manusia, bukan jalanku untuk jadi pendamping seorang Dewa seperti Bho.

Aku ga mau depresi karena itu…..aku cukup bahagia pernah merasakan cinta sesosok Dewa bernama Bho di hidupku dan sekarang aku ingin memperjuangkan apa yang sudah terjadi.

Aku, harus bisa berdiri tanpa Bho…..


Hari – hari berikutnya, tak jauh berbeda dari hari sebelumnya. Yang membedakan adalah aku mengenal banyak teman – teman baru. Kebetulan aku berada di Kamar No. 11, Kak Ajeng No. 9 dan Aini No. 5. Aku berkenalan dengan teman – teman yang lain. Ada Nisa di Kamar No. 6, Ada Cici di Kamar No. 7, No. 8 kosong, No. 10 Wulan, No. 12 Lisa, No. 13 Wati, No. 14 Lina dan No. 15 kosong.

Hari – hari berlalu dan aku masih dalam kegundahan yang sama. Aku tidak merasakan sendirian disini sekarang, ada teman – temanku tapi entah kenapa ada bagian didiriku yang hilang. Aku sadar, bagian yang hilang itu adalah Bho. Terkadang aku pengen banget sms dia, tapi takut ga dibales dan akhirnya aku merasa kecewa.

Sifat Bho yang lain adalah dia ga mau balas sms kalau itu ga penting buat dia. Dia juga gak akan angkat telpon yang menurutnya ga penting. Jadi percuma kalau aku sms dia tanya kabar, dia ga akan mungkin balas karena menurut dia, tanya kabar itu ga penting, kecuali aku kabarin kalo aku dah mau tenggelam di Sungai Mahakam atau Kost ku kebanjiran dan aku tinggal 0.5 meter lagi mau tenggelam, itu baru penting buat seorang Bho.

Buat dia, RF Online terlalu berharga untuk dilewatkan. Buatnya, melewatkan 1 chip war, sama dengan keterbelakangan. Dia ingin lebih dari yang lain soal RF Online. Dia bilang kalau dia pengen jadi Archon tapi itu ga mungkin. Saat itu, ga ada yang bisa mengalahkan CurseAngel ataupun Xmagic. Atau akhir – akhir ini, CurseAngel mengundurkan diri sementara dan digantiin sama Xmagic. Ingin rasanya pergi cari wargame trus coba maen RF lagi, tapi keinginan itu kutahan sampai akhirnya aku ga tahan.

Malam itu aku ke wargame deket kost, waktu menunjukkan pukul 19.00 WITA. Aku berjalan ke Wargame tempat Bho biasa beli Premium ( Voucher Lyto ) namanya Acc-Reload. Aku membayar paket 3 jam. Aku berjalan kaki dari kostku ke sana, agak lumayan tapi dah biasa. Aku langsung memilih pc dekat jendela.


Aku mengaktifkan YMku, rasanya kangen banget sama semua teman – temanku.
YM ku aktif, aku langsung bisa melihat daftar teman – temanku,…

„Mas Andi Online?, pekikku kegirangan.

Belum sempat aku menuliskan sesuatu untuk Mas Andi, dia lebih dulu mengirimkan msg padaku.

“Anak ilang, kemana lo? Ngapain aja lo disana?”, tanyanya.

“Mas Andiiiiii, pengen pulang!!!”, jawabku.

“Kenapa? Mang ada apa??”, tanyanya.

Aku, saat itu, menceritakan semua yang terjadi. Mas Andi shock, dia marah dengan semuanya. Dia mendadak jadi benci dirinya hari itu. Ga sampai beberapa menit, semua YM teman – teman kantorku aktif dan menanyakan kebenaran itu. Aku hanya bisa menatap layar monitorku, menekan tombol – tombol keyboardku dengan perasaan ga tentu. Menangis ga bersuara cukup membuatku tersiksa.

Sejak saat itu, Acc – Reload jadi sahabatku. Setiap saat aku datang kesana untuk sekedar say hai pada teman – temanku.

Hari berganti hari, tak terasa hampir setengah bulan aku ditempat kost baruku dan sadar, ternyata Bho tak pernah ada kabar. Aku semakin dekat dengan teman – teman kostku, jalan ke Mal Lembuswana, Minum Es Campur dekat Kampus WidyaGama, makan Nasi goreng Mawut enak deket kost, tempat – tempat yang mungkin Cuma ada dalam mimpiku kalau aku masih ada di kost ku yang lama. Aku dikenalkan pada teman – temannya Aini, anak2 Pencinta Alam disana. Kami sering ngobrol – ngobrol, tuker pikiran, tapi yang jelas, mrk ga tau aku hamil.

Sampai suatu malam, aku, Aini habis jalan – jalan liat panjat tebing di daerah
Tepian. Malam itu kami pulang agak malam, jam 11. Dari depan, semuanya tampak biasa saja, tapi begitu kami buka pintu yang menuju anak tangga ke atas, terdengar suara Kak Ajeng ngamuk. Aini langsung naik keatas, sementara aku mengunci pintu dl. Naik perlahan dan takjub.

Kak Ajeng ngamuk sambil mengeluarkan kata – kata yang unbelievable. Aku memperhatikan dia yang duduk di kursi meja tamu sambil marah – marah ga jelas. Aini berusaha menenangkan. Aku gak takut, aku hanya berpikir kalau aku ga mau seperti Kak Ajeng. Sadar kalau aku hanya memperhatikannya, dia melemparkan asbak kearahku. Asbak itu pecah berkeping – keping lantai depan kakiku…

“Ngapain lo liat – liat hah??? A***NK lo….makan tuh asbak”, hardik Kak Ajeng.

“Kak, itu Vie bukan dia!”, jawab Aini.

“Lo lagi, ngapain siy lo ada disini?? Mau liat M***K gwe…gwe kasih liat. Ai baik sama kamu”, jawab Kak Ajeng.

“Apaan siy??”, jawab Aini.

Aku melihat sekeliling, Lina, Wati, Wulan dan yang lain hanya bisa melihatku dan Aini dengan wajah yang tak bisa kugambarkan, takut, kasihan, entah.

Aku maju selangkah….tiba – tiba tertahan oleh suara kencang Kak Ajeng.

“Mo ngapain siy lo? Ga puas lo dah bikin hidup gwe begini?? Ga puas lo liat gwe masih idup? Ga puas lo liat gwe gilaa?? Hah??”, tanya Kak Ajeng padaku.


Aini melihat padaku dan memberi aba – aba untuk diam. Tapi aku ga bisa…aku mengacuhkan semuanya.


“Ga mau ngapa2in gwe. Gwe Cuma mau liat keadaan lo. Gwe seneng lo masih idup tapi gwe ga suka liat lo begini, ngerti?”, jawabku.

Tak disangka – sangka, Kak Ajeng membalas ucapanku.

“Ngapain lo care sama gwe? Lo dah bawa cewek kerumah kita. Lo kenapa
sakitin gwe?”, tanyanya.

“Gwe ga ada niat nyakitin lo…”. Jawabku.

Aku kehilangan kata – kata, tak terasa airmataku mengalir. Aku teringat Bho.
Aku…..

“Kenapa Lo diem Hah? Gwe sayang ma lo, gwe rela kehilangan semuanya demi lo. Gwe rela, kenapa lo begitu?”, tanyanya.

Aku Cuma bisa diam. Tangisku semakin menjadi. Aku merasa, Kak Ajeng sedang merasakan yang aku rasakan. Seolah – olah dia tau isi hatiku.

“Lo mau tau pengorbanan gwe buat lo? Oke….lo liat..liat baik – baik”, ujar Kak Ajeng.

Aku menengadahkan kepalaku, berusaha melihat yang terjadi, Cuma itu terlalu cepat untukku.

Kak Ajeng melemparkan botol kaca ke lantai, mengambil pecahannya dan menggenggamnya erat – erat. Aku Cuma bisa diam, tangisku semakin menjadi. Aini Cuma bs diam, entah apa yang dilakukannya. Sementara yang lain, aku Cuma bisa mendengar Wati terisak – isak di depan kamarnya.

Kak Ajeng membuka genggamannya, Kaca itu dijatuhkannya ke lantai dan aku melihat darah disana. Aku langsung lemas, terduduk ditempatku berdiri.


“Kau liat kan Ai. Ai mampu kan. Gak sakit..tuh liat darahnya Ai, cantik kan Ai?”, tanya Kak Ajeng.

Aku menangis sejadi – jadinya. Aku ingat semuanya. Ingat teman – teman kantorku, ingat teman – teman guildku. Aku terpaku. Aku ga mampu bicara apapun. Yang aku pikirkan hanya sesuatu di perutku. Rapuh dan hanya bisa bergantung padaku. Aku penentu keputusan, akan dibawa kemana hidupku. Sungguh, Aku ga mau seperti Kak Ajeng.

“Duuhhh..sakit niy”, ujar Kak Ajeng membuyarkan lamunanku.

Kak Ajeng terbangun dan tiba – tiba dia terjatuh lemas. Aku segera bangun dan menghampirinya. Aini langsung lari ke kamarnya entah untuk apa. Lina langsung menghampiri Wati yang terduduk lemas di depan kamarnya. Aku….aku mengangkat kepala Kak Ajeng, menepuk2 wajahnya, mengharapkan dia sadar segera.

Aini tiba – tiba datang membawa kotak P3K. Aku tertegun. Tangisku belum reda ketika Aini memberikan sesuatu ke arah hidung Kak Ajeng dan tak lama setelah itu, Kak Ajeng sadar…

“Vie, kenapa nangis??”, tanyanya dengan suara parau.

Aku tak bisa menjawabnya, Aku Cuma bisa menangis. Melihatnya keheranan, membuat tangisku semakin menjadi.

“Vie mau minta maaf. Maaf. Vie ga bisa, Vie ga mau kayak gini. Vie ga mau kayak Kak Ajeng”, ujarku.

Aini heran, Kak Ajeng yang belum sadar betul langsung bangun dan duduk menghadapku.

“Ini kenapa berantakan?? Kakak ngamuk lagi yaa? Duuhh..sakit”, ujar Kak Ajeng.

“Ya, diem dulu Kak. Aini obatin dulu luka Kakak”, jawab Aini.

“Vie kenapa?”, tanya Kak Ajeng.

Aku diam seribu bahasa. Aku bingung. Akhirnya, diputuskan bahwa malam itu kami kumpul di kamarku. Aku menjelaskan dari awal kedatanganku ke Samarinda sampai hal itu terucapkan dari mulutku. Kak Ajeng dan Wati langsung memelukku, Aini menangis sambil memaki – maki aku, yang lainnya terduduk lesu.

Malam itu, semua tidur dikamarku, dempet – dempetan.

Pagi harinya, Kami terbangun karena ibu kost terheran – heran. Pintu kamarku terbuka, sementara kami tidur dah kayak Ikan Peda. Ibu membangunkanku dan yang lainnya, menanyakan ada apa kok bisa tidur dikamarku. Alibi mereka,

„Nemenin Vie, eh ketiduran?…..

Semuanya kini lebih perhatian padaku. Aku dilarang untuk mengugurkannya. Aku pun tetap pada pendirianku. Aku tetap menjalani semuanya walaupun terasa sesuatu telah hilang dari diriku. Aku tetap belajar naik motor pakai motor Astrea Aini, malah pernah jatuh naik motor Pacarnya Wati di dekat jalan mau ke Lembuswana bawa New Revo. Nekat. Tapi Tuhan memang punya jalan lain. Sesuatu yang ada di perutku tetap pada tempatnya.

Semuanya berjalan biasa….Aku tetap aku…dia, biar dia menjadi sesuatu yang memang dia kehendaki. Aku belum bisa mengatakan apapun pada Bho. Tapi sesuatu terjadi dihari selanjutnya…..

Sesuatu yang sudah aku duga sebelumnya……tapi apa yang sudah kulalui
tanpanya, membuatku sadar. Dewa sedang sibuk….aku manusia, Cuma bisa
berharap….selebihnya……biar waktu yang jawab…

Andai aku mampu tanpa dia….apakah bisa???

Semua berjalan lancar. Perasaan kehilangan sedikit terobati dengan munculnya banyak kawan baru. Teman – temannya Aini, Pacarnya Wati, Suaminya Aini,
Suaminya Nisa, rameee…

Tapi itu hanya kurasakan saat matahari menyapa. Begitu Sang Bulan menyampaikan Selamat Malam padaku, airmata mulai berjatuhan. Teman – temanku di Jakarta mulai menelponku walaupun aku belum jujur tentang semuanya, hanya segelintir saja. Tapi hari itu, semuanya berubah.

24 Maret…..

Pagi itu aku terbangun seperti biasa. Yang tak biasa hanya ketika aku membuka flip HPku. Ada 16 miskol dan 4 sms tertulis dilayar itu. 16 miskol itu dari beberapa orang, Panca, Mas Andi, Yudha, Kakakku dan Satria. 4 sms dari Mas Andi, Yudha, Kakakku dan Aini. Semuanya menanyakan keadaanku sedangkan Aini, mengajakku jalan – jalan. Aku langsung membalas sms dr Aini, tapi yang lain kubiarkan saja.

Tak lama, ada Telpon masuk, dari Panca. Aku mengangkatnya.

“Ras….”, sapa suara panca yang agak berat.

“Iyah, muuv. Baru bangun”, jawabku.

“Kamu mau sampe kapan disana??”, tanyanya.

“Gak tau..kenapa?”, tanyaku.

“Lo mending balik kesini, ke Jakarta. Disini lo ga akan sendiri dan lo harus tau, ga penting kehadiran lo disana kan buat Bho? Mending pulang”, ujar Panca.

“Gwe pikirin dulu, Nca. Lagian kalo mau pulang, Gwe harus tunggu dana gwe cair kan”, jawabku.

“Ga perlu. Anak2 mau lo balik secepatnya. Masalah uang, ga usah dipikirin. Lo mau ga?”, Tanya Panca.

“Gwe pikirin dulu nca!!”, jawabku.

“Apa lagi siy yang lo pikirin? Jangan sampe Jho niy yang ngomong Ras…”, jawabnya.

“Iyah iya…..besok pagi gwe kabarin lo ya”, jawabku

“Iyah”, jawab Panca.

Percakapanku dengan Panca pagi itu membuatku berpikir kalau aku harus menghubungi Bho. Langsung aku menghubungi Bho via sms dengan alibi aku minta diantarkan nge-print dokumen. Dia kali ini membalasnya, dia membalasnya hanya dengan kata – kata “Oke”.

Malam menjelang, waktu yang kutunggu – tunggu akhirnya datang. Bho datang pukul 8 lewat. Dia menelponku ketika sudah sampai, seperti biasa. Aku segera turun perlahan ke bawah untuk menemui dia. Ketika aku melihatnya di bangku panjang itu, aku melihatnya menghela nafas, dalam sekali. Dia pun segera bangkit dari bangku itu menghampiriku.

“Langsung berangkat yuk”, ajaknya.

Aku kaget…..

“Oke”, jawabku sambil memakai Helmku yang sama persis seperti punyanya. VOG Super Sonic Hitam.

Aku langsung naik motor Satria nya. Dia membawaku malam itu dengan kecepatan lambat, seperti sebelumnya. Cuma kami ga banyak bicara. Dia mengantarkanku ke tempat biasa, daerah dekat Universitas Widya Gama, bnyk rental computer disana. Setelah aku mem – print semuanya, kami segera pulang. Di perjalanan pulang, aku memeluk pinggangnya, tapi tiba – tiba dia bilang sesuatu,

“Jangan dipeluk, ga enak”, ujarnya.

Spontan aku langsung melepaskan tanganku dari pinggangnya dan berpegangan pada handle di belakang. It?s a bad sign and I feel it.

Begitu sampai di kostku, dia langsung berangkat lagi setelah menanyakan sesuatu ?
padaku.

“Ehm….nanti malam, HP standby ga?”, tanyanya.

“Iyah, kenapa?”, tanyaku.

“Mau telpon, ya dah. Pulang dulu”, ujarnya.

Aku masih sempat mencium tangan kanannya, sekedar berusaha menenangkan hati. Aku berjalan agak perlahan ke kamarku dan aku kaget karena Kak Ajeng dan Lina sudah ada di depan kamarku.

“Itu Kak Vie orangnya?”, Tanya Lina.

“Iyah”, jawabku.

“Kakak dah kasih tau dia?”, Tanya Lina.


“Blum. Lagipula aku dah tau jawabannya”, jawabku sambil berusaha membuka pintu kamarku.

“Kenapa ga dikasih tau?”, Tanya Kak Ajeng tiba – tiba.

“Aku dah tau jawabannya Kak”, jawabku.

“Apa perlu Kakak yang bilang?”, tanyanya.

“Ga usah, Vie dah tau jawabannya”, jawabku

“Apa mang jawabannya?”, Tanya Lina.

Aku masuk ke kamarku, mereka pun langsung masuk. Aku duduk di kasurku dan langsung menatap mereka.

“Jawabannya, Aku harus gugurin kandunganku”, jawabku.

“Masa??? Tau dari mana Ai?? Parah banget siy”, jawab Kak Ajeng.

“Dia yang bilang Kak. Dia akhir – akhir ini suka ngerasa lapar berlebihan, pokoknya kayak org ngidam”, jawabku.

“Trus, dia ngerasa?”, Tanya Lina.

“Dia Tanya ke aku, aku hamil atau ga?”, jawabku.

“Trus kakak bilang apa?”, Tanya Lina.

“Aku bilang, aku ga hamil”, jawabku.

“Bodoh benar siyyyy!!!”, jawab Kak Ajeng.


Aku terdiam. Mereka asik bicara sendiri. Tiba – Tiba HP berbunyi, Nada dering itu menandakan Bho yang telpon.

“Siapa Kak?”, Tanya Lina.

“Cowokku”, jawabku lemas.

Aku segera mengangkat telp itu……mereka pilih keluar dari kamarku dan ngobrol di ruang tamu.

“Ya…..”, jawabku.

“Dah siap denger apa yang mau gwe omongin?”, Tanya Bho.

“Iyah…kenapa?”, tanyaku.

“Ehmmm..kayaknya lebih baik kita Bubar aja”, ujarnya.

“Hmm…oke”, jawabku datar.

“Gwe ngerasa, lo ternyata lebih asik dijadiin temen aja”, jawabnya.

“Hmmm…oke”, jawabku datar.

“Gwe ngerasa, sayang gwe ke lo ternyata Cuma karena Kasihan aja”, ujar Bho.

“Hmmm….”, jawabku.

“Gwe ngerasa, selama ini, kok gwe yang cerita terus ya? Lo ga pernah cerita apapun sama gwe, ga kayak dulu”, jawabnya.

“hmmm…..”, jawabku.


“Tapi gwe ga mau lo jadi saudara gwe. Gwe mau lo cukup jadi temen gwe aja. Lo juga harus kenalin cowok yang lagi deket sama lo, kalo gwe ga suka, lo ga boleh sama dia”, ujarnya lagi.

“Hmmm…oke”, jawabku lebih datar lagi.

“Trus kenapa lo dari tadi Cuma jawab „Hmmm..oke?, gimana jadi keputusannya? Mau ga mau, lo harus terima keputusan gwe buat Bubar”, ujar Bho.

“Ya Oke…as you wish My Lord”, jawabku.

Kami diam sesaat. Aku sama sekali tidak menangis. Rasanya udah ga ada airmata lagi buat dikeluarin. Aku Cuma berpikir, aku harus ambil keputusan apa ttg kandunganku.

“Ehm…..jadi setuju niy?”, Tanya Bho kedua kalinya.

“Ya, kan td lo bilang, „mau ga mau, lo harus terima?..ya dah”, jawabku datar.

“Emmm..kok lo berubah siy?”, tanyanya.

“Gwe biasa aja lagi Sa”, jawabku.

“Lo beda, kenapa lo terima aja keputusan gwe?”, tanyanya.

“kan lo yang minta gwe harus setuju Sa, Gwe bakal lakuin apapun asal lo bahagia Sa”, jawabku.

“Ya tapi bukan gituu….”, ujarnya.

Aku mulai geram dengan sikapnya, alhasil, aku keluarkan semua uneg – uneg dihatiku.


“Gini ya Sa ( aku memanggilnya Sasa – nama kecilnya ), yang suruh gwe terima keputusan ini siapa?”, tanyaku.

“Gwe”, jawabnya.

“Yang ngerasa kalo lo terus yang punya cerita sementara gwe diem aja, siapa?”, Tanyaku.

“Gwe”, jawabnya melemah.

“Lo tau kenapa gwe ga pernah bisa cerita apa2 disini?”, tanyaku

“hmmmm….”, jawab Bho.

