H

Washington DC, Amerika Serikat.

Seorang lelaki muda tengah membuka pintu apartemennya. Setelah berada di dalam, ia mendengar suara tangisan seorang bayi. "Amy!" panggilnya. Namun, yang dipanggil tidak menyahutinya. "AMY!" Sekali lagi dan lebih keras, lelaki berusia 28 tahun itu masih terus memanggil seorang wanita yang juga tinggal di apertemen tersebut. 

Sampai di ruang tengah, lelaki bernama lengkap Harvest Wills hanya melihat seorang bayi yang sedang tergeletak di bawah lantai yang dialasi kasur tipis. "Astaga--," Harvest sangat terkejut karena seseorang meletakkan bayinya yang bisa dibilang baru berusia berapa hari itu di bawah lantai yang dingin. Saat Harvest mencoba menggendongnya, ia menemukan selembar kertas. Sambil menggendong sang bayi, Harvest mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya.

---Harvest, aku minta maaf karena telah pergi meninggalkanmu secara diam-diam---.

Begitu baris pertama ia baca, ia sudah terkejut. Amy?  Buru-buru ia melesat ke kamar Amy yang berada di sudut sebelah kamarnya. Ia langsung membuka pintu kamar Amy dan mendapati kamarnya telah rapi. Ia berjalan masuk dan menuju ke arah lemari pakaian Amy. Ia membuka lemari tersebut dan tampak kosong. Dilihatnya semua pakaian Amy sudah tidak ada. Harvest pun mulai panik. Ia melihat lagi ke kertas yang masih ia genggam di tangannya dan kembali membacanya. 

---Sebelumnya, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu karena kau selalu menemaniku melewati hari-hari tanpa Bruce sejak kematiannya. Lalu selama kehamilanku, kau juga selalu membantuku. Aku sungguh berterima kasih, Harvest.

Harvest, kumohon jangan marah padaku. Aku sengaja meninggalkan bayi ini padamu. Aku tidak sanggup apabila harus merawatnya karena itu akan mengingatkanku pada Bruce. Demi persahabatan yang telah kita lalui bersama selama 5 tahun ini, Harvest, aku meminta tolong padamu. Bahkan aku sungguh-sungguh memohon padamu agar kau mau menerima bayiku ini dan merawatnya sampai besar. 

Satu pintaku, Harvest, setelah anak ini besar, katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya. Dan sampaikan maafku karena aku tidak bisa menjadi seorang ibu yang bertanggung jawab baginya. Jika kau mengijinkan, aku sudah mencarikan nama depan untuk bayi perempuanku ini. Aku memberinya nama dengan panggilan 'Every'. 

Aku akan merindukannya dan dirimu. