PROLOG

Aku berkali-kali melirik jam tanganku, belum juga setengah jam, tapi kenapa rasanya kayak setengah abad begini?

“Ya… begitulah, Dek, namanya pengusaha pasti ada pasang surutnya,” ujar lelaki dengan rambut klimis di hadapanku itu sambil tersenyum congkak.

Emang gue pikirin! Batinku sambil meringis canggung, kemudian menyedot perlahan jus apel yang ada dihadapanku dengan tak nyaman. Jusnya sih enak, asal jangan sambil ngeliatin makhluk di depanku ini aja. Suasana rumah makan yang cukup ramai tak cukup bisa untuk mengalihkanku dari sosok lelaki yang sejak tadi terus mendominasi pembicaraan kami. Ya… lebih tepatnya ia yang selalu berceloteh, sementara aku hanya meringis, mengangguk, dan menjawab pendek-pendek.

Namanya Bagas, seorang pengusaha mebel. Lelaki ketiga yang disodorkan mama sebagai calon jodohku. Dua lelaki sebelumnya tak lebih bagus dari Bagas.

Kandidat pertama yang disodorkan mama sebagai calon jodohku terlihat agak normal awalnya, nggak terlalu ganteng tapi sopan walau cenderung terlalu feminine, nggak lakik banget! Tapi yang bikin ilfeel, pas pertemuan di acara kawinannya salah satu anak temen papa, itu cowok latah, langsung nyerocos kemana-mana begitu kakinya dirambati kecoak. Ngalahin Mpok Sarah, tetangga yang sekali latah bisa kali lima menit nggak berhenti, Huaaaa bikin malu.

Yang kedua lebih bikin ilfeel, tampang sih lumayan, mirip-mirip Agus Ringgo Rahman gitu. Tapi genit dan duda cerai 3 kali. Haduh sekali lagi bisa dapat piring tuh.

Yang ketiga adalah yang saat ini didepanku, Bagas, oh mungkin aku harus memanggilnya Oom, mengingat wajahnya yang terlihat seusia papa, meskipun menurut mama ia baru berusia 36 tahun. Tapi bener deh, masih gantengan papa yang udah berumur setengah abad lebih. Oh bukan berarti aku mau sama yang seusia papa juga.

“Eung… kalau Dek Fika sendiri gimana?” tanyanya kemudian sambil menyeringai, menunjukkan deretan giginya, cling! Satu permata di bagian gigi depannya membuatku tersenyum miris. Ahahaha, beberapa menit yang lalu dia sempat cerita kalau baru memasangkan permata di giginya. Hiiiy… kalau ketelen, nangis darah dah. Berapa duit tuh ketelen?

“Eeh, enggak gimana-gimana,” jawabku bingung.

“Maksud Mas, apa nggak masalah kalau Dek Fika punya suami pengusaha seperti Mas? Ya… tapi nanti Dek Fika ya harus mau tinggal sama Mas di Kalimantan, Mas mau mengembangkan usaha di sana.”

Aku melongo saat ia menyebutkan kata suami? Tunggu? Bukannya ini baru pertemuan pertama? Kenapa udah yakin aja kalau aku mau jadi istrinya? Dan apa tadi? Tinggal di Kalimantan? Mengingat pekerjaannya sebagai tukang kayu—oke maksudku pengusaha mebel aku membayangkan pasti pekerjaannya nggak jauh-jauh dari tukang kayu, kayu itu adanya di hutan, terus aku harus tinggal di hutan-hutan gitu kayak tarzan? Auwouwoooo! Ups! Aku jadi membayangkan mengenakan kostum daun-daunan. Mah kerudungku pakai apa, dong? Masa daun pisang berasa phasmina, gitu?

Tanpa sadar aku memegang kepalaku, Bagas menatapku heran,”Kenapa, Dek?”

Segera kuturunkan tangan dari kepalaku, “Hah? Suami? Bentar! Kayaknya ini salah paham deh,” ujarku cepat dan gugup.

“Salam paham gimana, Dek?”

Dan aku nggak suka dipanggil Dek, grrrr…

“Bukannya Adek lagi nyari suami? Mas juga lagi nyari istri, dan kita kayaknya cocok.”

Haaaaah? Cocok dari Cilacap? Belah mana cocoknya?

“Hmm… begini Pak, eh maksud saya M… Mas,”panggilku serasa menelan sapi gelonggongan, ”Pertama-tama, saya nggak suka dipanggil ‘Dek’, yang kedua, saya memang sedang dicarikan calon suami, tapi… tapi… ehm… ini baru pertama kali kita ketemu.”

“Oh, jadi Dek… ehm maksud Mas, Fika mau pacaran dulu?”

“NGGAK!” jawabku cepat membuatnya tersentak kaget. Apa? pacaran? Enak aja! Sama dia pula? Ogaaaah!

Bagas menatapku dengan tatapan heran.

“Saya nggak mau pacaran dulu, tapi menurut Mama, Anda kan sedang dikejar deadline untuk segera menikah tahun ini juga, sementara saya juga masih terikat kontrak dengan rumah sakit tempat saya bekerja…”aku mencoba mencari-cari alasan yang tepat untuk tidak membuat lelaki di depanku ini semakin berharap. Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia kembali tersenyum tidak manis, mengangkat ibu jarinya sebagai isyarat agar aku tak melanjutkan kalimatku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. Yaela… drama banget dah!

“Oh, kalau itu masalahnya tenang saja. Kalau harus mengganti uang penalty, Mas bersedia kok. Paling berapa juta sih…”ucapnya sombong.

Aku makin mencibir. Aduh… enggak banget deh. Bukan masalah penaltynya, Pak!

Aku mulai jengah, sejak tadi kuberikan gesture nggak nyaman, tapi kayaknya lelaki di depanku ini nggak ada pekanya sama sekali, maka kuputuskan untuk menyelesaikannya sebelum ia kembali mengoceh.

“Ehm… udah sore, saya mau pamit pulang dulu deh,”ucapku buru-buru tak sabar untuk segera meninggalkan tempat ini. Mama harus tanggung jawaaab! Aduuh, masa ngenalin calon nggak ada yang beres gini?

“Eeh, kok buru-buru? Mas antar, ya?”

“Enggak… nggak usah. Sudah dijemput kok, eh, ehm… ini yang bayar… saya, anda, atau fifty-fifty, ya?” tanyaku sambil berdiri dan menjinjing tasku. Iya memang sengaja to the point. Kan nggak lucu misalnya dia nanti cari-cari cara buat ketemu aku dengan alasan bayar makanan. Hiiii… Fika GR!

“Oh, tentu Mas dong yang bayar. Dijemput siapa?”

“Oh, makasih. Saya dijemput Bang Aang… permisi, Assalamualaikum,” ucapku memaksakan senyum kemudian buru-buru pergi dari hadapannya.

“Waalaikumsalam, eeh…Bang Aang siapa?” teriaknya dari belakang, aku tak sempat menjawab. Bang Aang? Ya Bang Angkot lah, siapa lagi? Aku keluar dari area rumah makan dengan perasaan lega. Setelah ini mama yang harus mengurusnya, untung aja aku ngelarang mama buat ngasih nomor HPku ke lelaki tadi. Aku nggak mau ada urusan lagi sama Om-om aneh itu lagi, Hiiiiyyy…