“Karena gwe ga punya cerita apa2. Apa siy yang mau gwe certain ke lo kalo gwe kemana2 ma lo. Lo tiap datang ke kost gwe Cuma ngomongin RF, ambil posisi pewe buat tidur, minta gwe buat elus2 punggung lo dan lo tertidur. Minta dibangunin jam 11 buat ke GEIM, begitu setiap harinya. Lo bisa kemana2, gwe?”, jawabku datar.

“Iyah…”, jawabnya.

“Kalo masalah jadi saudara atau teman, ga penting Sa, apa bedanya?”, tanyaku.

“Beda, kalo saudara, aku pasti sering keep in touch tapi kalo temen ga”, jawabnya.

“Trus apa bedanya? Jadi kalo gwe jadi saudara lo, lo bakal keep in touch?? Gwe cewek lo aja nunggu kelelep dulu baru boleh kasih kabar”, jawabku.

“Aku ga bisa gitu aja….aku dah…”, jawabnya terbata.

“Apa?? Karena lo dah ambil semua yang gwe punya? Lo dah ambil keperawanan gwe? Gitu?”, tanyaku.

“Ya, itu yang biking aku bingung”, jawabnya.

“Terserah. Lo manusia bebas sekarang, Find your happiness Sa. Taruhan, lo ga akan bisa berenti main game dan lo ngerasa ga enak kan karena lo punya 'adik – adik ketemu gede' lo diluar sana sama gwe?”, tanyaku.

“Ya…..”, jawabnya.

“as you wish…lo bisa bebas atur hidup lo sekarang. Sebenernya gwe juga ga mempermasalahkan 'adik2 ketemu gede' lo itu, gwe wanita dewasa Sa”, jawabku.

“Ya……”, jawabnya dengan nada makin melemah.

“Ya dah…..have a good day ya Sa”, jawabku.

“Tapi, kalo kamu butuh bantuanku, sms aja ya”, ujarnya.

“Tenang aja Bozz”, jawabku.

“Ehhmm….”, ujar BHo.

Tanpa berlama – lama, aku langsung menutup flip HPku tanpa menunggu dia akan menjawab apa. Aku langsung kirim sms ke Panca kalau aku mau pulang ke Jakarta, jadi aku setuju untuk pulang. Panca mengirimkan sms kembali padaku.

“Oke, nanti gwe kabarin Ras dapet pesawat tgl berapa ya. Jaga kesehatan lo disana, jangan stress, gwe kabarin secepatnya”

Aku segera membalasnya dan mengabarkan kalau barusan Bho telpon aku dan memutuskan untuk bubar. Tak lama Panca bukan sms lagi, tapi telpon. Kuangkat telponnya.


“Gilaaaaaaaaaa…”, kata – kata itu yang pertama kudengar ketika kuangkat telp dr Panca.

“Ya udah, semuanya dah selesai. Gwe pulang!”, jawabku.

“Anj**k Ras. Lo kayak kesana buat dihamilin trus diputusin. B**I !!!”, jawab Panca emosi.

“Udah – udah, Udah malem, jangan teriak2. Besok aja diomongin. Kabarin aja dpt pesawat tgl brp jam berapa ke gwe. Gwe mau tidur dulu ya nca..pusing kepala gwe”, jawabku datar.

“Sabar ya. Gwe jadi bingung mau jawab apa kalo anak – anak Tanya kenapa lo mau disuruh balik ke Jakarta”, jawabnya.

“Ya dah, ga usah dipikirin”, jawabku.

“Lo enak banget ngomong „ga usah dipikirin?. Lo dah kayak kakak buat Scorpie Ras, lo hamil, cowok lo B***sat mutusin lo dan gilaaaa….”, jawab Panca.

“Udah2….”, jawabku.

“Ya dah, gwe kabarin besok secepatnya”, jawab Panca.

“Oke”, jawabku sambil mematikan HPku.

Aku berdiri, menutup pintu kamarku, mematikan lampu kamar, tapi aku tak menutup jendela serta tirai jendelaku. Aku mau melihat indahnya bulan malam ini sambil memikirkan, bagaimana hidupku selanjutnya.

Malam itu, bulan sangat terang, banyak bintang. Aku jarang liat bintang di Jakarta. Aku teringat Alm. Ibuku. Dia suka sekali dengan bintang, huuffttt….tiba
– tiba HPku berbunyi, kulihat, Satria.

Aku malas mengangkatnya. Aku reject. Langsung kumatikan HPku.

Mala mini aku mau merenung….merenungi semuanya..karena aku merasa ada yang aneh…benar – benar aneh…tapi aku ga tau apa???

Huuffttt….aku Cuma mau merenung…….Keputusan apa yang harus aku ambil sekarang? …what must I Do GOD ????

Keesokan pagi, Aku tak langsung menyalakan HP. Aku bangun karena sinar matahari dah teraaaanggg banget..menyapaku hari itu. Tampaknya sisi kelam dari apa yang kurasakan semalam sirna. Aku langsung membuka lemari pakaianku, kurapikan semua isinya. Kupilah – pilah karena ada beberapa barang yang pernah dipinjamkan Bho padaku.

Aku melihat selimut kuning bunga – bunga biru ungu yang dipinjamkan Bho dulu, kupisahkan dari baju – bajuku. Setelah semuanya rapi, aku pindah ke atas lemari tempatku menyimpan gelas dan piring, semuanya kurapikan, kujadikan 1 tas besar.

„Beres?, ujarku dalam hati.

Kuperhatikan tas besar itu, ada gulungan kabel sambungan, hanger, selimut, 1 gelas, 1 mug, 1 piring, 2 sendok, sendal, peralatan tulis, sampai Helm VOG Super Sonic Hitam kesayanganku ada di dalam tas itu. Selesai semuanya, aku mengaktifkan Hpku. Begitu aktif, ada sms datang bertubi – tubi. Ada sms dari Panca, Satria, Kakakku, Lina….

Aku buka sms dr Panca, isinya :

“Ras, dah dapet tiketnya naik Lion Tgl. 3 April ya jam 13.15 dari Balikpapan ya.
Ntar dijemput anak2. Ambil di Lion cabang sana aja. Welcome Home, Buuu”


Aku senang membacanya. Aku langsung membalasnya. Sementara dari Satria, isinya menanyakan kebenaran ttg Bho dan aku. Aku membalas smsnya sekenanya aja, karena agak berat juga ngomonginnya. Kalau kakakku, biasa…..tanya keadaanku dan gimana ttg Bho again. Sama kayak sms dari Lina, semaksud….

Aku ga mau pusing mikirin masalah itu.

Hari berganti hari…..kepulanganku semakin dekat. Sampai tiba dimana hati yang kunantikan segera datang.

02 April…..
“Kak, nanti jadi ke Lembuswana?”, tanya Wati kepadaku di depan kamarku.

“Ya, anterin ya Wat, naik taxi ( angkot dibilang taxi di Samarinda ) aja, ya?”, tanyaku.

“Ga usah Kak, naik motor aja. Pelan2, Wati yang bawa nanti”, jawabnya.

Aku hanya mengangguk setuju sambil bersiap – siap. Tak berapa lama, kepikiran juga buat sms Bho, mau mulangin barang2nya. Akhirnya aku mengambil Hpku.

“Sa, nanti malem bisa minta tolong ga anterin ke tempat yang bs baca memory card? Mau ambil data di digicam”, smsku pada Bho.

Tak berapa lama….

“Ya, tapi maleman aja. Gpp kan?”, tanyanya di sms

Aku membalasnya….

“Ya, kabarin aja”, jawabku….


“Sms siapa kah?”, tanya Wati yang tiba – tiba dah nongol di depan kamarku.

“Aji, kenapa?”, tanyaku.

“Ngapain Kakak sms dia?”, tanya Wati dengan nada sedikit bete.

“Ini, mau pulangin barang – barang yang pernah dipinjemin dia ke Kakak”, jawabku.

Semua anak – anak di kost dah tau kalau aku bubar dengan Bho. Makanya mereka agak gimana gitu kalo denger namanya keluar dari mulutku.

Pagi itu aku diantar ke Mall Lembuswana, di ruko sekitar situ, ada cabangnya Lion Air. Aku dengan mudahnya mendapatkan Tiket, dah dibayar pulang, bener – bener deh.

Aku langsung sms Panca, konfirm kalau tiket sudah di tangan. Setelah itu kami jalan – jalan dulu, sekedar melepas lelah dan plesir2 terakhir kali buatku.

Jam 7 kami sampai kost, naik sebentar, melepas lelah. Hehehehe…ngobrol sana…ngobrol sini…tiba2 Hpku berbunyi….dering itu, Bho!

“Ya?”, jawabku.

“Aku dibawah, turun”, jawabnya.

Aku ga langsung turun, aku liat dia dr teras atas. Ternyata dia liat aku.

“Sini, turun”, ujarnya.

“Ya”, jawabku.
Aku turun dengan baju seadanya dan membawa perlengkapan yang kubutuhkan.
Flashdisk, digicam, dompet, semuanya. Aku berjalan ke arah parkiran motor, aku melihatnya duduk diatas motornya, pakai kaos hitam. Dia tidak membuka helmnya.

“Haloo”, sapaku.

Dia agak bengong liat aku datang dan aku ga tau apa yang dia bengongin. Dia terpaku duduk di motor Satrianya menatapku.

“Hei, ngapain bengong?”, tanyaku sambil menghentakan pundaknya.

“Ehhh….”, jawabnya tergagap.

“Ayo….berangkat. Jangan kelamaan, lo ke GEIM kan?”, tanyaku.

“Iyah”, jawabnya.

“Oke..berangkat Bang!”, ujarku.

Aku menaiki motor Satrianya, ini terakhir kali aku menaikinya. Aku menaikinya perlahan dan dia mengendarai dengan perlahan pula. Aku ga memeluk pinggangnya lagi, aku memegang handle dibelakangku. Ada perasaan aneh malam itu. Dia mengantarku ke Konika terlebih dahulu di daerah Jl. A. Yani, dekat TripleX. Aku turun dan langsung melepas helmku, langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan Bho yang masih berusaha memarkir motornya, biasanya, aku tunggu dia, skrg ga.

Aku langsung masuk dan menaruh helmku ditangan sebelah kiri. Aku melihat Bho membuka helmnya dan duduk di kursi tunggu. Melalui ujung mataku, aku bisa tau kalau Bho mengamatiku dari jauh. Matanya tak pernah lepas menatapku, tapi begitu aku menatapnya, dia langsung nunduk. Aku menghampirinya sambil menunggu giliranku dilayani si customer service.


“Sa, titip tas yaa”, ujarku padanya

“Iya..eehhmmm….”, jawabnya sambil menatapku.

Aku berdiri didepannya dan dia duduk menghadap padaku.

“Kenapa Sa?”,tanyaku.

“Kok panggilnya „Sasa? ?”, tanyanya.

“Hmmm..sorry sorry Ji. Sorry ya, mulai sekarang gwe manggil lo Aji deh”, jawabku ga enak.

“Bukan….bukan gitu….ada yang aneh, kan biasa panggil..”, ujarnya kupotong..

“Mm,..titip ya tasnya”, ujarku padanya sambil membenarkan tatanan rambutnya.
Kebiasaan..uuhhh…
Aku langsung pergi kearah customer servicenya. Aku masih melihatnya mengikuti kemana diriku berjalan, dia, Bho masih mengamatiku. Mengamati diriku dari kejauhan, aku ga ngerti ada apa dengannya.

Begitu selesai, aku langsung mengambil Helm ku, mengambil tasku di Bho.

“Udah, yuk, cari makan. Laper”, ajakku.

“Iyah”, jawabnya.

Aku melihat Bho ingin merangkul pinggangku Cuma aku keburu ngacir pergi ke arah sepeda motornya. Aku liat dia terdiam ditempatnya berdiri saat aku membalikkan badanku.

“Ji, ngapain disitu. Ayo..ntar lo kemaleman”, teriakku.


Aku melihatnya menghampiriku perlahan..ada raut muka aneh tersirat disana. Seperti sedih atau bingung, atau salah langkah.

“Jangan panggil „Aji?!”, ujarnya saat berdiri disampingku.

“Trus panggil apa?”, tanyaku.

“Yang kayak biasa aja”, jawabnya.

“Ya dah Sa”, jawabku sambil mundur ke belakang.

“Bukan itu”, jawabnya sambil memundurkan motornya.

Aku mulai sibuk pegang sana sini buat pasang helm. Tiba – tiba ada suara laki – laki dibelakangku.

“Sini Neng Cantik, saya bantuin”, ujarnya.

“Eh, ga papa. Makasih Pak”, jawabku.

Tiba – tiba Bho turun dari motornya dan menghampiriku.


“Sini Beb, aku pegangin tasnya”, ujarnya.

Aku gantian yang terpaku sekarang. Kok??? Kok dia panggil aku „Beb??

„Manusia Aneh?, ujarku dalam hati.

Ketika sedang menuju tempat makan malam itu, ditengah perjalanan, aku memberitahukan Bho mengenai kepergianku. Walaupun sebenarnya aku berbohong padanya. Tapi itu cukup membuat dia agak aneh.


“Sa, mau ngasih tau sesuatu”, ujarku.

Dia memelankan laju motornya sedikit lagi supaya suaraku lebih terdengar. “Dibilang jangan panggil „Sasa?, ngerti ga siy? Kenapa?”, tanyanya.

“Besok aku berangkat, pindah dari Samarinda”, jawabku.

Aku langsung merasakan hentakan keras dari motor Bho yang otomatis membuatku berpegangan memeluk pinggangnya.

“Kemana?”, tanyanya.

“Palangkaraya, masih Kalimantan kok trus ke Jakarta”, jawabku.

“Balik lagi ga ke Samarinda?”, tanyanya.

“Kenapa?”, tanyaku.

“Hmmm…….ga papa. Tanya aja”, jawabnya.

“Oke…..”, jawabku.

Tanpa sadar, tanganku masih berada dipinggangnya, memeluknya. Merasa ga enak, aku melepaskan kaitan tanganku, tapi tiba – tiba…

“Jangan…..dah, disitu aja tangannya”, ujar Bho.

Aku kaget….

“Ga ah, ga enak diliat orang”, jawabku.


“Semua orang juga kalo dibonceng meluk pinggang, Beb”, jawabnya.

“Ya tapi kan itu meluk pacarnya, bapaknya, kakaknya, adiknya….gwe kan”, jawabku.

Belum sempat aku meneruskan ucapanku, Bho bersuara lagi..

“Berisik. Biarin aja kenapa siy? Mang ga boleh meluk pacar sendiri?”, jawabnya.

“Sa??? Tapi lo kan bukan……”, ujarku.

Dia menambah laju motornya. Sampai kita sampai di rumah makan itu. Aku yang maksa bayar disana, Last Treat kan. Dia disana menanyakan kembali apa aku balik ke Samarinda lagi atau tidak? Aku mengalihkannya ke topik lain.

Aku memesan Nasi Goreng sementara Bho memesan Nasi Mawut. Sudah jadi kebiasaan kami waktu masih jadian dulu kalau beli nasi goreng, Telur bagian kuningnya serta 3/4 Nasi punyaku, pasti kuberikan kepada Bho. Sementara sayuran yang ada di Nasi Goreng Bho, pasti dia berikan kepadaku. Tanpa perlu aba – aba, kami selalu melakukan hal itu.

Malam itu kami makan tanpa banyak bicara…

Setelah makan….dia langsung mengantarkanku pulang. Begitu sampai di kost, dia singgah sebentar Cuma menanyakan hal yang sama.

“Kamu balik lagi kan ke Samarinda?”, tanyanya.

“Insya Allah. Oia, ini Helm sama barang – barang kamu mau kamu bawa pulang?”,tanyaku.

“Kok gitu? Kamu mau kemana siy?”, tanyanya.


“Ga kemana – mana. Mau ga?”, tanyaku

“Ga usah, kamu simpen aja. Kan kamu balik lagi kesini kan?”, tanyanya kesekian kali.

“Insya Allah, ya dah, pulang sana. Ntar kompi „dewa? nya di GEIM diambil orang lho”, jawabku.

Dia ga manjawab apa – apa. Aku masuk ke kost sambil jalan mundur. Aku Cuma liat dia diam diatas motornya, melihatku yang semakin menjauh. Ada raut yang sulit kujelaskan dengan logikaku. Aku langsung naik ke atas, masuk ke kamarku. Ketika aku ingin menutup tirai kamarku, aku masih melihat Bho dibawah, melihat kearah kamarku.

Aku tak tau apa yang sedang ada di kepalanya. Yang jelas, aku melambaikan tanganku dan segera menutup tirai itu. Berbalik badan dan tangisku pecah disana…

Apa aku sanggup tanpanya???? Huuffttt…

Aku terbangun oleh sinar matahari yang masuk lewat jendela kamarku. Tiba – tiba hpku berbunyi, Aini.

“Ya….da pa neng?”, tanyaku.

“Kak Vie jadi pulang hari ini?”, tanyanya.

“Iyah, kenapa? Dah sampai Muara Kaman Kah?”, tanyaku.

“Udah, kangen Kak Vie, Aini. Kak, barusan Eki sms Aini, PSP nya dah ada”, ujarnya.

“Ya dah, nanti Kak Vie kabarin lagi ya”, jawabku.


Aku sengaja pengen beli PSP waktu itu untuk Bho supaya dia gak terlalu sering keluar rumahnya. Tapi sekarang ga perlu lagi kayaknya ya…

Aku langsung membereskan semua barang2ku, mengecek agar semuanya tak tertinggal. Ketika kupastikan semuanya beres, aku melihat sebuah tas yang harusnya semalam sudah raib, tapi ternyata belum. Ingin rasanya aku menitipkan semuanya ke GEIM, tempat Bho biasa main, Cuma, hati bilang „ga usah?.

Akhirnya aku memikirkan lagi semuanya, gimana caranya semua barang2 itu bisa masuk. Lama berpikir, akhirnya semuanya masuk. Hanya tertinggal Helm VOG.

Terkadang, Aku masih bisa membayangkan helm itu terpakai di kepala Bho. Kenapa dia harus beli helm dengan warna dan merk yang sama, VOG Super Sonic Hitam. Sampai sekarang, helm itu masih tersimpan di sudut lemari pakaianku.
Kalau helm itu tak berarti buatku, mungkin sudah kuberikan kepada orang lain.

Rasanya, hari ini aku benar – benar harus merelakan semuanya. Merelakan Bho,
Merelakan kondisi badanku dan merelakan kalau aku harus kenapa – kenapa dijalan.
Hari ini aku pergi tanpa Bho yang mengantarkanku ke Balikpapan. Aku sendirian. Sama seperti ketika aku datang kesini, aku datang sendiri dan aku pun pulang sendiri.

Aku segera membereskan sisa – sisanya, pergi mandi.

Selesai mandi, aku segera siap – siap, jam masih menunjukkan pukul 8 hari itu. Aku membawa keluar semua barang bawaanku, hanya 1 buah tas pakaian dan 1 buah helm ditangan ( dah kayak pembalap aja bawa helm ya?)..
Semua teman – temanku masih terlelap, Cuma Aini yang menyapaku, itu juga karena dia ada di Muara Kaman, lagi bantuin Ibunya bikin krupuk kali ya???

Aku membawa semua bawaanku sendirian. Aku jalan motong lewat Masjid depan kost-an, trus naik angkot Hijau buat ke Terminal Bis. Angkot itu lewat GEIM
dan ketika angkot itu melewatinya, Aku melihat motor Bho disana. Aku inisiatif mengirimkan sms perpisahan padanya…

“Sa, pagi – pagi dah nongkrong di GEIM”

Hanya itu kata – kata yang mampu aku tulis untuknya. Aku hanya bisa terdiam sepanjang jalan. Mengabadikan semuanya melalui cam digital ku. Kota yang sudah menyemangatiku untuk tetap bertahan selama ini harus kutinggalkan. Everybody doesn?t know me at all, doesn?t know my name, who am i?, Aku Cuma tau beberapa nama tapi tak tahu bagaimana bentuk rupanya. Hanya cerita.

Sesampainya di Terminal Bus, Aku langsung menaiki satu bis yang sudah siap berangkat ke Balikpapan. Kutaruh semua bawaanku di bagasi kecuali helm VOG ku. Aku memeluknya sepanjang jalan seakan – akan kalau helm itu hilang, maka hilanglah seluruh nyawaku.

Aku terpaku melihat pemandangan di sepanjang jalan. Aku banyak melewatkan pemandangan indah ini. Bi situ berhenti sejenak di dekat Jembatan Sungai Mahakam. Aku terpaku, sampai aku tersadar oleh teguran dari seseorang.

“Mau kemana Neng Cantik?”, tanyanya.

Seorang Bapak Tua duduk disebelahku.

“Ooo..ke Jakarta. Kenapa ya Pak?”, tanyaku.

“Sedang pandangi apa kah?”, tanyanya.

“Enggak. Hanya liat – liat diluar. Pemandangan bagus”, jawabku.

“Liburan kah atau tinggal disini memang keluarga?”, tanyanya.

“Liburan”, jawabku.

“Sendiri??”, tanyanya.

“Ga pak, sama teman tadinya”, jawabku alibi.

“Temannya mana?”, tanyanya.

“Saya pulang duluan”, jawabku.

“Kenapa? Marahan kah?”, tanyanya.

“Ga, dia masih ada urusan”, jawabku sambil masih memandangi Sungai Mahakam.

“Hmmm…Sungai Mahakam. Kamu tau tentang Sungai Mahakam?”, tanyanya.

“Kenapa Pak?”, tanyaku.

“Sungai Mahakam punya cerita pahit untuk saya”, jawabnya.

“Kenapa?”, tanyaku.

“Dulu ada pepatah bilang, „Sekali Kamu Minum Air Dari Sungai Mahakam, Kamu Pasti Akan Kembali Ke Samarinda?…”, ujarnya.

“hmmm….”, jawabku.

“Dulu saya punya pacar waktu muda, baik, saya sayang banget sama dia sampai saya bikin salah sama dia”, jelasnya.

“Salah??”, tanyaku.

“Iyah..Saya secara gak langsung masih mengharapkan wanita yang dulu saya suka, suka sama saya”, jelasnya.


“Maksudnya?”, tanyaku heran.

“Iyah, dulu sebelum saya pacaran sama cewek saya, saya pernah mengharapkan seorang wanita. Anggaplah namanya A…”, jelasnya.

Si Bapak bercerita sepanjang bis itu berhenti.

Beliau menceritakan tentang mantan pacarnya dulu yang di sia – siakan karena ternyata dia masih mengharapkan seorang wanita yang dulu dia suka, menyukainya. Mantan pacarnya datang jauh dari Surabaya dengan hasil gajinya yang ia kumpulkan. Sampai di Samarinda, ternyata si Bapak masih belum bisa melupakan wanita yang diidam-idamkannya sampai suatu saat, pacar si Bapak memutuskan pulang ke Surabaya dengan calon anak yang ada diperutnya. Si bapak mengetahui itu, Cuma beliau masih belum bisa menerimanya dan masih memimpikan wanita idaman itu. Akhirnya pacar si bapak pulang dengan sukarela.

Ketika si pacar sudah pergi, Beliau mulai berusaha mencari keberadaan si Wanita idaman. Ketemu katanya, tapi si wanita sama sekali tidak meresponnya.

“Padahal, dulu, waktu sakit, saya yang nemenin. Waktu dia minta apa, saya cariin.”

Begitu ceritanya. Beliau menyesal menelantarkan anak dan pacarnya yang kini entah dimana. Waktu sudah memakan semuanya. Si Bapak sampai ga ingat lagi sudah berapa lama tak berjumpa. Sampai dia dengar kabar dari kerabatnya tentang mantan pacarnya itu yang ternyata sudah tiada, meninggal ketika melahirkan buah cinta yang dulu pernah ditolak kehadirannya oleh si bapak.

Sekarang, anak dari mantan pacarnya itu pun menolak kehadiran si Bapak yang notabene ayah kandungnya dan si bapak tidak pernah menikah lagi sampai sekarang.


“Saya bukan tidak mau menikah lagi. Tapi sejak peristiwa itu, saya tau kalau dia meninggal, saya jadi merasa bener – bener berdosa neng. Kayaknya dengan tidak menikah pun belum bisa menebus semuanya. Apa yang dia berikan ke saya waktu itu tulus, kenapa saya begitu bodohnya sampai bisa menelantarkan dia demi mengejar wanita yang jelas – jelas ga menghargai saya sama sekali”, jelasnya.

“Trus apa yang bapak lakukan selama bapak ga mencari mantan bapak?”, tanyaku.

“Ya biasa, kayak ndak ada beban apa – apa, masih suka nongkrong – nongkrong sama temen – temen dulu”, jawabnya.

“Pas dah tau keadaan si ….itu, gimana pak?”, tanyaku.

“Hmmm..bapak ga bisa tidur, dari pas pacar saya pergi juga kayak ada yang ilang gitu. Hanya bapak pikir, Bapak bisa dapat gantinya, Cuma ternyata salah. Dia tak tergantikan Neng”, jawabnya.

“Hmmm….iyh. Sekarang Bapak tinggal dimana?”, tanyaku.

“Di Samarinda, Cuma ada urusan di Balikpapan”, jawabnya.

“Ga pengen nikah aja pak?”, tanyaku

“Saya bisa nikah lagi Cuma saya ga mampu kalau ingat semuanya. Biarlah, ini memang harga yang harus saya bayar karena mengecewakan wanita itu dulu, Namanya Siti”, jelasnya.

“Ya, semoga dia mendapat tempat yang layak ya Pak”, jawabku.

“Pasti Pasti…..saya selalu mendoakannya. Kenangan tentang dia masih hidup di hati saya walaupun anak saya dan dia tidak menerima kehadiran saya, tapi Ibunya telah memberikan pelajaran berharga buat saya. Tidak ada yang abadi di dunia ini Neng, jadi jangan sia – siakan yang ada dipelukanmu sekarang”, ujarnya.


“Iyh….”, jawabku.

“Sudah punya pacar kah?”, tanyanya.

“Sudah, tapi baru bubar”, jawabku.

“Kenapa? Ini gara – garanya kamu pulang?”, tanyanya.

“Bukan…”, jawabku alibi.

“Ya, semoga dia mendapatkan pencerahan ya nanti”, jawabnya.

Aku Cuma bisa diam, semua memori tentang Bho masih terekam jelas diotakku. Tak sadar, Bis itu pun bergerak melaju dan aku sedang memikirkan apa ini jalan yang terbaik untukku.

“Ya sudah, saya pindah, mungkin kamu ingin sendiri melihat – lihat pemandangan”, ujar Bapak itu.

“Makasih Pak”, jawabku sambil tersenyum.

“Senyummu mengingatkan saya sama mantan saya, terlihat manis tapi sebenarnya menyimpan kesedihan yang luar biasa. Saya mendekati kamu Karena kamu mirip dia, cantik, manis namun kehilangan senyuman dan sepertinya kamu sedang merasakan kesedihan yang entah bagaimana dahsyatnya”, jelasnya.

“Ah, bapak….ga kok. Makasih”, jawabku sambil tersenyum kembali dan memalingkan wajahku kembali ke arah jendela. Kupakai kacamata hitamku, menyembunyikan mataku yang mulai berair karena ucapan Bapak itu. Bi situ sudah melewati Jembatan Sungai Mahakam…

"Ya, dulu teman saya pernah bilang, "Jika kamu dihadapkan dengan 2 pilihan,
carilah seseorang yang mencintaimu bukan orang yang kamu cintai. Karena orang yang tulus mencintaimu pasti mengerti kamu, bukan ingin dimengerti"..ingat baik - baik ya", ujarnya

"Ya...", jawabku.

“Senyummu mengingatkan saya sama mantan saya, manis tapi menyimpan kesedihan yang luar biasa”

Huuffttt….apa yang sudah terjadi, mengingatkan ku kembali kepada sosok wanita dimasa lalu Bho.

Namanya Zie, entah nama aslinya siapa. Bho kenal Zie di sebuah situs social bernama Tagged. Entah bagaimana ceritanya, Bho pun ketemuan sama Zie. Tapi Zie tampaknya hanya setengah hati pada Bho. Bho mengenalkan Zie pada sahabat wanitanya bernama Vina yang mungkin sampai detik ini, Vina pun masih berteman dengan Zie juga Bho.

Zie sudah dianggap Bho seperti adiknya, aku tak tau seperti apa arti “adik” buat Bho tapi buatku, itu ga masalah. Tapi Zie jelas mungkin jenis “adik” yang berbeda karena aku pernah menemukan BHo mengirimkan sms ke Zie.. “Adiiiiiikkkkkkkk……Kakak kangeeeeeeeeeeeeeennnnnnn”…

Dan ketika aku membacanya, rasanya, campur aduk. Aku jadi merasa seperti orang lain buat Bho saat itu.

Tak sadar, airmataku mengalir. Aku mulai merasakan benar – benar hilang seluruh hatiku saat itu. Tak sadar, ada sms masuk ke HPku.

“Vie, Eki niy, PSPnya jadi ga? Lo dah DP seharga 1 PSP, gimana?”, tanyanya

Aku membalasnya dengan menyuruhnya mengirimkannya ke GEIM atas nama Aji, tapi tunggu konfirmasiku. Aku langsung mengirimkan sms ke Bho.

“Sa, itu ada PSP di temenku, Eki. Buat kamu, kan waktu itu aku janji bakal beli
PSP buat hadiah dari gaji pertamaku. Kusuruh kirim ke GEIM ya, atas nama Aji”

Terkirim….dan tak lama, balasannya pun kuterima…

“Ga usah, jangan kirim ke GEIM, simpen aja dulu sama dia. Nanti kita ambil sama – sama trus kita mainin bareng – bareng pas kamu balik ke Samarinda, ya?”

Aku tidak membalasnya…..aku Cuma bisa terdiam, menangis…….

„Aku belum tentu kembali, Sa?……

Air mataku mengalir deras, membuyarkan pandangan mataku akan keindahan kota yang selama ini memberiku semangat yang akan segera kutinggalkan bersama semua ketulusan cintaku untuk seorang manusia berpangkat dewa bernama Bho….

FAREWELL LOVE…..this is a farewell ????

Tak terasa aku sudah meninggalkan Samarinda, sekarang Bis ini membawaku ke Balikpapan, meninggalkan semua kisah itu dibelakang dan sepertinya aku enggan mengingatnya lagi.

Aku langsung mengirimkan sms kepada Eki untuk membatalkan PSPnya. Eki sempat menanyakan semuanya padaku. Dia menelponku tak lama setelah aku mengkonfirmasi semuanya. Aku sudah menjelaskan semuanya dan dia cukup kaget mengetahui aku sudah di bis menuju Balikpapan untuk segera kembali ke Jakarta.

Sepanjang perjalananku, Eki tetap menghubungiku, menanyakan segalanya dan aku gak bias menutupi semuanya. Tangisku pecah saat itu dan Eki hanya bias terdiam. Awalnya dia ingin pergi ke tempat Bho biasa main, menanyakan semuanya, tapi aku menahannya.

“Aini tau Vie soal ini?”, tanyanya.

“Ya tau”, jawabku.

“Kenapa ga bicara sama kami disini semuanya. Pasti kita bisa bantu, ga gini caranya”, jawabnya.

“Wew, kalo memang Vie cerita, mang Eki sama yang lain mau apa? Paksa dia untuk tanggung jawab? Kayaknya ga ada gunanya”, jawabku.

“Kenapa memangnya?”, tanyanya.

Aku menceritakan semuanya pada Eki, Eki ga bisa bilang apa – apa.

“Kamu ga pernah kenalan sama temen – temennya dia, Vie?”, Tanya Eki.

“Aku hampir kenal semua namanya, tapi aku ga tau yang mana wajahnya”, jawabku ditengah tangisku.

“Shhh****tt….kenapa ga bilang pas kamu disini siy? Kita disini bisa bantu kamu. Lagi Aini kenapa ga bilang lagi”, jawab Eki.

“Ki, udah deh. Ga usah ngomongin dia lagi. Vie bingung”, jawabku yang dibarengi dengan putusnya telpon tersebut karena sinyal drop.

Dalam perjalanan itu, aku sama sekali ga bisa tidur. Airmata ga abis – abisnya turun. Rasanya pengen banget balik ke Samarinda, samperin Bho dan marah – marah sepuasnya. Cuma pasti aku ga bisa.

Tak lama, aku sampai di terminal bis dan melanjutkan perjalananku ke Sepinggan dengan naik Ojek. Lumayan kena Rp. 25.000. Entah itu memang tarif dari
terminal ke Sepinggan atau bukan, yang jelas aku merasa nyaman naik ojek karena si Bapak tukang ojek berjuang keras memberikan pelayanan buatku. Bawaanku tidak bisa dibilang ringan ditambah helm hitam VOG ku. Aku sampai di Sepinggan lebih cepat dari seharusnya sehingga belum bisa masuk ke ruang tunggu. Akhirnya aku menunggu diluar. Tiba – tiba Hpku berbunyi dan aku melihat nomor yang asing,

„Siapa ya???, tanyaku dalam hati. Kuangkat.

“Haloo..”, sapaku.

“Halo Vie, Ini ben2”, sapa dari suara tersebut.

“oohhh..Ben. Ada apa?”, jawabku.

Ben2 itu sahabat Eki, temannya Aini.

“Kenapa Ben?”, tanyaku.

“Lo dimana?”, tanyanya.

“Sepinggan, kenapa?”, tanyaku.

“Balik Samarinda, sekarang. Lo harus urusin semuanya”, jawabnya.

“Urus apa?”, tanyaku.

“Urus urusan lo sama cowok lo”, jawabnya.

“Siapa cowok gwe? Gwe dah ga punya cowok Ben”, jawabku.

“Aji. Cowok lo kan?”, tanyanya.


“Bukan, gwe dah bubar. Gwe ga mau inget dia lagi”, jawabku yang mulai menangis lagi.

“Vie, gwe dah tau semuanya dari Eki, balik ke Samarinda lah. Tak usah balik hari ini”, ujarnya.

“Ga bisa. Gwe dah dibeliin tiket Ben. Ga bisa balik lagi ke Samarinda”, jawabku.

“Harus, lo harus samperin dia. Enak banget siy dia. Dulu waktu perlu, dia baik sama lo, sekarang. Lo balik ke Jakarta aja sendirian”, jawabnya.

“Udah ben, ga usah diomongin lagi. Ya?”, pintaku.

“Lo mang gampang ngomong gitu Vie, lo perempuan. Gwe laki – laki. Malu gwe jadi laki – laki ngerti ga lo?”, tanyanya.

“Hmmmm….”, jawabku yang sudah tak mampu membendung airmataku lagi.

“Gwe laki – laki. Gwe ga akan kayak gitu kalo gwe mampu melakukan itu sama cewe gw. Gw akan lindungi dia semampu gwe”, jawabnya.

“Mungkin dia ga bisa anter gwe ke bandara karena dia capek kali Ben..udah”, jawabku.

“Ga mungkin. Laki – laki memang kadang benci sama yang namanya perpisahan, gwe yakin, Aji tuh sayang sama lo Vie, Cuma dia masih belum sanggup kalo harus ada anak. Cuma itu dah rejeki dari Allah kan Vie, dia harus sadar itu, bukan lari dari masalah. Lo juga jangan lari”, jelas Ben

“Ben, bukan lari. Tapi gwe ga mampu hidup di tempat yang semuanya berisi kenangan gwe sama dia”, jawabku.

“Denger, oke…lo ga lari dari masalah, tapi kenapa lo ga temuin dia, bilang semuanya?”, tanyanya.

“Gwe dah tau jawabannya Ben, dia dah sadar kalo kayaknya gwe hamil dan dia minta, klo bener gwe hamil, untuk gugurin kandungan gwe”, jawabku.

“Shhh***tt…alasannya?”, tanyanya.

“Belum siap”, jawabku.

“Trus lo mau berjuang hidup sendirian?? Lo mau besarin anak itu sendirian, Vie?”, tanyanya.

“Seumur hidup gwe, gwe akan berjuang apapun buat dia. Seumur hidup gwe, ga ada yang pernah berjuang untuk gwe selain orangtua gwe. Gwe mau balas apa yang mereka kasih sama gwe dengan gwe berjuang untuk anak gwe”, jawabku.

“Oke…mereka berjuang berdua, lo sendiri..ngerti ga?”, ujar Ben.

“Ngerti, ga papa…gwe akan berjuang buat anak gwe walaupun gwe sendiri. Gwe mau dia jauh lebih kuat, lebih punya prinsip dari ayah atau bundanya. Gwe mau dia bisa bertanggung jawab atas apa yang dia ucapkan dan dia perbuat nanti, gwe mau berjuang untuk itu”, jawabku.

“trus kenapa lo harus balik ke Jakarta? Lo punya teman – teman disini. Bukan Cuma di Jakarta”, ujar Ben.

“Gwe ga sanggup Ben…”, jawabku di tengah tangisku.

“Lo pergi karena lo mau lupain Aji?”, tanyanya.

“Gwe pergi bukan untuk lupain Aji. I leave him not because I?m not love him, I love him so much, Ben”, jawabku.


“So why??”, tanyanya.

“Karena gwe ga mampu hidup tanpa dia di tempat yang jelas – jelas dia bisa temuin gwe yang makin hari makin terpuruk karena liat dia. Biar dia kejar kebahagiaan, jalan hidup yang dah dia pilih Ben”, ujarku.

“Game? Jalan hidupnya tuh Game? Rela lepasin cewek yang bisa kasih cinta kayak lo? Setan!! Lo tuh terlalu baik kalo harus terima jalan kayak gini. Dia laki – laki, harusnya punya prinsip. Kalo tuh server modar, mau ngapain dia?”, jawab Ben meluap – luap.

“Ya pasti akan ada game pengganti Ben, udahlah”, jawabku lemas.

“Ya, pasti akan ada game pengganti. Gwe suka game, gwe gamer juga. Penggila mungkin, tapi gwe bisa pisahin, mana realita mana maya. Kesenangan sementara, sama kesenangan yang memang harus gwe kejar untuk masa depan gwe. Gwe mampu abisin duit berapa pun buat game, tapi gwe juga mau abisin berapapun untuk masa depan gwe. Ngerti lo?”, tanyanya.

“ya..setiap orang punya jalan sendiri – sendiri, jangan paksa dia harus jadi seperti lo Ben”, jelasku.

“Ya Tapi…..”, jawabnya yang terus kupotong dengan menutup Hpku. Aku me-non aktifkan Hpku.

Aku tenggelam dalam tangisku, semakin tenggelam dalam sekali.

Aku memutuskan tetap pergi daripada harus tinggal tapi hati tersayat setiap hari. Membayangkan dia bisa melakukan apa pun yang dia suka, sementara aku harus berjuang hidup dan mati untuk sesuatu yang tidak ia inginkan tapi aku terlanjur mencintainya, mencintainya seperti aku mencintai Aji.

Kupasang Earpiece MP3 playerku, kunyalakan MP3ku….

dimatamu aku tak bermakna tak punyai arti apa-apa kau hanya inginkanku saat kau perlu tak pernah berubah..

kadang ingin kutinggalkan semua letih hati menahan dusta diatas pedih ini aku sendiri selalu sendiri...

serpihan hati ini kupeluk erat akan kubawa sampai kumati memendam rasa ini sendirian ku tak tau mengapa aku tak bisa melupakanmu...

kupercaya suatu hari nanti aku akan merebut hatimu
walau harus menunggu sampai ku takmampu menunggumu lagi........

( Utopia – Serpihan Hati )

Aku Pergi, entah akan kembali ke Samarinda atau enggak…..

I Leave You Love….Leave you My Beloved Striker with all the memories….see ya until..I Don't know when but…I?ll be missing you…

Can I live without You???.....Hiks….hiks…

Ketika aku memutuskan me-non aktifkan HPku, aku melihat di informasi bahwa pesawat tujuan Jakarta dengan maskapai penerbangan yang akan aku naikin sudah
bisa ambil Boarding Pass. Aku segera memasuki ruangan Boarding Pass dan mengambil Boading Pass-ku.

„15C?, bisikku dalam hati.

Huuffttt…oke. Aku segera memasuki Waiting Room, bayar Airport Tax and then, cari kursi buat menyendiri. Merapikan penampilan dan uppzzz..aku teringat kalau aku belum mengabari teman – teman scorpie ku di Jakarta. Mau ga mau, aku segera menyalakan kembali HPku dan berharap Ben atau siapapun tidak menelponku untuk membicarakan ttg Bho.

Aku segera mengirimkan sms kepada Panca..

„Delivered?….bisikku dalam hati.

Aku kembali berusaha mematikan HPku. Tapi tiba – tiba, hpku berbunyi…Ben!

“Ya Ben?”, jawabku dengan suara sengauku.

“Maaf, gwe terlalu lancang ngomong kayak gitu sama lo, padahal kondisinya lo pasti lagi..hmm..sorry Vie”, jelas Ben.

“Ga papa, Vie juga minta maaf. Vie masih belain Aji, maaf ya Ben”, jawabku.

“Ga papa, wajar kok lo masih belain dia, lo sayang kan ma dia, ya kan?”, Tanya Ben.

“Seumur hidup gwe, gwe sayang sama dia, Ben. Ga ada niat buat musuhin dia. Gwe Cuma…”. Jawabku tertahan tangisku yang sudah mulai meledak.

“Cuma apa?”, Tanya Ben.

“Cuma…..memang dia bukan buat gwe. Dia bilang kalo dia ga mau, ga suka
dipaksa seakan – akan harus jadi sama gwe. Itu alasan gwe kenapa gwe ga mau inget dia lagi”, jawabku.

“Shh***tt, kenapa dia ngomong gitu?? Lo hamil anak dia Vie, dia harus tanggung jawab”, jelas Ben.

“Memang dia seharusnya tanggung jawab, entah apa alasannya. Yang jelas gwe ga mau paksa dia tanggung jawab kalo seandainya dia mau. Gwe ga mau kalo seandainya dia tanggung jawab trus dia kesel sama anak – anak gwe nanti, masalah ini diungkit – ungkit lagi. Gwe ga mau!!”, jawabku.

Tangisku sudah meledak saat itu….aku tak bisa berpikir apa – apa.

“Kenapa jauh amat siy pikiran lo?”, tanyanya.

“Ga ada salahnya mikir jauh kan Ben??”, tanyaku kembali.

“Memang ga salah Vie, Cuma…aduh….kenapa ga bilang sama anak2 disini siy?”, tanyanya.

“Ga..cukup dah ini jadi urusan gwe”, jawabku.

“Huuufffttt…when will I see your smiling face again, Vie? Lo ke Samarinda lagi kan nanti?”, tanyanya.

“Maybe….I don?t know when will u see my smiling face again. Maybe, there?s no smiling face, Ben”, jawabku di tengah tangisku yang makin tak bisa kubendung.

“Jangan…kita, gwe terutama, suka liat lo senyum. Ada lesung pipitnya. Senyumlah Vie. Udah, Aji….Aji…Aji mang manusia terbodoh yang pernah gwe tau”, jawabnya.

Mendengar Ben berkata seperti itu, aku Cuma bisa menangis dan menangis.
Rasanya semuanya buyar. Apa yang sudah aku dan Bho bicarakan dulu seakan terbang melayang entah kenapa. Aku sudah tidak bisa menangkapnya, meraihnya pun aku ga sanggup.

Semua kenangan manis itu ternyata benar Cuma manis dibibir saja. Aku sama sekali terlalu terhanyut oleh yang namanya Cinta. Cinta yang awalnya terlihat indah, berubah jadi kelam dan hitam.

“Vie….Vie….”, suara Ben memecahkan lamunanku.

“Iyah Ben, maaf. Gwe jadi inget lagi semuanya”, jawabku terisak.

“Iyah, sekarang lo dah dimana?”, Tanya Ben.

“Waiting Room, kenapa?”, tanyaku.

“Lo bener – bener pergi, Vie?”, Tanya Ben.

“Ya, Vie pamit. Vie pergi. Salam buat Eki, Bang Jo, Bang Ogi, Bang Adam, semuanya”, jawabku.

“Ya, Jo sama Adam ada disini. Eki juga. Anak – anak mau ketemu lo, tadinya kalo memang lo bisa balik ke Samarinda, Jo dah bawa mobil siap berangkat Balikpapan. Aini juga mau datang, tapi Vie pergi ya?”, tanyanya lagi.

“Iyah”, jawabku.

“Aaaaarrgghh…sshhh***tt banget siy. Gwe ma anak – anak disini kayak apa jeleknya coba”, jawab Ben.

“Jelek kenapa?”, tanyaku.

“Jelek gara – gara Aji”, jawabku.


“Kenapa? Kok Bisa gara – gara dia?”, tanyaku heran.

“Dia bikin malu kami – kami disini. Dia laki – laki, kami disini juga laki – laki. Kami pantang tak bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kalau kami tak bertanggung jawab, malu kami sama orangtua, muka tuh mau ditaro dimana. Kalau sudah kecemplung berdua, basah ya basah berdua sekalian, paham kan?”, Tanya Ben

“Ya….”, jawabku yang diselingi suara pemberitahuan kalau penumpang pesawat tujuan Jakarta, sudah bisa masuk ke pesawat.

“Ben, Vie bener – bener harus berangkat. Pamit ya”, ujarku.

“Ya, ati2 ya. Kalo ada apa – apa kabari kami disini. Ya?”, jawab Ben.

“Ya…”, jawabku.

Aku segera mengemasi semuanya, termasuk Helm VOGku. Aku berjalan menuju pintu keluar setelah Boarding Pass – ku diperiksa dan aku kembali ke lapangan dimana pertama kali aku mendaratkan kakiku di Balikpapan. Kupasang kacamata hitamku karena airmataku sudah tak dapat kubendung lagi. Masih kuingat suara itu…

"Hallo beb, dah dimana?", tanyanya.

"Masih di Jakarta", jawabku.

"Hah?????", jawabnya.

"Boong denk...dah di Sepinggan", jawabku sambil terkekeh.

"Pantes, suaranya jernih, deket", jawabnya.


Airmataku membuyarkan pandanganku. Aku berhenti sejenak sambil melihat Pesawat McDonnell Douglas Maskapai Penerbangan itu didepanku.

„Apa aku benar – benar akan meninggalkan dia??, tanyaku dalam hati.

Aku melangkahkan kakiku dengan pasti walaupun rasa sakit ini menusuk – nusuk hatiku. Aku menaiki tangga pesawat dengan perlahan, menenangkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik – baik saja. ?
Aku menemukan kursiku, 15C. Dipinggir lagi.

Aku menaruh Helm VOG ku di tempat penyimpanan barang lalu duduk manis sambil sesekali menyeka airmata yang masih dengan semangatnya keluar dari mataku. Kupasang Earpiece MP3ku dan kunyalakan playernya…

Aku yang memikirkan
Namun aku tak banyak berharap Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu

Mencoba lupakan
Tapi ku tak bisa
Mengapa… Begini…

Oh Mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada disini menemaniku
Oh Mungkinkah kau yang jadi Kekasih sejatiku semoga tak sekedar harapku
Bila
Kau menjadi milikku
Aku takkan menyesal
Telah jatuh hati

Semoga tak sekedar harapku..

( Monita – Kekasih Sejati )

Pesawat pun segera berjalan, diiringi lagu itu, aku menggantungkan semuanya, melupakan semuanya. Melupakan dia…..Aku mematikan MP3 Playerku.

Seandainya dia memang Kekasih Sejatiku…..Ternyata hanya harapku…

Could I Keep you in My heart??? ….Feel like NUMB….

Aku merasakan perasaan yang tidak dapat bisa kukatakan dengan bahasa apapun. Andai terjadi sesuatu yang membuatku kehilangan nyawaku di dalam pesawat itu, aku pun mungkin tidak merasakan apapun. Aku hanya bisa diam didalam pesawat, gak mikir apapun.

Mp3 Playerku kembali kunyalakan setelah lampu peringatan untuk boleh menyalakan alat – alat elektronik kecuali HP mati.

All alone.. somewhere far away from home
In a lonely place where no one knows your name
Lost inside a corner of your mind
Looking for a place to hide and none to find

Back in the days when you were just a child
The sun rays dance eternally
And when you least expect it
You hear a voice inside
Telling you to begin the life of your dream


You have the power to believe
Take a look inside your heart
A road is waiting for you
The truth is written in the stars
No matter who you are

You feel the force of love

Like a wind, blowing high above the cloud
You were moving fast but couldn?t touch the ground
Think of the days when you were just a child
You felt a joy so tenderly

And if you stop to listen to what you feel inside
You can be everything you wanted to be

You have the power to achieve
If you reach inside your heart
Your wish is waiting for you

The truth is written in the stars
No matter where you are

All the pain and tears and broken dreams,
Flowing like a river
It?s never easy to see

Trust what you feel
And just keep your spirit free
You can be all the things you wanted to be
In your dreams

You have the power to believe
Make a promise in your heart
Your future?s waiting for you

The secret in the sky above
Like a shooting star

It?s written in the stars

( LIA – The Force of Love )

Lagu ini kuputar berulang – ulang sampai tak terasa kalau pesawat yang kunaiki akan segera Landing di Bandara Soekarno – Hatta. Lagu ini mengingatkan semuanya, Masa Kecilku, Keluargaku, Aji, Teman – temanku dan sesosok makhluk yang skrg berdiam di rahimku.

Pesawatku Landing dengan mulus. Aku segera bersiap – siap untuk turun. Memakai kacamata hitamku, menyembunyikan raut wajahku yang dapat kupastikan pasti dah kaya mayat idup a.k.a zombie.

Kuambil Helm VOG hitamku dan kubawa menyusuri lorong keluar dari pesawat itu.

Huuffttt…akhirnya…JAKARTA…

Aku melihat pemandangan yang waktu itu aku lihat sebelum aku pergi ke
Samarinda. Pada saat itu, hatiku masih berwarna. MEJIKUHIBINIU…Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Tapi sekarang yang ada Cuma hitam pekat bercampur dengan coklat sebahai bentuk kerisauanku.

Aku mengikuti arus manusia di depanku karena I have no clue, jalannya kemana. Ini pertama dan terakhir ( I hope…. ) aku pergi kemana – mana sendiri. Aku berjalan seakan – akan aku sudah tau aku akan menuju kemana, walaupun sebenarnya aku hanya mengikuti arus yang ada.


Akhirnya aku tau kemana arus manusia ini berjalan, ke area bagasi. Aku lalu mencari telpon genggamku, menyalakannya dan memberitahu teman – teman Scorpie ku kalau aku sudah sampai Jakarta.

„Delivered?, hatiku membaca tulisan dilayar telpon genggamku.

Aku menunggu bagasiku keluar, berharap – harap cemas tapi tetap tak bisa berpikir apapun. Tiba – tiba ada sms masuk ke HPku. Aini.

„Kak, sudah sampai kah? Aini minta maaf karena ceritakan semuanya ke Abang – abang Aini. Mereka nggak mau Kakak pergi ke Jakarta. Kakak jangan marah sama Aini ya..?

Sms dari Aini tak kubalas. Aku mulai berpikir, aku mau tinggal dimana. Aku mulai memikirkan untuk pulang kerumah, mengecek semua simpanan di bunkerku. Aku mau mulai membuka diri kepada keluargaku. Aku membuka flip HPku dan mengetik nomor telpon rumahku. Kutekan tombol Call di Hpku..

“Halooo”, sapa suara diujung sana.

“Mas, ini Hanna”, jawabku.

“Hanna??!!!...kamu dimana??!!!”, tanya suara disana yang kutau adalah suara Mas Yuli ku.

“Bandara”, jawabku yang sudah mulai menangis karena rasa kangen.

“Ngapain? Mau kemana??”, tanya kakakku.

“Baru pulang dari Samarinda. Nanti Hanna pulang kerumah. Ya?”, jawabku.

“Bener??? Mas tunggu!!”, jawab kakakku antusias.


“Ya dah, skrg Hanna cari kendaraan dulu kesana”, jawabku.

“Mas jemput…Mas Jemput”, jawab kakakku.

“Ga usah, Hanna naik taksi aja atau bis. Ya?”, jawabku.

“Kamu berubah. Dulu kamu selalu minta dijemput”, ujar kakakku.

“Hanna dah gede Mas. Dah ga pantes minta dijemput kalo bisa pulang sendiri”, jawabku.

Dalam hatiku, aku mau dijemput kakakku, Cuma aku mau tunjukkin kalau aku bukan anak kecil lagi. Lucu memang tapi entah, pengalaman yang baru saja kulewati membuat hatiku seperti beku, seakan – akan aku ingin belajar jadi wanita yang tegar. Aku ga tau kalau kakak – kakakku sudah tau keadaanku yang sebenarnya. Mungkin aku ga akan dianggap adik lagi.


Aku ga perduli. Aku Cuma mau cek amanat dari Ibuku.

Kemudian aku melihat tas hitamku keluar dari bagasi, aku menunggunya berjalan kearahku. Kuambil, lalu kubergegas keluar dari ruangan itu. Aku tak berharap teman- teman Scorpie ku akan benar – benar menjemputku, tapi aku tiba – tiba melihat sebuah kertas besar bertuliskan sesuatu yang membuat airmataku berjatuhan lagi dibalik kacamata hitamku.

“WELCOME ABOARD VIEANKACHU”…..

Aku terpaku. Melihat semua teman – temanku dihadapanku. Mereka menghampiriku yang hanya terpaku dan kemudian memelukku.

“Ras……jangan nangis dunk”, ujar Satria yang memelukku.

“Huuh”, hanya itu yang keluar dari bibirku.

Aku lihat wajah mereka satu persatu, mereka masih sama. Mereka berusaha menenangkanku. Mungkin, orang – orang disana heran melihatku dikerubungi cowok – cowok..hehehe…maklum, aku wanita satu – satunya di Guild ku….

Mungkin buat orang – orang baru di Guild ku, mereka ga tau siapa aku. Tapi buat orang – orang lama, yang pernah berjuang sama – sama, aku bukan orang asing lagi.

“Ras, kamu mau kemana skrg?”, tanya Panca.

“Pulang kerumah trus mau cari kost, Nca”, jawabku.

“Rumah mana?”, tanya Jho.

“Tangerang, pada ikut yuk. Trus temenin cari kost. Tapi nanti Ras mau minta tolong sama Mas Andi aja buat cariin kost di depok”, jawabku.

“Ya, dah…kita temenin. Tapi ada makanan kan drumah lo?”, tanya Satria.

“Ada”, jawabku sambil senyum – senyum.

Semuanya tertawa. Aku senang kembali ke Jakarta. Mereka tau semua kesulitanku, tapi mereka seakan – akan tidak mau memperlihatkannya kepadaku.

Sepanjang perjalanan ke rumahku, mereka mempertanyakan keadaanku dan semua hal yang sudah terjadi di Samarinda. Jho kembali meledak – ledak sementara yang lain berusaha menenangkan.

“Ras, keluarga lo dah tau masalah ini?” tanya Panca.


“Blom. Nanti mau dikasih tau”, jawabku.

“Kenapa lo ga tinggal dirumah aja?”, tanya Satria.

“Kalau mereka tau keadaan gwe, apa mereka masih mau gwe tinggal dirumah?”, tanyaku.

Semua terdiam.

Sesampainya aku dirumah, aku kebingungan. Semua keluarga besarku ada disana. Begitu aku menampakkan diri di depan pintu rumah, Mas Yuliku langsung berteriak..

“Hanna dah sampe tuh…..”, ujarnya.

Sontak semua isi rumah keluar menghampiriku. Teman – temanku sampai terkagum – kagum melihatnya. Selesai mereka memelukku, menciumku, aku segera memperkenalkan teman – temanku. Keluargaku berubah total, entah kenapa.

“Ras, kenapa lo bisa pergi ninggalin keluarga yang kayak gini? Rumah yang kayak gini?”, tanya Satria.

“Maksudnya?”, tanyaku.

“Rumah lo besar, bagus. Keluarga lo ramah. Kenapa?”, tanyanya.

“Everybody changing, Sat. Gwe aja masih bingung”, jawabku.

Melihat keadaan itu, aku belum berani bicara apapun. Aku terpaksa menginap dirumah dan membiarkan teman – temanku pulang. Aku segera naik ke atas, masuk ke kamarku. Kamar yang berisi semua kenangan itu.

Menutup pintunya….Melihat sekeliling….

„Ahhh…bendera Union Jack ku?, dalam hati…

Semuanya masih sama. Tak terasa, airmataku keluar lagi. Kubuka semua laci kontainerku yang terakhir kuisi dengan komik – komikku…dan ternyata, masih sama..

„Pank Ponk, Doraemon, serial – serial cantik?, hmmm….

Semuanya masih sama.

Rasanya semua kenangan itu kembali masuk dibenakku. Kenakalan masa kecilku, Main layangan, huufftt..aku jadi kangen kedua orangtuaku. Mereka terlalu banyak memberiku kenangan indah yang dapat membuatku menangis seketika dan sadar bahwa aku tidak akan mendapatkannya lagi. Semuanya ga akan sama lagi.

Hari itu kupuaskan hatiku mengenang semuanya.

Ketika semua sudah tertidur lelap, aku turun kebawah. Menatap foto – foto waktu kami masih lengkap, berjajar rapi disepanjang dinding tangga. Lukisan cat minyakku masih terpajang manis ditangga itu. Meja makan bundar berkursi 6 yang dilengkapi meja putar kecil ditengahnya pun masih sama, walaupun dulu kacanya sering pecah.

Aku menghampiri televisi sharp 21 inch diruang TV. Remotenya dah ilang, alhasil, untuk ganti channel, biar ga capek, kami pun sering menggantinya dengan kaki. Jempol kaki kami sudah lihai mengganti channelnya setiap nonton TV.

Aku menuju ruang tamu. Ada lukisan cat air berukuran besar bergambar Ayah dan Ibuku. Rasanya kangen liat itu. Foto – foto kakakku dari yang pertama sampai aku tergantung disitu. Aku juga melihat sketsa pinsil bergambar wajah ayahku yang digambar Mas Yudi, kakakku no. 4. Aku menyentuhnya dan seakan – akan, aku menyentuh wajahnya.

“Yah, Hanna Kangen!!”, ujarku yang spontan keluar dari mulutku.

Aku terduduk di sofa ruang tamuku. Mengambil album foto keluargaku.
Melihatnya. Melihat fotoku ketika masih bayi, membuatku berpikir,

„Akan seperti apa wajah anakku kelak? Sepertiku atau ayahnya??, hatiku bertanya.

Melihat foto – fotoku, membuatku menangis. Benar yang dikatakan Ben….

“Oke…mereka berjuang berdua, lo sendiri..ngerti ga?”…

Ya, mereka memang berjuang berdua, tapi aku yakin bisa berjuang sendiri. Entah harus mulai dari mana. Tapi aku yakin, aku mampu memperjuangkan apa yang sudah aku dapatkan. Aku juga harus mempertanggung jawabkan apapun yang sudah kulakukan, karena Hanna bukan pengecut..

„Hanna pasti bisa Bu?, bisikku dalam hati dan berharap Almh. Ibuku mendengarnya.

Malam itu aku tertidur di sofa dan melupakan semuanya. Berada disekeliling kenangan itu, membuatku nyaman dan membuatku merasa bahwa aku bisa melewati semuanya.

Tapi apa keluargaku bisa menerimanya????

'Han....Han..'...

Sebuah tangan membelai – belai rambutku. Aku terbangun dan kulihat kakak perempuanku di hadapanku. Wajahnya mengingatkan aku pada wajah ibuku. Wajah yang teduh, keras tapi lembut sebenarnya.


“Ngapain tidur disini? Dari kapan tidur disini?”, tanya kakakku.

“Ga...Ga papa”, jawabku dengan setengah mengantuk.

“Dah, cuci muka sana. Ada Nasi Goreng tuh di meja makan, makan!”, ujar kakakku.

Aku segera terduduk dan merapikan pakaianku. Tak sadar, aku masih pakai baju yang sama ketika aku datang. Aku segera menghampiri meja makan itu, meja yang hampir beberapa tahun tak pernah kulihat.

“Masih suka 'Toto Dahar' ya mba?”, tanyaku.

“Masih”, jawab Kakakku.

Toto Dahar ( Menyiapkan Makanan ) di meja makan memang sudah jadi tradisi. Setiap pagi, siang jam 12 dan sore jam 5. Dulu selalu bagianku yang Toto Dahar, karena memang aku yang masak semua makanan ditemani pembantuku, Mba Iyem.

Aku membuka tudung saji itu, tudung saji yang sudah berada dirumahku sejak aku kecil mungkin. Terbuat dari rotan yang kuat dan tampak kokoh, banyak kenanganku dengan benda yang satu ini.

Aku melihat makanan yang tersedia disitu..

“Han, mang nasi gorengnya ga seenak buatan Hanna dulu. Mba ga bisa bikin yang kayak gitu”, ujar kakakku.

“Mang yang kayak gimana? Sama aja kok”, jawabku.

“Beda. Coba sekarang kamu bikin sendiri di dapur, pasti beda”, suruh kakakku.

“Masa”, jawabku.

Aku diajak kakakku ke dapur dan aku meracik beberapa bumbu untuk buat nasi goreng yang katanya kakakku cuma bisa aku yg buat. Setelah selesai, beserta pelengkapnya yaitu telor dadar gulung yang dipotong – potong, kakakku maksa nyobain.

“Hmmm..beda kan....”, ujar kakakku.

“Sama Mba....”, jawabku.

“Beda Hanna, buatan Hanna buat Mba aja. Hanna makan yg di meja makan ya!”, suruh Kakakku.

“Waduh....ya deh, ga papa”, jawabku sambil senyum – senyum.

Aku melihat kakakku yang lahap menyantap nasi goreng buatanku dengan perasaan terharu, sedikit. Udah lama ga liat wajahnya, mukanya agak sedikit tirus, kurus.

“Han, tau ga?”, ujar kakakku.

“Apaan Mba”, jawabku.

“Mba kangen sama kamu, masakan kamu kayak masakan Ibu. Mba ga bisa bikin yang kayak gini”, jawab kakakku.

“Biasa aja Mba, semuanya sama kok”, jawabku.

“Beda. Kamu jangan kemana – mana lagi ya Han. Pliss”, jawab kakakku.

Aku tersedak. Mendengarnya memohon padaku seakan – akan aku benar – benar diharapkan dirumahku tapi kalau mereka tau keadaanku, apa mereka akan menerimaku?


“Hmmm..Mba, Hanna nanti mau ngomong sesuatu. Mas – Mas kapan dtg kesini?”, tanyaku.

“Mau ngomong apa?”, tanya kakakku.

“Sesuatu yang perlu diselesaikan dan aku butuh solusi”, jawabku.

“Penting banget Han?”, tanya Kakakku.

“Buat Hanna penting tapi entah buat kalian”, jawabku.

“Bentar lagi kok dateng, ada apa siy Han?”, tanya kakakku.

“Pokoknya, kalo nanti Mba dah tau, Mba mungkin mikir 2 kali buat nyuruh aku tinggal lagi dirumah”, jawabku.

“Kenapa?? Kamu terlibat utang? Dicari orang?”, tanya kakakku.

“Ga, bukan itu. Ini menyangkut nyawa sebenernya”, jawabku.

“Kamu bunuh orang???!!!”, tanya kakakku panik.

“Enggak...ampun. Ntar juga Mba tau deh”, jawabku sambil bangun membawa piring ke dapur.

Kakakku kubuat bingung setengah mati. Aku pun mulai mempersiapkan diri menghadapi kakak – kakakku. Aku mandi untuk menyegarkan diriku. Aku kembali ke kamar dan tiba saatku membuka Bunker Rahasiaku.

Aku membukanya perlahan agar suaranya tak terdengar. Perasaanku campur aduk ketika aku melihat tumpukan benda itu di depanku.

Sebuah amplop coklat dan sebuah kotak kado bertuliskan “Untuk Hanna” masih berada ditempatnya. Surat – surat rumah dan dokumen – dokumen penting juga masih tersimpan rapi disana.

Aku membuka kotak kado bertuliskan “Untuk Hanna” terlebih dahulu. Perlahan aku membukanya dan aku terpaku setelah melihat apa isinya.

Kotak perhiasan ibuku.

Aku membukanya dan munculah seorang balerina yang menari diiringi suara musik yang sudah lama tak kudengar, dulu kupikir ini lagu apa. Tapi kini kutau, kotak perhiasan itu memainkan lagu 'Unchained Melody'...terdengar terbata – bata tapi aku masih mampu menyanyikannya..

Lonely rivers flow to the sea, to the sea
To the waiting arms of the sea
Lonely rivers cry, wait for me, wait for me
To the open arms, wait for me

Oh, my love, my darling
I've hungered for your touch, a long lonely time And time goes by, so slowly and time can do so much Are you, still mine?
I need your love, I need your love
God speed your love to me

Tak terasa, airmataku mengalir, mendengar, menyanyikan lagu itu sambil melihat si balerina berputar diatas tempatnya.

Aku meraih sesuatu didalamnya. Sebuah kantong kertas kopi mungil dan aku membuka isinya..

'Anting – antingku waktu SD', ujarku dalam hati kegirangan.


Aku mengembalikan isinya ke dalam kantong itu. Membuka bungkusan yang lainnya...


'Gelang giok hadiah ulang tahun ke 6 dari ayah', ujarku dalam hati tak kalah girangnya.

Aku mengembalikannya....membuka semuanya. Isinya ada batu – batu ruby, intan yang ibu beli di Martapura dulu, 1 set batu kecubung punyaku, semuanya. Termasuk cincin – cincin Ibuku yang waktu kecil pernah aku komplain karena Ibuku kok kayak 'Toko Mas Berjalan', sejak itu, ibu tak pernah memakainya lagi.

Aku tak mengerti tentang semua ini.

Aku kemudian membuka amplop coklat itu. Berdebu. Kusobek ujungnya sedikit dan kubuka perlahan ujungnya. Aku mendapatkan beberapa helai kertas dengan tulisan khas ibuku. Tulisan sambung miring besar – besar khas Ibuku. Belum aku membacanya, melihat tulisannya sudah membuatku merindukannya. Aku membacanya perlahan.


Hanna,

Mungkin berat buat ibu untuk tulis ini buat Hanna karena ibu tau kalau Hanna sayang sama ibu. Ibu juga sayang Hanna. Satu yang Ibu minta dari Hanna, Jangan pernah sekali – kali tinggalin kakak – kakak Hanna. Mereka tidak akan pernah bisa bertahan tanpa Hanna. Hanna sudah seharusnya jadi penengah, sayang. Ibu tahu Hanna bisa.

Untuk masalah cinta, Ibu kira, Hanna pasti bisa belajar dari pengalaman.

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur, ketika kita menangis, ketika kita membayangkan, ketika kita berciuman?

Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT.

Jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar - benar mencintai MELAINKAN… BERJUANGLAH demi cintamu.

Itulah CINTA SEJATI

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang „yang tersedia?.
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai DARIPADA orang yang berada di sekelilingmu.
Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya dengan ?seseorang?.

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

Kenapa ibu tulis ini semua, karena ibu sadar kalau ibu tidak akan pernah bisa berbagi semuanya dengan Hanna, Hanna harus belajar sendiri.

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir. Tapi itu tidak boleh Hanna ikuti ya. Percaya semua pasti ada jalannya. Ibu tau anak Ibu pasti bisa.

Hanna, Ibu minta maaf karena ibu ga bisa dampingi Hanna seperti janji Ibu dulu.
Allah siapkan jalan lain buat Ibu dan itu pasti yang terbaik, sayang. Ibu tau Hanna mampu lewati segalanya. Cobaan itu adalah bukti kalau kita masih diperhatikan dan diberi kesempatan untuk belajar, sayang. Jangan takut ya, Anak Ibu pasti bisa.


Jangan lupa doain Ibu sama Ayah, Sayang. Simpan kotak perhiasan itu untuk kado pernikahan dari Ayah sama Ibu. Ambil amplop putih di dasar kotaknya. Cuma itu yang Ayah sama Ibu bisa sisihkan untuk Hanna sebagai permintaan maaf Ibu sama Ayah.
Peluk Cium sayang buat Hanna dari Ibu..



Aku....aku hanya bisa menangis sejadinya. Aku membaca suratnya, dengan tulisan tangannya, membuatku merasakan kehadirannya dihatiku, disampingku saat itu sambil memelukku.

Aku rindu pelukannya yang dapat menenangkanku kalau APS ku kambuh, Tangannya yang cekatan ketika darah sudah membasahin bajuku. Rasanya aku hanya bisa merepotkan beliau dulu. Aku belum sempat membalas apa yang sudah mereka perjuangkan untukku, tapi mengapa mereka sudah memberikan sesuatu lagi untukku.

Aku segera mencari dimana amplop putih yang ibuku maksud. Sesudah mengeluarkan semua isi kotak perhiasan ibuku, terlihatlah amplop itu. Kuambil, kubuka perlahan...

Aku terperangah dan tangisku meledak....apa yang mereka pikirkan waktu itu.

Aku menemukan berlembar – lembar uang dollar pecahan $100 di dalam amplop itu, entah berapa lama dan dari mana mereka mendapatkannya, yang jelas, aku shock.

Perutku mendadak kencang, entah kenapa. Terasa sakit yang luar biasa. Aku memegangi perutku sambil menyandarkan punggungku ke dinding.

'duuhhhh', hatiku mengaduh.


Aku berusaha berjalan berjalan perlahan ke kasurku. Merebahkan diriku diatasnya dan berusaha tenang. Yang aku pikirkan hanya, aku ingin sesuatu yang ada dalam perutku aman. Aku tak sanggup jika harus kehilangan dia setelah kehilangan ayahnya.

Setelah lama ku berpikir dan menimbang, aku memutuskan akan mengatakan segalanya kepada keluargaku, agar mereka tau kalau aku sedang hamil dan bukan ingin meminta perlindungan, hanya meminta nasihat. Walaupun mungkin, belum tentu nasihat itu akan aku terapkan.

Aku berusaha meredakan rasa tegang di perutku.

Aku keluar kamar dan berharap semuanya sudah datang. Ternyata feelingku benar, Kakak – kakakku sudah mulai berdatangan dengan berbagai macam tujuan. Ada yang memang mau praktek, ada juga yang Cuma mau transit aja di rumah. Mayoritas kakak – kakakku dan kakak iparku berprofesi sebagai dokter. Kebetulan ayahku seorang dokter dan mereka sekarang yang meneruskan.

“Han, dah makan?”, tanya Kakakku.

“Hmmm..udah tadi pagi, Hmm..Hanna mau bicara sebentar, boleh?”, tanyaku.

“Ada apa?”, tanya kakak – kakakku hampir bersamaan.
“Ini masalah Hanna sebenarnya. Hanna Cuma ingin Mas – Mas sama Mba tau. Tapi Hanna ga mau minta belas kasihan atau ada yang marah – marah disini, karena Hanna dah terima semuanya dengan ikhlas se-ikhlas – ikhlas nya”, jelasku.

“Ada apa siy Han????”, tanya Kakakku yang kedua.

Aku mulai menceritakan semuanya. Awal pertemuanku dengan Bho sampai aku bisa berangkat ke Samarinda. Aku tak melewatkan sedikit pun cerita itu, tidak
melebih – lebihkan dan tidak menguranginya. Semuanya jelas. Tanggapan mereka beragam, ada yang biasa aja ada juga yang antusias mendengarnya.

Ketika aku mulai menjelaskan ada apa denganku dan inti dari pertemuan itu, mereka mulai curiga kalau ada yang tidak beres denganku.

“Han, To The Point aja deh, ada apa?”, tanya kakakku yang ketiga.

“Ok, setelah Hanna kasih tau sebenernya ada apa, Hanna mohon, Hanna minta maaf. Hanna langsung pergi dari sini”, jelasku.

“Eh, kenapa??”, tanya kakak perempuanku panik.

“Hmmm….maaf semuanya. Hanna….Hamil!”, jawabku.

Serentak, semuanya terdiam….

“Ini, dulu Ibu titipkan ini ke Hanna. Trus ini ada kotak perhiasan ibu juga yang ibu titip ke Hanna”, jelasku.

Aku tak mendapat tanggapan apapun dari kakak – kakakku, mereka hanya duduk terdiam, ada juga yang menutup wajahnya, bingung.

“Ini di suratnya ibu sebenernya buat Kado Pernikahan Hanna, tapi kayaknya sekarang ga perlu lagi. Lebih baik kalian aja yang pegang, Hanna ga perlu. Ini surat rumah dan dokumen – dokumen lain. Hanna pamit”, jelasku lagi.

Aku pun bangkit dari dudukku, menahan tangisku. Aku langsung bergegas menuju kamarku untuk membereskan semua yang tersisa. Setelah menutup pintunya, aku tidak dapat menahannya lagi...


'Bu, Yah, Maafin Hanna...', bisikku pada keduanya.


Aku tau kalau akhirnya akan begini….Aku tau…

Love of my life - you've hurt me
You've broken my heart and now you leave me
Love of my life can't you see
Bring it back, bring it back
Don't take it away from me
Because you don't know -
What it means to me
Love of my life - don't leave me
You've stolen my love and now desert me
Love of my life can't you see
Bring it back, bring it back
Don't take it away from me
Because you don't know -
What it means to me

You will remember - When this is blown over
And everything's all by the way - When I grow older
I will be there at your side to remind you
How I still love you - I still love you

Ooooo
Hurry back - hurry back
Dont take it away from me
Because you don't know
What it means to me

Love of my life Love of my life ...

( Queen – Love Of My Life )

Lagu ini mengantarkanku keluar untuk kedua kalinya dari rumah yang selama ini menaungiku. Melihatnya dari luar untuk kesekian kalinya sudah membuatku hancur berantakan.

Reaksi kakak – kakakku ketika aku turun untuk pergi kesekian kalinya beragam. Ada yang memandang marah padaku, Ada yang menangis dan pergi meninggalkanku, ada yang diam aja.

Itu memang yang kuharapkan, tidak ada caci maki dan amarah – amarah yang tidak sepantasnya. Mereka sadar bahwa itu semua resiko yang memang harus aku tanggung sendiri. Aku ingat kata – kata kakakku yang terakhir kudengar sebelum aku keluar rumah untuk kedua kalinya.

“Han, kenapa kamu harus pergi lagi dengan keadaan seperti itu?”…

Aku tidak menjawabnya dan langsung pergi keluar rumah. Untuk sementara, aku kembali ke Depok, ada tempat kosong untukku tinggal disana.

Tempat itu adalah sebuah kontrakan dengan 3 sekat didalamnya. Lantainya terbuat dari semen saja, atapnya genting tanpa langit – langit. Tidak ada tempat tidur, lemari ataupun meja, wajar jika aku menyewanya Rp. 250.000 / bulan.
Belum lagi kalau hujan datang, kontrakanku biasa terendam air setinggi paha.
Dengan beralaskan selimut yang kupinjam dari Bho lah setiap malam aku tidur. Makan pun dah ga nafsu lagi karena aku gak tau apa yang harus kulakukan berikutnya.
Uang dollar pemberian orangtuaku, kusimpan, hanya kusimpan. Aku pun rasanya tak mampu mencairkannya di money changer. Ini dana yang harus kusimpan untuk anakku nanti.

Terkadang, kalau rasa bosan menderaku, aku mulai mencari game centre dan bermain RF, bertukar cerita dengan teman – teman walaupun setiap mereka menanyakan kabarku, aku selalu membohongi mereka dengan alasan tidak mau merepotkan mereka lagi. Padahal, kondisiku saat itu mungkin sedang benar – benar drop.

Untuk makan, terkadang tak ada makanan apapun yang masuk ke tubuhku. Pertama karena “Morning Sickness” ku yang semakin menjadi – jadi. Kedua, mungkin karena aku tidur hanya beralaskan selimut itu, kondisi badanku jadi berantakan. Aku sulit membedakan antara “Morning Sickness” dan “Masuk Angin”, karena aku hampir merasakan mual yang hebat sepanjang hari. Tapi karena aku tak bisa sendiri, aku selalu menyempatkan diri OL RF demi teman – temanku sampai suatu saat…ketika aku sedang berada di markas karena janjian mau beli elemental dengan temanku, tiba – tiba datang menghampiri char RFku sesosok Accretia yang tak kukenal..

“Hai Cewek”, sapanya.

„Kok dia tau ya kalo aku cewe???, hati kecilku bertanya.

“Ya, kok lo tau gwe cewek?”, tanyaku spontan.

“Tau dong”, jawabnya.

“Tau dari mana?”, tanyaku pada char bernama „godtohell? itu.

“Tau, karena gwe kenal banget lo, Beb”, jawabnya yang membuatku kaget setengah mati.

“Bho?? Sasa??”, tanyaku kaget.

“Ya..Pa kabar??”, tanyanya.


“Baik…..lo gimana kabarnya?”, tanyaku.

“Baik….”, jawabnya.

“Bikin char baru ya Sa?”, tanyaku.

“Ya….lo tumben OL?”, tanyanya.

“Iyah, lagi kangen aja. Lagian belum tau kapan bisa OL lagi”, jawabku.

“Kenapa? Mau kemana?”, tanyanya.

“Ke Aceh kali…”, jawabku sekenanya, karena aku dah ga sanggup lagi berbincang – bincang dengannya.
“NGAPAIN ???!!!!!”, tanyanya yang kelihatan hmm..entah bingung…entah heran…

“Ada deh…kenapa mangnya?”, tanyaku.

“Kamu dimana siy? Kamu ga balik ke Samarinda ya?”, tanyanya.

“Aku di atas bumi di bawah langit. Ke Samarinda lagi kok tapi entah kapan”, jawabku.

“Bener???”, tanyanya.

“Mang kenapa Sa?”, tanyaku.

“Kan dulu kamu janji bakal balik ke Samarinda lagi. Kamu boong ya?”, tanyanya.

“Boong apa?”, tanyaku kembali…


“Kamu boong kan? Kamu pasti ga akan balik ke Samarinda. Ya kan?”, tanyanya

“Apa untungnya aku balik ke Samarinda Sa?”, tanyaku

“Ada…Banyak. Tolong jangan panggil aku „Sasa?..”, jawabnya.

“Sorry….tapi gwe ga tau kapan kesana Ji”, jawabku.

„entah lah Saaaa……Entah aku bisa kesana lagi apa ga. Kenanganmu, semua tentangmu membuatku semakin lemah dan lemah, Sa?, jeritku dalam hati

“Hoy..kok diem? Bener ya kamu boong kalo bakal balik ke Samarinda lagi?”, tanyanya lagi

“Bukan gitu, gwe lagi sibuk chat ma anak – anak guild”, alibiku

“Ooo…..Kamu Kok beda siy Beb?”, tanyanya.

Aku langsung keluar dari RF dan masuk lagi dengan charku yang lain, yang ga diketahui Bho. Yang tau char itu hanya gerombolan siberatku a.k.a guildku. Kala itu Bho bukan lagi anggota S.C.O.R.P.I.ON. Nama VieANKaCHu dah terlalu lama terjun di dunia per-Rfan. Begitu namaku muncul di layar chat, sudah ada yang whisp aku.

“Ras, kemana tadi?”, tanyanya dan itu ternyata Kazuya009

“Relogin, mau mainin char ini. Kenapa?”, tanyaku.

“Tadi dicariin Om KoalaDewa tuh”, jawabnya.

“Siap, nanti gwe whisp dya”, jawabku.

Aku segera membuka daftar buddyku dan meng klik kanan nama KoalaDewa dan memilih untuk „chat 1:1?
“Mas Yud, cari aku tadi?”, tanyaku

“Kenapa ganti char?”, tanyanya.

“Oia, mau tanya. Bho bikin char baru ya namanya „godtohell???”, tanyaku.

“Ya..kenapa?”, jawab Yudha.

Aku menceritakan apapun yang tadi terjadi padaku. Pada akhirnya, aku me-non aktifkan char VieANKaCHu ku dan menggunakan char kecilku. Rasanya aku ga sanggup untuk liat Bho lagi dalam hidupku tapi entahlah. Aku juga tidak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada Bho.

Akhirnya aku menghentikan ***u dengan Yudha. Aku lebih sering chat dengan Kazuya009 atau astra46. Aku ga mau terlalu dekat dengan Yudha.

Hari – hariku kulalui dengan kegiatan yang sama. Terkadang, anak2 guild menelponku, menanyakan keadaanku. Dan akhirnya, aku harus berbohong agar mereka tidak tau tentang apa yang sedang kujalani.

28 April….

Hari itu, Hari ulang tahun ku yang entah sudah keberapa aku tak tahu. Yang kupikirkan hanya, aku ingin merasakan kebahagiaan saat itu. Aku memutuskan untuk menghabiskan hari dengan begadang sampai pagi.

Aku pergi ke net yang jauh dari kontrakanku.

Menghabiskan uang dan waktu seharian disana tanpa mencari pekerjaan membuatku berpikir, untuk memulainya sekarang.


Aku menemukan sebuah kantor yang membutuhkan pegawai. Dengan pengalaman yang aku punya, aku yakin 80% mereka akan mempertimbangkan aku. Mungkin yang akan jadi masalah adalah apa yang sedang terjadi padaku. Aku tak perduli, tidak ada salahnya mencoba daripada tidak sama sekali.

Aku segera mengirimkan CV dan semua Referensi yang kupunya ke alamat email yang tertera disana. Attach semuanya dan..

„Done!!?, jeritku dalam hati.

Tinggal waktuku berdoa, Aku ga mau manggantungkan hidupku dengan semua pemberian orangtuaku. Biar itu jadi hak anakku.

Aku bermain RF seharian hari itu. Sampai tiba – tiba aku bertemu dengan teman lamaku di RF, si BandarGanZa.

“Raaaaaaaaaaaassssssssssss!!!!!!!!!”, serunya di chat all.

“iyah, Rick”, jawabku.

“Kemana aja? Lagi dimana?”, tanyanya.
“Kan kemaren di Samarinda. Sekarang di Jakarta”, jawabku.

“Weq. Kenapa? Ada apa? Masih sama Bho kan?”, tanyanya.

Aku pun menceritakan semuanya dan Erick a.k.a Bandarganza pun marah bukan main. Dia memaki – maki Bho ga jelas di chat RF.

“Ras, lo harus bilang sama dia”, ujarnya.

“Ga bisa…gwe ga sanggup”, jawabku.


“Ga sanggup apa? Lo kudu bilang…kudu bilang sama dia”, suruhnya.

“Gwe dah tau jawabannya Rick, dan gwe kayaknya ga sanggup denger kata – kata itu eluar dari mulut dya lagi”, jawabku.

“Lo ga usah telpon dia. Sms aja atau tinggalin pesen di YM kek. Pokoknya harus bilang Ras”, suruh Erick.

Akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan Erick, aku mulai memberanikan diri mengirimkan sms pada Bho tentang keadaanku, tapi tak ada balasan. Akhirnya sebelum aku mengakhiri hariku, aku mengirimkan sebuah offline messege via YM ke YMnya Bho, yang berisi :

Sa, maaf kalo aku harus ngomong ini sama kamu. Ya, aku hamil Sa. Tapi kamu ga usah takut, aku dah tau jawaban kamu seperti apa. Jadi, aku dah mengambil keputusan ini dari awal. Aku tetap mempertahankan semuanya tanpa ada kamu. Kamu ga perlu bertanggung jawab atas ini, aku pasti akan baik – baik aja walaupun kamu tahu resikonya besar. Kirim doa aja ya Sa. Aku juga ga akan pernah benci sama kamu dan aku juga ga akan pernah buat si kecil benci sama kamu. Seburuk – buruknya kamu tetap ayahnya dan aku ga mau dia jadi ga hormat sama kamu kalau suatu saat kalian ketemu secara ga sengaja. Kejar kebahagiaanmu Sa.

Aku mengirimkan 2 offline msg padanya…karena ga cukup kalo 1 offline msg.

Aku mengakhiri petualanganku hari itu dengan perasaan tak menentu. Aku pulang ke kontrakan dengan perasaan yang….haaahh…sedih, karena aku akan benar benar kehilangan Bho.

Entahlah…mungkin memang perasaan ini yang harus kurasakan di hari Ulang Tahunku.

Dulu Aku mengharapkan bisa menghabiskan hari ulang tahunku dengan Bho…tapi sudahlah….

Tinggal saat ini aku menunggu, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya……entahlahh….

Aku..pasrah…..

Aku pulang dengan langkah gontai. Kupasang Ear Piece MP3 Playerku dan tampaknya itu tak membantuku.

Begitu indahnya untuk dikenang
Saat kamu masih mengejar cintaku
Begitu manisnya tangismu untuk
Memohon hadirku kedalam hidupmu

Katamu kau tak akan tinggalkan aku
Sakiti aku lukai aku
Tapi kau ternyata tinggalkan aku
Sendiri
Katamu kau tak akan pernah duakan
Hatimu cintamu

Kemana perginya kamu yang dulu
Yang maunya selalu dekat dengan aku
Kemana perginya cinta yang dulu
Yang pernah kau tikam ke dalam jantungku

( Mulan Jameela – Lagu Sedih )

Lagu itu membuatku mataku mengeluarkan airmata untuk kesekian kalinya. Posisiku yang saat itu sedang di halte pun tak kuhiraukan.

Sesampainya aku di kontrakan, aku langsung membuka selimut kuning bermotif
bunga – bunga ungu yang dulu dipinjamkan Bho padaku. Kuhamparkan di lantai sebagai alas tidurku dan menumpuk – numpuk lipatan baju ku untuk kujadikan bantal. Aku tak ingin bermimpi hari ini. Ga mau…

29 April….

Sayup – sayup ku dengar HPku berbunyi….

Lagu Chocobo terdengar pelan namun pasti. Aku melihat jam tangan yang masih melingkar di pergelangan tanganku. Aku terduduk, terpaku, terdiam masih berusaha menyadarkan diri.

„Jam 12 siang, siapa yang telpon siang – siang begini??, tanyaku dalam hati.

Aku segera beranjak dari atas selimutku, pelan – pelan berjalan kearah ruang depan rumah kontrakanku yang kosong melompong. Aku terduduk di lantai, berusaha menenangkan diri dan begitu kuraih HPku, mendadak deringnya berhenti.

„Hufff…Cuma miskol kali ya??, tanyaku dalam hati tanpa memperdulikan siapa yg telpon.

Ketika ingin beranjak kembali ke atas selimut itu, HPku berbunyi lagi.

„Siapa siy?', tanyaku dalan hati kesekian kali.

Kuraih HPku, kubuka flip nya dan tertera nama seseorang yang saat itu benar – benar tak ingin kutemui atau bicara sekalipun.

„BHO?….hati kecilku melonjak kaget.

Aku masih mempertimbangkan, akan menjawab telpon itu atau tidak, tapi akhirnya aku mengangkatnya juga.


“Halloo”, sapa suara diujung sana.

“Ya, Sa. Ada apa?”, jawabku ditengah kantukku..

“Aku mau ngomongin masalah itu, yang kamu omongin di sms sama YM”, jawabnya.

“Ya kenapa? Dah jelas kan. Ngapain ditanya lagi?”, tanyaku.

“Eh, Itu anak gwe kan?”, tanyanya dengan suara yg agak tinggi.

“Iyah. Kenapa?”, tanyaku.

“Gwe belum siap. Mending lo gugurin aja deh”, suruhnya

“Sorry Sa, gwe ga bisa”, jawabku.

“Kenapa?”, tanyanya.

“Gwe dah terlalu sayang Sa”, jawabku.

“Tapi kalo Cuma sayang gimana hidupnya nanti?”, tanyanya.

“Setiap anak punya rezeki sendiri – sendiri. Dah lah Sa, gwe bisa jalanin ini sendiri”, jawabku

“Tapi Gwe belum siap”, jawabnya.

“Kalo lo mang belum siap, gak papa. Gwe udah kok Sa”, jawabku.

“Tapi gwe ayahnya. Itu anak gwe kan?”, tanyanya.

“Ya, lo ayahnya dan ini anak lo”, jawabku ditengah tangisku yang hampir meledak.

“Gwe belum siap. Ngerti ga siy. Lo mending gugurin aja”, suruhnya.

“Sa, gwe dah berusaha ya. Gwe tetep belajar naik motor, gwe tetep jalan kesana kesini, naik pesawat, ngelakuin hal – hal yang ga boleh dilakuin ma orang hamil. Dia tetep ga gugur juga Sa. Lo mau gwe minum obat – obatan biar dia keluar?”, tanyaku.

“Kalau perlu”, jawab Bho.

“Oke…Gwe minum. Tapi kalo dia tetep ga gugur dan dia lahir abnormal, cacad, jangan salahin gwe”, jawabku sambil menahan tangisku.

“Jangan. Jangan lahir cacad. Anak gwe ga boleh cacad. Jangan sampe”, jawabnya.

“Lo tuh gimana sih? Tadi nyuruh gugurin. Sekarang kalo ternyata ga gugur, tapi lahir abnormal, ga mau. Mau lo Apa????”, tanyaku.

“Gwe maunya dia keluar dari rahim lo. Kalaupun dia lahir, gwe ga mau dia cacad. Kalo dia sampe lahir, gwe mau test DNA. Gwe bukan cowok yang kayak gitu”, jawabnya.

“Cowok yang kayak gimana?”, tanyaku sinis.

“Cowok yang lepas tanggung jawab. Gwe bukan cwok yang kayak gitu, gwe Cuma belum siap”, jawabnya.

“Kalo emang setelah test DNA, dia anak lo. Lo mau tanggung jawab gimana? Ngasih makan dia? Nikahin gwe? Hah…?? Sorry Sa, ga perlu”, jawabku dengan nada yang tinggi

Aku langsung menutup flip HPku. Emosiku mempengaruhi ku. Tak berapa lama,
HPku berbunyi lagi. Aku mengangkatnya. Bho.

“Apa lagi siy Sa?”, tanyaku.

“Jadi gimana?”, tanyanya.

“Gimana apanya? Kan dah jelas. Aku ga mau kamu tanggung jawab atas apapun, My Lord. Kamu tuh Dewa, aku manusia biasa yang punya banyak dosa. Aku ga mau nambahin dosa lagi dengan menggugurkan apa yang sudah menjadi resiko ku. Kalau kamu ga mau tanggung jawab, gak papa. Aku lewatin sendiri. Ini tanggung jawabku”, jawabku meluap – luap.

“Tapi dia anak gwe. Gwe bukan laki – laki yang lepas tanggung jawab. Saat ini gwe belum siap. Jadi lebih baik digugurin aja”, jawabku.

“Ga, Sa. Makasih. Kamu tau, resiko aku melahirkan kan??”, tanyaku.

“Ya, kita pernah omongin dulu. Gwe takut. Gwe…”, jawabnya

Belum sempat dia meneruskan semuanya, aku langsung memotong ucapannya.

“Gwe ambil semua resiko termasuk kehilangan nyawa gwe Sa !!!! PAHAM??”, jawabku.

“Jangan….Jangan…Gwe ga mau. Gwe ga bisa….duuhh..gwe ga sanggup..Pliss apa susahnya gugurin siy?”, tanyanya.

“Sorry, susah buat gwe yang masih punya HATI, My Lord. Gwe pertaruhkan nyawa gwe buat dia”, jawabku.

“Jangan..Pliss..Gwe mau dimutasiin niy ke Sangata. Jangan bikin gwe kepikiran”, jawbanya.


“Kenapa lo harus kepikiran?”, tanyaku.

“Asal lo tau ya? Lo tuh ganggu gwe banget. Kenapa siy lo harus ada kabarnya? Kenapa siy kabar lo selalu bisa gwe tau? Kenapa siy? Diotak gwe tuh jadi Cuma ada lo…lo…lo…dan lo. Sampe semuanya tuh berubah. Bikin gwe ga bisa konsen maen, bikin semua temen – temen gwe Tanya kenapa gwe. Gwe tuh ga abis pikir, Kenapa siy lo nge ganggu banget?”, tanyanya.

“Sorry, kalo gwe ganggu lo. Yang bikin gwe selalu ada dipikiran lo bukan gwe, tapi ya diri lo sendiri. Otak Otak lo, kok jadi Tanya masalah itu ke gwe?”, tanyaku kembali.

“Udah, pokoknya gwe mau lo GUGURIN dia. Kalau pun dia lahir, gwe mau test DNA. Titik”, jawabnya.

“Oke. Termasuk kalo dia abnormal ya Sa”, jawabku ketus.

“Ga, ga boleh cacad. Terserah lo mau gugurinnya gimana. Yang jelas, kalau harus lahir, ga boleh cacad!”, jawabnya.

“As YOU WISH MY LORD !!”, jawabku meluap – luap.

“Ya dah, sekarang gwe mau tidur”, jawabnya.

“Oke…”, jawabku.

“Ya dah, jangan ganggu gwe…biar gwe yang cari lo”, ujarnya.

“As YOU WISH MY LORD”, jawabku dengan suara yang datar, berusaha tegar.

„I wish u never found me, Sasa?, pintaku dalam hati.

“Ya dah….”, jawabnya sambil kemudian menutup Hpnya.

Aku menangis sejadi – jadinya…..

Kata – katanya seolah sedang membunuhku secara perlahan tapi pasti.
Membunuhku perlahan dengan semua kenangan itu dan……

Aku mati perlahan – lahan…..

Sejak hari itu, aku menjalani semuanya sendiri. Cinta pria dan wanita buatku tak begitu penting lagi. Aku hanya mementingkan si kecil di perutku yang mungkin sedang berkembang tanpa tahu seberapa besar kehidupan yang akan dia terima nanti, tanpa ayah.

Aku sudah memutuskan menutup seluruh hatiku untuk manusia bernama Aji atau Bho.

Sampai dibulan kedua, aku mendapatkan sesuatu yang benar – benar menakjubkan sekaligus menyedihkan. Hari itu, aku datang ke rumah sakit untuk cek semuanya. Sejak kepulanganku dari Samarinda, aku belum tahu lagi bagaimana perkembangannya. Akhirnya kuputuskan mengambil selembar uang pemberian orangtuaku dan menukarkannya.

Siang itu aku datang dengan hati yang galau……dan akhirnya ketakutanku terbukti juga.

“Siang Mba, saya mau periksa kandungan. Ada dokternya ga ya?”, tanyaku.

“Ada Bu. Bisa isi data disini dulu?”, ujar Suster itu.

“Ya, Bisa”, jawabku.

“Dengan Ibu siapa?”, tanyanya.


“Vie”, jawabku singkat.

“Baik Bu Vie, saya siapkan kartu periksanya sambil Ibu isi form ini. Untuk data – ?
data pasien apabila nanti dibutuhkan. Silahkan diisi, ini penanya. Silahkan duduk sampai saya panggil nanti”, jelas si Suster.

“Terima kasih”, jawabku sambil memberikan senyum ke Suster itu.

Dia memberiku selembar form berisikan data – data yang harus aku isi. Aku mencari tempat yang nyaman untuk mengisinya. Aku mengisinya dengan teliti dan tibalah di data yang enggan aku isi.

„Nama Suami :…?, bisikku dalam hati.

Aku bingung. Aku enggan menuliskan nama Bho disitu. Tiba – tiba HPku berbunyi…

„No nya ga ada di daftarku. Siapa ya?, tanyaku dlm hati. Aku pun mengangkatnya.

“Halo”, ujarku.

“Halo Na. Ini Hanna kan?”, tanyanya.

“Iyah, ini siapa ya?”, tanyaku.

“Ini Wonk”, jawabnya.

“Ya ampun, kumaha damang Wonk?”, tanyaku.

Wonk itu sahabatku. Aku kenal dia dari Idol street. Memang dari Game Online juga, tapi Wonk beda. Dia maen Game Online hanya untuk pengisi waktu senggang kalau libur kerja. Wonk juga maen RF, tapi ga begitu sering. Game for him is just for fun…ga lebih. Makanya, dia jarang OL, kalo OL pun paling Cuma 1 jam aja.

Hanya Wonk yang tahu kalau namaku bukan Laras. Laras hanya cerminan aja, Cuma bayang – bayang. Cuma Wonk yang tahu namaku Hanna. Karena Wonk jarang OL, jadi teman – temanku tetap memanggilku Ras, ga ada temen OLku yang manggil aku Hanna selain Wonk.

“Baik..Baik…tapi gwe denger kabar ga enak Na”, jawabnya.

“kabar apa?”, tanyaku.

“Hmm….kamu hamil Na?”, tanyanya.

“Hmmm…Ya. Maaf Wonk”, jawabku.

“Cowok lo?”, tanyanya.

“Siapa? Yang hamilin gwe?..hmm…di Samarinda. Udah bukan cowok gwe lagi”, jawabku.

“Haahhh??? Dia, dia ga mau tanggung jawab Na?”, tanyanya.

“Iyah, udah lah Wonk, jangan dibahas lagi. Udah, gwe cukup bias lewatin semuanya”, jawabku.

“Lo gila kali ya??? Dimana lo ??”, tanyanya.

“Di RS ***** di depok. Kenapa?”, tanyaku.

“Tunggu disitu, gwe kesana”, jawabnya.

“Tapi sebentar lagi gwe masuk ke ruang periksa Wonk”, jawabku.


“Sekarang lo lagi apa?”, tanyanya.

“Isi data, Cuma lagi stuck aja. Di kolom „Nama Suami?, gwe mau tulis nama Aji tapi…”, jawabku terputus.

“Tulis nama gwe”, jawabnya.

“Hah, nama siapa?”, tanyaku.

“Nama gwe. Masih inget kan nama lengkap gwe?”, tanyanya.

“Masih tapi…”, jawabku terputus.

“Dah tulis aja. Trus tunggu aja disitu sampe gwe datang. Oke?”, jawabnya.

“Kalo gwe dah masuk, trus selesai tapi lo belum datang, harus tunggu juga?”, tanyaku.

“Sebelum lo selesai, gwe pasti dah sampe. Dah, gwe jalan dulu. Inget, tulis nama gwe, Na”, jawabnya.

“Ga papa Wonk?”, tanyaku.

“Tulis. Titik. Gwe berangkat. Tunggu disitu”, jawabnya.

“Ya”, jawabku.

Wonk memutuskan sambungan telponnya dan aku hanya bias terdiam, membisu.

“Ibu Vie, Form nya sudah bisa diambil?”, Tanya Suster itu menghampiriku.

“Sebentar dikit lagi”, jawabku.


Aku segera mengisi data „Nama Suami? dengan nama Wonk.

„Ridwan N?, tulisku di kolom itu.

Aku segera menandatangani form tersebut dan segera menyerahkan form tersebut ke Suster itu.

“Terima kasih, silahkan duduk lagi ya. Sebentar lagi dipanggil”, jelasnya.

Tak berapa lama, memang aku dipanggil oleh suster itu untuk masuk ke ruang periksa. Aku segera memasuki ruangan bernuansa hijau itu, menyenangkan.

“Siang Bu, Dengan Ibu Vie ya?”, sapa wanita berjilbab di depanku.

“Iyah”, jawabku diiringi senyumanku untuk wanita itu.

“Kok sendiri, suaminya ga anter?”, tanyanya.

Aku hanya tersenyum. Ia menanyakan perihal kehamilanku. Aku menjawabnya seadanya. Kondisiku yang baru saja pulang dari Samarinda, naik pesawat dan sebagainya. Aku juga menjelaskan kalau aku punya Anti – Phospholipid Syndrom. Beliau agak kaget mendengarnya. Tak berapa lama, terdengar ketukan.

“Silahkan masuk”, jawab wanita itu.

Ketika pintunya terbuka, yang kulihat bukannya Suster tapi Wonk.

“Maaf Dokter, saya suaminya”, sambil melirik padaku.

“Ooo…silahkan..silahkan masuk Pak”, jawab wanita itu.

Beliau lalu melihat buku periksaku dan kemudian bicara..


“Pak Ridwan…”, ujarnya.

“Ya….”, jawab Wonk.

“Oke…sekarang istrinya saya pinjem dulu ya, mau USG. Kalau Bapak mau ikut, silahkan. Biar bisa liat si cantik atau si jagoan”, ujarnya.

“Boleh”, jawab Wonk sambil senyum.

Aku hanya melihat perbincangan ini dengan perasaan tak menentu.

„Suami, siapa suami siapa? Siapa istri siapa??, tanyaku dalam hati.

Aku langsung disuruh tiduran. Perutku langsung diolesi oleh gel khusus, dan…

„Wieee…geli?, pekikku ketika alat itu digesek – gesekkan ke perutku.

“Waahh…Pak, Bu, kayaknya isinya ga satu ini”, ujar si dokter.

“Maksudnya?”, Tanya Wonk.

“Ini ada dua, kembar. Dari gambar yang saya liat, sepertinya kembar identik karena berasal satu telur. Tapi baru benar – benar terlihat kalo sudah masuk minggu ke 16 nanti”, jelasnya.

Aku dan Wonk hanya lihat – lihatan. Dia lalu membelai rambutku sambil tersenyum. Aku hanya merasa, aneh.
„Seandainya Bho yang melakukan itu?, bisikku dalam hati.

Ketika prose situ selesai, aku hanya bisa terdiam. Wonk yang lebih banyak bertanya. Setelah selesai, aku diberikan buku periksa beserta hasil foto USG tadi.

Ada rasa senang yang tak terkira, bingung yang berlebihan.

Ketika aku dan Wonk keluar dari ruang periksa, aku langsung membicarakan semuanya.

“Kok lo bisa masuk siy?”, tanyaku.

“Bisa lah, tanya dunk sama Mba nya di depan situ”, jawabnya sambil memberikan senyum padaku

“Bilang apa?”, tanyaku.

“Ya tanya, „Mba, Istri saya dah masuk ya??, gitu”, jawabnya sambil nyengir.

“Jaaahhh….pantesan. Trs tadi kenapa bilang kalo lo suami gwe?”, tanyaku

“Kenapa siy? Biarin aja. Lagian kalo tuh dokter tahu lo belum nikah, ntar nanya – nanya yang aneh – aneh atau mikir yang ga – ga lagi dia. Jangan sampe deh”, jawabnya.

“Tapi….”, jawabku.

“Udah, seneng ga mau punya anak kembar?”, tanyanya.

“Iyah. Tapi….”, jawabku.

“Udah ga usah mikirin dia lagi ya. Pikirin si kecil – kecil ini aja”, jawabnya.

Setelah kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan pemikiran Wonk. Dia bilang padaku suatu saat kalau dia ingin menjadikanku istrinya dan menerima anak – anakku sebagai anakku. Alasannya karena dia sudah terlanjur sayang padaku.

Memang, apa yang sudah dilakukannya membuatku merasa tidak menjalani semuanya sendiri.

Sejak aku mendapat pekerjaan di daerah Grogol, aku selalu naik kereta api ekonomi Depok – Cawang – Depok setiap hari dan dari cawang naik bis ke grogol. Walaupun sedang hamil muda, aku ga perduli. Aku butuh sesuatu untuk kukerjakan dan kumakan.

Tapi ketika Wonk tau hal itu, dia memaksa aku untuk menerima jasa antar jemputnya setiap hari sebelum aku mendapatkan tempat tinggal baru di dekat kantorku. Sampai suatu saat, kakak laki – lakiku menelponku.

“Han…halo”, terdengar suara disana.

“Halo Mas, kenapa?”, tanyaku
“Kamu dimana?”, tanya kakakku.

“Di kantor, kenapa Mas?”, tanyaku.

“Tinggal dimana?”, tanyanya.

“Di Depok”, jawabku seadanya.

“Kerja dimana kamu?”, tanya kakakku.

“Di Grogol, ada apa siy Mas?”, tanyaku.

“Mas mau ngomong. Kita semua mau ngomong. Kamu dimana? Mas kesana”, jawab kakakku.

“Ga usah, Hanna pulang aja ke rumah. Besok”, jawabku.

“Oke, Mas tunggu”, jawabnya.


“Oke, Hanna sampe sana sore kali ya”, jawabku.

“Ya dah, ga papa”, jawab kakakku.

Dari nada suaranya, tak terdengar kemarahan, hanya ada ke khawatiran. Aku segera bilang pada Wonk melalui sms kalau besok siang, sepulang kerja, aku akan ke rumah. Dia membalasnya.

„Oke…aku anter, jangan nolak. Oke??

Aku segera membalasnya. Aku ga mau menyusahkan seseorang yang sudah terlampau baik padaku. Menyisakan semua waktunya untukku yang jelas – jelas belum bisa memberikan apa yang dia mau. Bagiku, memutuskan menikah atau menjadi seorang istri dari seseorang pada saat keadaan hamil membuatku merasa bersalah. Mungkin akan sangat merasa bersalah.

Keesokkan harinya, Wonk seperti biasa, menjemputku pagi hari. Kami berangkat kerja sama – sama. Dia selalu mengantarkanku terlebih dahulu. Dia bisa sampai Depok jam 5 pagi hanya untuk menjemputku dan sampai jam 4 di kantorku untuk menjemputku. Tak bisa terbayangkan olehku. Dia tetap ingin aku jadi pendampingnya, tak perduli keadaanku yang dah hancur berkeping – keping.

Sore itu, dia mengantarkanku ke rumah, untuk membicarakan semuanya dengan kakakku ttg apa yang terjadi.

Ternyata setelah dibicarakan, kakak – kakakku ga mau kalau aku tinggal diluar rumah dengan keadaanku yang seperti itu. Pada saat itu pun, Wonk mengutarakan sesuatu yang membuatku mendadak kalut.

“Hmm..maaf semuanya, saya juga mau bicara disini”, ujarnya.

Aku langsung melihatnya. Keheranan.

„Ada apa lagi niy??, tanyaku dalam hati.

“Ada apa Wan?”, tanya kakak perempuanku.

“Sebenernya saya kesini bukan Cuma mau nganterin Hanna aja tapi ada yg lainnya juga”, jelasnya

“Ada apa?”, tanyaku.

“Begini, saya mengutarakan kalau saya…ingin Hanna jadi istri saya”, jelasnya.

Aku langsung merubah posisi dudukku dan terdiam seribu bahasa.

“Bener Wan? Kenapa kamu punya keinginan seperti itu?”, tanya kakakku.

“Saya sudah lama sayang sama Hanna. Dia terlalu baik untuk disakitin kayak gini. Dia wanita yang benar – benar saya kagumi. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, sudah jadi resiko saya. Saya sayang dia berarti saya juga harus sayang sama anak – anaknya. Pada kenyataannya, saya ga sayang sama mereka, tapi saya sudah terlanjur cinta sama mereka dan bundanya”, jelasnya panjang lebar.

“Oke..saya sama keluarga siy ga masalah. Cuma kembali lagi ke Hanna. Gimana Han?”, Tanya kakakku.

Aku Cuma bisa terdiam….terdiam….

„Ada apa lagi sssiyyy????, jeritku dalam hati…gundah

aku mendengar apa yang dibicarakan dengan perasaan tak menentu. Ketika kakakku menanyakan tentang apa yang Wonk utarakan kepada keluargaku, membuat otakku berhenti berpikir seketika.


“Han, kok diem siy? Gimana? Tuh Wonk nunggu jawaban”, tanya kakakku.

Aku hanya bisa menundukkan wajahku. Entah malu atau aku benar – benar tak kuasa menatapnya. Sampai beberapa kali kakakku menegurku, baru aku berani menjawab semuanya, sesuai kata hatiku.

“Han....gimana?”, tanya kakak laki – lakiku.

“Hmmm....maaf ya semuanya. Maaf Wonk. Aku tau niat kamu baik banget. Aku juga ga tau kalau kamu bisa punya keinginan sebesar ini untuk jadiin aku...mm...pendamping kamu. Tapi aku..”, jawabku tertahan.

“Kenapa Han?”, tanya Wonk.

“Ga papa....cuma”, jawabku ragu sambil melihat ke sekelilingku.

Tiba – tiba entah ada angin apa, kakak perempuanku mengatakan sesuatu.

“Han, Mba sama Mas – Mas pamit ke ruang makan ya. Kamu sama Wonk ke teras atas aja. Kalian bicarakan ini berdua. Kami cuma bisa berharap semuanya akan berjalan sesuai apa yang kalian kehendaki. Yang terbaik buat kamu Hanna, terbaik juga buat kami. Kami ingin lihat kamu bahagia, gak kayak gini”, ujar kakak perempuanku.

Kemudian kakak laki – lakiku dan semua yang ada disitu beranjak pergi ke tempat tujuannya masing – masing dan meninggalkanku dengan Wonk yang terdiam tanpa suara.

“Han, ayo kita ke teras atas. Bicarakan semuanya, mau kan?”, tanyanya.

“Iyah....”, jawabku.

Aku segera mengajaknya ke teras atas atau lebih tepatnya balkon besar di lantai
2 rumahku. Aku mengajaknya duduk disitu.

“Wonk, tempat ini dah jadi saksi bisu masa kecil, remaja dan dewasaku. Semua terkubur disini. Entah aku bisa mengaisnya lagi atau ga. Tapi setiap aku kembali kesini, kenangan akan Ibu, Ayah dan suasana masa kecilku kembali lagi dan aku merindukan itu Wonk”, ujarku membuka pembicaraan diantara kami berdua.

“Tapi itu masa lalu, Hanna. Sekarang kamu sedang dihadapkan dengan satu masa, dimana masa itu akan jadi masa depan kamu dan aku ga mau kamu lewatin semuanya sendiri”, jawabnya.

“Wonk, sendiri atau ga sendiri, rasanya sama”, jawabku.

“Kamu mengharapkan si Bho itu bertanggung jawab atas semuanya? Kamu bilang kalo kamu dah tau apa jawabannya. Sekarang aku tanya, apa jawaban dia setelah tau kamu hamil?”, tanya Wonk.

Aku hanya bisa terdiam ketika Wonk menanyakan hal itu padaku. Wonk menghampiriku.

“Han, Aku ga pernah sedikit pun punya niat untuk mengambil keuntungan atas apa yang dah terjadi sama kamu. Aku juga ga bahagia diatas penderitaan siapa pun. Toh kenyataannya memang laki – laki itu ga menderita, justru kamu yang menderita mikirin dia sepanjang hari tapi apa dia mikirin kamu Han??”, tanyanya.

“Memang ga...tapi....”, jawabku.

“Kamu tau jawabannya tapi kenapa kamu ga berusaha tunjukkin ke dia kalo kamu bisa maju selangkah tanpa dia, Han?”, jawab Wonk.

“Ada di bagian hatiku yang bilang kalo dia sebenernya masih pengen care sama aku, Wonk. Tapi karena aku hamil, dia buang jauh – jauh semuanya”, jawabku.


“kalo memang dia care, paling ga, dia.......susah. Sekarang gini, kamu mau tunggu sampai kapan si laki – laki itu?”, tanyanya.

“Ga tau.......tapi kamu...”, jawabku.

“Aku??? kamu tanya aku, Han?”, tanyanya.

“Iyah, kamu kenapa bilang kayak gitu sama keluargaku? Apa keluarga kamu mau terima aku?”, tanyaku.

“Han, Apa yang terbaik buatku, keluargaku mendukung. Aku melakukan ini juga atas persetujuan si Mama. Aku sayang kamu dan makhluk – makhluk kecil yang ada di perut kamu, Han. Aku berani lakukan apapun buat mereka. Aku ga mau mereka disakitin siapa pun, sampai mati aku ga mau liat kamu dan mereka menderita. Aku mau liat kamu, mereka, kita bahagia, Han. Bangun keluarga kecil yang bahagia”, jawabnya.

“Kenapa kamu bisa sampai se-gila ini siy? Salahku apa sama kamu?”, tanyaku.

“Kamu ga punya salah apa pun Sayangku...ga ada. Kamu terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini. Aku tuh bener – bener sayang sama kamu, Han. Terlepas dari apapun yang sudah terjadi, aku akan tetep sama Han, sayang sama kamu”, jawabnya meyakinkanku.

Aku menatapnya dengan perasaan yang tidak menentu.

“Terus mau kamu apa sekarang?”, tanyaku.

“Keinginanku sama seperti hari ini, kemarin, sebulan lalu…aku mau kamu jadi pemdampingku”, jawabnya.

“Tapi, aku…keadaanku tuh kayak gini Wonk”, jawabku.

“Keadaan kamu kayak apa? Sekarang aku Tanya….”, tanyanya.

“Iyah, hamil….kamu ga malu apa?”, tanyaku.

“Malu kenapa?”, tanyanya.

“Ya malu. Apa kata semua keluarga kamu, semua temen – temen kamu nanti tentang aku, Wonk”, jawabku setengah menahan tangis.

“Ga. Aku ga malu. Kalau keluarga, kan sudah kubilang kalau mereka menerima apapun keputusanku. Kalau teman – temanku, aku udah ngomong kok. Semuanya mendukungku karena mereka tau kalau Cuma kamu yang aku mau dan Cuma kamu yang bisa bikin aku seneng Han”, jawabnya.

“Kenapa bisa begitu?”, tanyaku

“Ya, karena Cuma kamu satu – satunya perempuan yang bisa bikin aku ga pengen mencari – cari lagi. Semua yang aku mau ada di kamu. Cuma 1 stocknya Han….aku ga mau ke duluan orang. Aku mau jadi laki – laki beruntung itu, laki – laki beruntung yang bisa dapet wanita seperti kamu”, jawabnya terlihat sungguh – sungguh.

“Tapi..ga bisa sekarang Wonk untuk wujudin apa yang kamu mau. Aku belum mampu, belum mampu lupain semuanya”, jawabku.

“Aku paham, tapi pintu itu terbuka untukku kan??? Aku akan buat kamu lupa semua apa yang dah kamu rasain sekarang”, jawabnya

“Hmmm…..aku ga mau kamu nyesel”, jawabku.

“Ga..sumpah, Aku ga akan nyesel. Ok? Gini deh..mungkin aku juga terlalu membebani kamu dengan kata „istri?. Kalo gitu….hmmm…”, ujarnya.

“Kenapa?”, tanyaku sambil menatapnya.

“Hmmm….klo gitu, kamu mau kan jadi pacarku? Kita jalanin semuanya dari awal. Aku tau kita terutama kamu bisa lewatin ini semua. Kamu mau kan?”, tanyanya.

Aku terdiam cukup lama, memikirkan semuanya. Sepertinya dia pun cukup paham dengan keadaanku dan sikap diamku saat itu. Aku takut untuk memulai semuanya tapi apa yang kami bicarakan sebelum ini memang keadaan yang sesungguhnya. Aku pun memutuskan untuk maju selangkah, setidaknya aku tidak meratapi yang sudah terjadi, tapi mencoba untuk bangkit.

“Wonk…..”, aku memanggilnya.

“Ya…..”, jawabnya.

“Hmmm…setelah mempertimbangkan semuanya. Apa yang udah kamu, kita omongin tadi memang bener. Aku ga mau stuck disitu – situ aja. Aku mau maju selangkah demi selangkah Wonk…”, jelasku.

“Iyah..kamu harus semangat Han…terus”, jawabnya seperti menantikan sesuatu.

“Terus…..aku akan coba jalanin semuanya sama kamu, Wonk”, jawabku.

Wonk lama menatapku. Aku melihat kegembiraan di wajahnya tapi aku takut itu Cuma halusinasiku saja. Tiba – tiba Wonk berdiri dan berjongkok setengah jinjit dihadapanku.

“Han, Aku seneng banget kamu bilang kayak gitu. Kamu mempertimbangkan semuanya, kamu mau bangkit bareng – bareng aku. Makasih yaaa….aku pasti akan jadi laki – laki sekaligus calon ayah yang paling bahagia, sumpah !!”, jawabnya sambil meremas jemari tanganku.


“Bokis Loooooo”, jawabku.

“Jiaaaahhh…tadi dah serius – serius sekarang keluar lagi deh aslinya”, jawab Wonk.

Aku hanya bisa tersenyum, senyum paling manis yang kuberikan kepada Wonk hari itu.
Aku dan Wonk turun dan membicarakan tentang keputusan yang sudah kami bicarakan dan setujui berdua.

Setiap hari, kulalui semuanya bersama Wonk. Jujur saja, aku mulai melupakan luka yang sudah dibuat oleh Bho di hatiku. Aku mulai melupakannya. Aku merasa
Wonk lah yang ayah dari anak – anakku, walaupun setiap aku memikirkan semuanya, aku tersadar bahwa dia bukan ayah dari anak – anakku tapi aku bahagia kalau seandainya anak – anakku memiliki ayah seperti Wonk.

Wonk selalu memanggilku „Bunda? dan aku pelan tapi pasti mulai memanggilnya „Ayah?.

Aku bangga padanya yang mampu menerima keadaanku yang sudah berantakan.

Perutku makin hari makin membesar. Bebanku pun semakin berat. Rasa sakit akibat APS ku terkadang datang menyiksaku tapi Wonk selalu ada untuk menenangkanku. Dia pun mulai merasa kalau tempat tinggalku terlampau jauh. Tanpa sepengetahuanku, ia mencarikanku sebuah kost untuk kutinggali di dekat tempat kerjaku. Aku terpana dengan semua yang ia lakukan untukku sampai akhirnya aku merasa malu karena begitu besar yang sudah ia lakukan namun aku belum merasa yakin bahwa dia serius dengan apa yang dia ucapkan.

Apa yang sudah Bho lakukan membuatku menjadi seorang yang idiot jika harus merelakan Wonk pergi dari hidupku.


Berbulan – bulan berlalu, hari berganti hari. Aku mulai membiarkan Wonk hadir dalam hidupku dan membiarkan ia keluar masuk pintu hatiku. Sampai tiba saat yang menentukan semuanya.

14 September ….

“Bun, dah makan lom?”, Tanya suara itu diujung sana.

“Belum, tau niy. Perutnya mules terus. Kontraksi terus”, jawabku.

“Ya dah, Ayah kesana sebentar lagi. Ini dah siap – siap”, jawabnya.

Ya, itu percakapanku pagi itu dengan Wonk di telpon. Aku kebetulan sudah tinggal di rumahku karena mengingat kondisiku yang sudah mulai masuk bulan ke –
7.

Entah mengapa, di minggu ke 28 kehamilanku, aku merasakan ada sesuatu yang mencurigakan. Sepertinya, baby – baby mungilku ini mendesak ingin cepat – cepat melihat dunia yang indah ini.

2 jam kemudian, Wonk sampai dirumahku didampingin oleh kakakknya.

“Bun, yuk berangkat ke rumah sakit, diperiksa, Ayah takut kenapa – kenapa si kecilnya”, ajak Wonk.

Aku pun mengikuti apa yang Wonk minta. Kami langsung berangkat ke rumah sakit dan untungnya, kami tidak perlu menunggu terlalu lama untuk masuk ruang periksa.

Dokter pun memeriksa semuanya, membandingkan kondisiku sebelumnya berdasarkan Buku Periksa dari Sebuah Rumah Sakit Bersalin di Depok dengan rumah sakit di daerah rumahku. Beliau mengatakan aku mengalami apa yang dinamakan Eclampsia atau Gangguan Pada Plasenta. Ini berasal dari Anti
Phospholipid Syndrom yang selama ini ada ditubuhku. Aku beruntung karena aku tidak mengalami keguguran tanpa sebab. Tapi Eclampsia ini saja sudah membuatku dan Wonk ketar ketir.

Setelah dipertimbangkan, aku akhirnya harus stay di rumah sakit tersebut agar dapat diawasi segala sesuatunya.

Tapi makin lama, kontraksinya makin hebat. Klimaksnya adalah keluarnya air ketubanku. It?s mean, ketubannya pecah. Wonk sedang keluar saat itu terjadi. Wonk keluar untuk membelikanku makanan karena memang belum ada makanan yang masuk pagi itu.

Aku pasrah, aku langsung memanggil susternya dengan menekan tombol panggilan di samping tempat tidurku.

Mereka langsung bertindak secepatnya. Tapi aku merasa kehilangan sesuatu…Aku kehilangan Wonk. Saat itu aku sadar kalau hanya dia yang kubutuhkan, aku butuh dia. Aku gak butuh Bho…Aku butuh Wonk. Dengan kondisi yang seperti ini, aku hanya bisa menangis. Aku merasakan tubuhku mulai melemah, aku hanya bisa memanggil – manggil Wonk dalam hatiku. Aku mengharapkan dia mendengarku..

„Yah..plisss…cepet kesini. Bun ga kuat?……

Satu persatu mulai mempersiapkan semuanya. Mereka mulai menyuntikkan sesuatu ke tubuh ku dan memerintahkan au untuk melakukan ini dan itu. Dibenakku saat itu hanya ingin Wonk ada di sampingku.

Saat itu, aku hanya mau dia…..

Kondisi tubuhku mulai tidak stabil. Aku bilang ke salah satu suster yang membantuku untuk memberitahu Wonk atau siapapun kalau memang sudah waktunya.


“Mba…tolong bilang sama keluarga saya, saya minta maaf”, pintaku saat itu.

“Bu, Ibu harus kuat. Sabar ya. Keluarganya sudah dikabari kok”, jawab suster itu.

Pernyataannya tidak membuatku tenang. Rasa sakit bercampur rasa melilit yang hebat membuatku tak dapat berpikir apapun. Rasanya aku hari itu sudah berkata dalam hati berulang – ulang kepada Tuhan..

„Ya Tuhan, aku Cuma mau mengantarkan makhluk – makhluk mungil ini melihat semua ciptaanmu tapi aku gak mampu…?

Rasanya kalau saat itu nyawaku langsung hilang, pasti rasanya tak akan terasa seperti ini, tapi melihat semua yang telah lewat, membuatku punya keinginan untuk tetap bertahan, setidaknya sampai kewajibanku selesai.

Saat itu, entah mengapa, yang bisa menenangkanku untuk sementara adalah mengenang semuanya. Masa dimana Bho masih ada untukku. Ketika semuanya masih ada ditempat yang seharusnya. Tapi begitu bayangan ketika aku harus melewatinya sendiri, rasa sakit itu terasa makin hebat. Lebih hebat dari sebelumnya. Aku hanya ingin semuanya selesai.

Semuanya tampak lebih sibuk dan aku hanya bisa diam. Keringat sudah membanjiri tubuhku dan aku hanya berharap, semua yang terbaik. Kalaupun aku harus pergi saat itu, seperti aku akan ikhlas karena aku percaya, anak – anakku akan berada di tempat yang benar.

Aku mulai merasakan sakit yang lebih hebat dan rasanya, aku ga sanggup lewati semuanya sampai tiba – tiba pintu ruang perawatan itu terbuka dan aku melihat Wonk disana, tersengal – sengal. Dia langsung menghampiriku.

“Bun, maaf. Ayah beli mam nya kejauhan. Sabar ya Sayang, Yang kuat ya”, ujarnya.

Aku tampak malu dengan posisiku saat itu tapi tampaknya Wonk tak memperdulikan hal tersebut. Aku hanya bisa tersenyum dan sepertinya kekuatanku kembali.

“Maaf Sayang…Maaf. Jangan senyum aja, ngomong donk!!”, ujarnya lagi sambil mengusap – usap kepalaku.

“Sakit Yah…Bun….ga kuat Yah,…..Maaf”, jawabku terbata – bata.

“Ga…Bun kuat Sayang. Ayah tau kalo Bun kuat”, jawabnya.

Tangannya menggenggam tanganku kuat – kuat. Dia menatapku dan aku menatapnya seakan – akan ini yang terakhir kalinya aku melihat dia. Sekilas, aku merasakan Bho hadir disini, diantara aku dan Wonk, rasa sakit itu datang lagi dan aku tak mampu.

Wonk memanggil suster dan beliau pun mengecek kondisiku.Beliau mengatakan kalau akan segera memberitahukan kepada Dokter yang menanganiku.

Wonk entah kenapa, berinisiatif lebih menenangkanku.

“Bun, Ayah tau Bun tuh lebih kuat dari Ayah, Sayang”, ujarnya.

Aku hanya bisa tersenyum sambil merasakan sakit yang entah..tak bisa diungkapkan dengan kata – kata.

“Ayah gak akan mungkin bisa kehilangan wanita kayak Bun”, ujarnya lagi.

“Bun bisa lewatin semuanya. Ayah ga habis pikir betapa bodohnya laki – laki itu menelantarkan satu – satunya harta yang paling berharga yang dia punya. Sampai akhirnya, harta itu ga akan jadi miliknya, sepeser pun karena Ayah ga kan pernah biarin dia ambil Bun dari Ayah”, ujarnya lagi.


Aku hanya bisa tersenyum dan tak berapa lama semuanya mulai berdatangan. Mereka mulai mempersiapkan segalanya. Aku seperti akan dibawa ke suatu tempat yang membuatku merasakan ketakutan yang besar.

“Ayah…..Bun bener – bener ga kuat. Bun minta maaf ya. Tolong, bilang Bho, bun minta maaf”, ujarku

“Ga….Bun kuat, Ayah yakin, jadi Bun ga perlu minta maaf sama dia. Dia yang harusnya minta maaf sama Bun”, jawab Wonk.

“Tapi…”, jawabku.

Ugghh..rasanya mau mati saat itu juga. Sekujur tubuhku menegang dan kurasakan sakit yang lebih hebat.

„Bu, maafin Hanna?, bisikku, Cuma itu yang aku mampu.

Detik berlalu, dan aku pun sudah berada di ruang persalinan yang entah seperti ruang penjagalan buatku. Posisiku sudah diatus sedemikian rupa agar mempermudah persalinannya dan sungguh, aku ga perduli gimana posisinya, yang penting aku mau ini segera berakhir.

„Oh Tuhan……?, bisikku dalam hati.

Kehadiran Wonk di dalam ruang persalinan pun tak membuatku merasa kembali kuat. Seakan ini hanya urusanku dan Tuhan yang tau akan bagaimana akhirnya.

Entah berapa lama itu berlangsung, tangisku tertahan disana dan aku merasakan letih yang sangat luar biasa. Terdengar olehku sayup – sayup suara Wonk dan beberapa perintah yang harus kulakukan, aku melakukannya dengan semua sisa tenagaku.


Aku Mendengar sayup – sayup suara tangisan dan aku ga bisa konsen dengan keadaan di sekelilingku. Aku menunggu cukup lama sampai akhirnya mendengar suara perintah untuk menghabiskan seluruh tenagaku dan aku mendengar tangisan itu kembali.

Ada tangan lembut mengusap pipiku dan aku hanya bisa tersenyum sampai tak terasa air mataku keluar dari ujung – ujung mataku. Tapi ada rasa yang tak bisa kugambarkan saat itu. Pandanganku tak focus dan….aku masih merasakan tangan itu di pipiku dan sepertinya seseorang yang menyentuh pipiku meneriakkan sesuatu, tapi aku tak mampu mendengarnya.

“Maaf…….”

Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan lalu aku merasa semua berubah menjadi…

Gelap……..

Masa itu kini sudah terlewati. Kakakku bercerita tentang semuanya begitu aku dapat kembali melihat orang – orang yang kusayangi.

Aku tersadar dari tidurku dengan wajah orang yang paling kusayangi sedang memandangiku tersenyum, namun ada airmata disudut mata itu. Dia adalah Wonk. Kata yang keluar dari bibirnya saat itu hanya,..

„Plizzz….jangan pernah tinggalin ayah lagi?….

Aku hanya bisa terdiam, tersenyum namun dilubuk hatiku yang paling dalam, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan.

„Apa benar dia betul – betul menyayangiku seperti ini?? Apa benar ini terjadi padaku??


Ditengah suasana yang mulai terasa haru, semua bayangan terasa blur. Sepertinya aku hanya terfokus pada Wonk. Dia begitu baik menerima semuanya. Tersadar oleh pandanganku, dia pun menghampiriku.

“Kenapa dari tadi ngeliatin terus? Ga kenal sama Ayah?”, tanyanya.

“Kenal”, jawabku.

“Trus kenapa diliatin terus Ayahnya? Kangen?”, tanyanya.

“Kangen….kayaknya dah lama ga liat Ayah, ga denger suara Ayah”, jawabku.

Wonk hanya tersenyum. Dia menceritakan padaku tentang hari itu. Setelah aku melahirkan anak – anakku, terjadi perdarahan yang hebat. Didukung dengan kondisi fisikku yang lemah dan ada masalah juga dengan kehamilanku, aku kehilangan kesadaranku. Wonk berkata, aku tak sadar selama 3 hari.

“Ayah, ngapain selama 3 hari? Disini?”, tanyaku.

“Nungguin Bun”, jawabnya.

“Nungguin apa? Mang kalo nungguin Bun dapet hadiah apa?”, tanyaku

“Nungguin Bun sadar. Bun lama banget bangunnya. Ayah smpe ga sabaran. Hadiah buat Ayah dah ada, manis – manis kayak Bundanya Ayah. Tapi kalo Bundanya ga bisa sama – sama Ayah, Ga akan sama rasanya”, jawabnya.

“Kenapa?”, tanyaku.

Kemudian wajah Wonk menghampiri wajahku, dan dia membisikkan sesuatu di telingaku.

“Bun tuh segalanya buat Ayah. Ga ada Bun, rasanya ga akan sama. Bun cuma
satu – satunya yang Ayah punya selain anak – anak. Ayah ga akan pernah mau kehilangan Bun karena Ayah sayang banget sama Bun”, ujarnya di telingaku.

Aku hanya bisa menangis mendengar semuanya. Menangis dan entah mengapa, bayangan Bho dihatiku mulai menjauh dan menjauh. Melihatku menangis, Wonk mengusap wajahku dan berusaha menenangkanku.

“Dah ahh..jangan nangis, Jelek. Bun Ayah nanti jelek kalo nangis”, ujarnya.

“Mang Bun jelek…”, jawabku ditengah tangisku.

“Jangan gitu ah...Bun Ayah tuh cantik banget. Perduli amat orang bilang Bun
kayak gimana. Buat Ayah, Bun segalanya, ga bisa dituker sama apapun. Kalo tiba2 si Aji datang minta Bun, minta anak2, ga akan Ayah ijinin”, ujarnya.

Mendengar segala penuturannya, mengetahui dia begitu menerima semuanya, aku rasanya sudah menemukan tujuan hidupku.

Aku, hari itu benar – benar bisa melihat buah hatiku yang entah bagaimana, begitu tampak mengenalku. Matanya yang mungil, yang belum bisa mengenali keadaan disekitarnya, seakan – akan berkata padaku,

„Bunda, Aku sayang banget sama Bunda?….

Mereka mungil, Aku melihatnya dari luar ruangan itu. Mereka berada di dalam inkubator. Entah apa perasaan mereka saat itu, tapi aku merasa bahwa aku menang. Menang melawan semua rasa cemasku, menang melawan rasa sakitku, sakit yang entah berapa lama kurasakan.

Tapi kini, melihat Wonk disampingku, melihat anak – anak yang kuperjuangkan dihadapanku, aku merasa menang terhadap Bho. Aku ga akan rela dia ambil apapun dariku, termasuk anak – anakku.


Aku akan berjuang dengan sekuat tenagaku menjaga apa yang sudah Tuhan berikan untukku, sejak hari itu, aku merasakan ada semangat yang baru, dan aku tahu…

“Yah…..”, panggilku kepada Wonk ketika melihat mereka.

“Iya sayang….”, jawab Wonk sambil memelukku dari belakang kursi rodaku.

“Bun jadi Ibu ya Yah?”, tanyaku.

“Iyah…Itu anak – anak kita Bun. Bun dah jadi Bunda, Ayah dah jadi Ayah dari jagoan – jagoan Ayah. Kenapa?”, tanyanya.

“Bun seneng. Jangan tinggalin Bun lagi”, jawabku.

“Ga akan…Ayah bodoh kalo Ayah tinggalin Bun. Bun Nyawa Ayah”, jawabnya sambil mencium pipiku.

Hari itu, aku menjadi manusia paling bahagia, mungkin Wanita paling bahagia….

Hari itu, aku dan Wonk sepakat menamakan mereka Rhama Putra Auliansyah Hakim dan Dewa Putra Auliansyah Hakim. Ada nama Bho di dalam nama anak – anakku dan Wonk menyadari itu. Dia merasa cukup berbesar hati awalnya, tapi lambat laun, aku merasa bahwa Wonk tidak menginginkan nama itu dan ia mengatakannya padaku.

“Bun, Ayah mau ngomong sesuatu”, ujarnya.

“Ya..mau ngomong apa?”, tanyaku.

“Bun, kalau suatu saat nanti Bun dah bias terima Ayah, Ayah mau nama anak – anak diganti. Jangan ada Bho lagi dalam hidup kita, Bun. Maaf kalo Ayah egois, tapi Ayah sama sekali ga mau ada kenangan Bho lagi”, ujarnya.


“Iyah..Bun Paham…Ayah yang sabar ya. Maafin Bun”, jawabku

Wonk hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti.

Hari berganti hari….Minggu berganti minggu dan entah kenapa, semua tampak sempurna buatku.

Sampai Wonk harus pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk menjalankann tugasnya. Tapi aku tidak merasa kesepian. Dia tetap selalu ada untukku. Aku pun mulai menyibukkan diri dengan melakukan apapun untuk mengisi hariku agar ketiadaan Wonk tak begitu terasa, tapi dia selalu ada dihatiku.

Sampai suatu ketika, Wonk menelponku mengatakan hal yang dulu dia tanyakan padaku.

“Bun, kali ini, Ayah bener – bener mau Tanya yang waktu itu pernah Ayah Tanya sama Bun”, ujarnya.

“Tanya apa?”, tanyaku.

“Bun mau kan jadi istri ayah? Jadi pendamping Ayah? Temenin Ayah seumur hidup Ayah? Ayah butuh Bun”, tanyanya.

Aku terdiam dan aku hanya bisa menangis. Rasanya, Aku akan merasa sebagai wanita tolol kalau aku menolak Wonk. Mengetahui apa yang sudah dia lakukan untukku, anak – anakku..dan akhirnya aku berani menjawabnya dengan segala resikonya.

“Ya…Bun mau!”, jawabku.

Jawabanku disambut dengan ucapan yang tak kumengerti. Mulai detik itu, Aku jauh lebih bahagia dari hari – hari kemarin.

Hari ini….

Hari ini, semua ketakutanku mulai sirna. Ketakutan akan hadirnya Bho kembali dalam hidupku dan anak2ku mulai benar – benar hilang. Wonk akan segera kembali ke Indonesia dengan perasaan yang „luar biasa bahagia? katanya.

Persiapan tentang hari dimana jadi akhir dari penantianku akan segera tiba. Entah mengapa, aku gelisah. Gelisah namun „Bahagia Luar Biasa?…

Menunggu kepulangan Wonk, membuatku berpikir bahwa dia bukan laki – laki biasa, tapi lebih dari itu.

Rasanya aku tidak bisa membandingkan Wonk dengan Bho.

Bho, anak laki – laki yang bisa mendapatkan apa saja kalau dia mau. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil yang pastinya mempunyai pekerjaan tetap. Setidaknya, tidak begitu berat untuk menghidupi istri dan anak – anaknya. Aku mungkin belum begitu tahu tentang bagaimana keluarga Bho, tapi Bho masih jauh lebih beruntung dari Wonk.

Wonk, anak ke 8 dari 9 bersaudara. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bukan seorang pegawai kantoran. Ayahnya hanya seorang penjual buah – buahan dan dengan hasil berdagang nya itulah, ia memberi nafkah istri dan anak – anaknya. Menyekolahkan anak - anaknya, mendidik mereka, hingga mereka sukses dan jadi orang – orang yang lebih baik. Yang membuatku bahagia, Ayah dan Ibu Wonk, mampu menyekolahkan semua anak – anaknya. Punya 9 orang anak dan semuanya berhasil sungguh membuatku salut.

Aku tidak malu dengan semua itu, justru aku bahagia dan bangga bahwa Wonk tidak merasa kecil hati dengan semua itu.

Aku pernah menelpon dia saat dia ingin berangkat ke warung tempat ayahnya berjualan dan ia tidak malu mengatakan padaku kalau ia ingin membantu ayahnya disana.

“Ayah lagi jalan ke warung mau bantu Bapak”, ujarnya.

“Bapak jualan apa?”, tanyaku.

“Buah….kenapa?”, tanyanya..

“Ga papa….”, jawabku.

“Bapak memang jualan buah dari dulu. Ya, kita semua sekolah, makan dari hasil Bapak jualan buah. Bun ga malu kan?”, tanyanya.

“Ga..ga malu. Bun seneng kok. Setidaknya Bapak menafkahi anak – anak dan istri nya dengan cara yang halal”, jawabku.

“Ya, makanya…Ayah ga berat kalau harus bantu Bapak, karena Ayah bisa kayak sekarang juga karena buah – buah itu”, ujarnya.

“Hmmmm..yang semangat ya jualannya Chayank!!”, jawabku.

“Pasti! Maaf ya chayank, kalo Ayah kayak gini…”, ujarnya.

“Kenapa? Bun terima Ayah apa adanya. Bun ga liat itu semua. Pokoknya Bapak hebat. Ntar Bun boleh kan bantu – bantu di warung?”, tanyaku.

“Banget, boleh banget sayang….makasih ya Chayank”, jawabnya.

“Sama – sama, kembali kasih”, jawabku disambut suara tawanya yang khas.

Aku memang tidak mengharapkan someone yang punya babat, bebet, bobot.
Menurutku itu tidak terlalu penting. Yang penting Cuma isi hati seseorang aja.


Aku ga terlalu memikirkan semuanya sekarang.

Kalau ingat dulu, waktu SMU, kadang kita hanya berpatokan pada fisik seseorang saja untuk menentukan pantas atau tidaknya orang tersebut jadi orang paling special dihati. Tapi, makin lama, tampaknya, cara pikir tersebut terlalu picik.

Bho….A Man with a Good Persona…..tapi kurang punya pendirian. Entah pengaruh sifat, zodiac, atau memang trauma masa lalu, tapi aku bersyukur…dia bukan jodohku. Tak terpikirkan olehku jika memang dia bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku tetapi masih tetap stuck di rutinitas yang sama, aku pasti sudah berubah jadi zombie. Tapi aku yakin, dia akan berubah jadi ayah yang baik untuk anak – anaknya nanti dengan seseorang, bukan anak – anakku.

Wonk, sudah lebih dari cukup untukku. Dia ayah yang baik untuk anak – anakku. Menerima Rhama dan Dewa – ku layaknya darah dagingnya sendiri. Kala melihatnya bermain dengan anak – anak, memanggil mereka dengan sebutan „anak ayah?, membuatku merasa aku tak perlu mencari atau pun berharap „ayah kandung? dari anak – anakku mencariku untuk mempertanggung jawabkan semua.

Seperti suatu ketika, Wonk sedang menenangkan Dewa ketika menunggu giliran untuk mandi…aku merasa, Wonk lebih dari segalanya..

“Kenapa anak Ayah nangis??? Sabar sayang, Bunda Cuma punya 2 tangan. Abis ini giliran Dd ya ( panggilan sayang Wonk untuk si kecil Dewa ). Masa anak Ayah nangis”, ujar Wonk pada Dewa yang masih menangis di pelukannya.

Aku melihat dari jauh…merasa….merasakan perasaan yang sulit kuungkapkan.

Akhirnya Dewa pun tenang di pelukan Wonk.
Ketika Rhama suda selesai mandi, aku mengambil Dewa dari dekapan Wonk. Seketika Dewa pun menangis. Akhirnya, Wonk lah yang memandikan Dewa. Lama kelamaan, Rhama dan Dewa sulit terpisahkan dari seorang laki – laki bernama Wonk.


Melihatnya bercanda, memberikan makan, bahkan menidurkan mereka..membuatku berpikir, aku terlalu bodoh jika melepaskan Wonk.

Aku sudah memilih jalanku sendiri dan ini adalah keputusan yang terbaik untukku. Aku menyayangi dan mencintai Wonk sepenuh hati. Memikirkan bahwa jodoh kita sebenarnya selalu ada di depan mata membuatku bersyukur, Tuhan menyadarkanku ketika aku bertemu Wonk, nobody else.

Rasa ini tumbuh atas namanya, bukan orang lain.

He?s My Savior….He?s The One….My Only One….

Mudah – mudahan, buat semua yang dah baca thread saya, cepet bisa ketemu sama soulmate nya ya…

Coz it?s so….Wonderfull……

Hari penantian itu sudah berlalu dan aku sedang menghadapi sesuatu yang 'luar biasa bahagia'....

Berada ditengah - tengah keluarga baru yang lambat laun menerimaku membuatku tak henti - hentinya bersyukur.

Aku mulai menjalin kembali hubungan baik dengan keluargaku, menyatukan kembali benang - benang yang kusut.

Sedangkan perjalanan hidupku dengan Wonk pun semakin hari semakin...hmmm...bisa dibilang lebih dari sekedar 'Luar Biasa'.

Aku memutuskan untuk mengikuti kemana Wonk pergi, jadi sekarang aku berdomisili di Bandung, kota yang selama ini hanya jadi angan - anganku. Memulai hidupku dari nol bersama Wonk tak sesukar yang aku kira, semua mengalir apa adanya.

Anak-anakku tumbuh menjadi anak - anak yang manis, lucu dan mudah bergaul dengan siapa saja. Entah apa yang terjadi dikemudian hari, tapi yang jelas, Wonk lebih dari sekedar Ayah buat mereka, Malaikat mungkin. Tanpa Wonk, aku tak bisa bayangkan, akan jadi apa hidupku sekarang.

Tentang dia.....Bho...
Aku sudah mulai tak ingat siapa dia. Walaupun beberapa minggu yang lalu, sempat temannya yang juga temanku, memberitahukan bahwa FB Bho kembali aktif. Aku sontak memberitahukan masalah ini kepada Wonk, aku takut dia mulai mencariku seperti kejadian di dalam mimpiku.

Aku bermimpi bahwa dia datang padaku dan bilang kalau dia tak suka melihatku bahagia seperti ini, dia ingin mengambil anak - anakku, toh aku sudah bahagia dengan Wonk. Aku tak habis pikir apa yang terjadi jika memang itu terjadi padaku, aku bisa GILA....

Wonk menyikapi masalah itu dengan baik. Dia bersikap bijaksana. Dia berusaha menenangkanku. Kalau pun Bho mencariku, Wonk yang maju duluan.

"Udah Bun, jangan dipikirin, kalau dia cari bun, biar Ayah duluan yang maju. Sampai kapan pun, Dia ga boleh ketemu Bun dan Anak - anak", ujar Wonk.

"Tapi......", jawabku ragu..

"Dah, jangan takut sayang. Dia ga akan bisa sentuh apa yang dah jadi milik Ayah sekarang, ga akan bisa", jawab Wonk.

Mendengar itu semua, aku hanya bisa menangis di pelukannya malam itu. Entah, Aku merasa, Wonk bukan hanya malaikatku, tapi dia 'Dewa Penyelamat" ku.

Dengan semua kehidupan baruku, Aku tak takut lagi melangkah. Aku sekarang
berada di Roller Coaster yang sama yang selalu kunaiki dari dulu tapi tak sendirian, ada Wonk disampingku, menemani aku tanpa perlu ini itu.

Aku tak merasa malu harus menjaga kios buah Ayahnya setiap malam, justru Aku bahagia karena bisa membantu orang yang membuat Wonk ada disini, mendidiknya, membuatnya menjadi seseorang yang berbeda. Tak ada rasa segan atau malu untukku...Wonk adalah Dewa untukku, Malaikat untuk anak - anakku dan Orangtua Wonk adalah Dewa dari segala Dewa untukku..

Aku Bahagia......

Mendapati dia, Bho yang tetap menjadi orang yang sama..membuatku tak henti - hentinya bersyukur dan berterima kasih karena dia bukan jodohku. Ya, dia memang Ayah dari anak - anakku, tapi bukan pendamping hidupku.

Aku......

I'm A Happy Princess Now......

Dengan segala yang sudah terjadi, Wonk, Keluargaku, Keluarga Wonk, Anak - anakku, sahabat - sahabat terbaikku, membuatku tak habis pikir, betapa baiknya Tuhan padaku. Aku tak pernah sendirian lagi. Aku bisa jadi seseorang yang baik, Ibu yang baik dan istri yang bisa dibanggakan...

Just Keep tryin Guy's....ingat, Tuhan itu gak pernah tidur. Dia selalu ada dimana pun kita berada, dia tahu apa yang sudah kita kerjakan. Dia memberikan cobaan kepada hamba Nya karena Dia sayang...dan kita pasti mampu melewatinya...

Aku....Bahagia...karena Aku Mencintai Manusia Setengah Dewa..dan dia juga mencintaiku..apa adanya....

Dia adalah Wonk.....My Beloved Husband....
TAMAT.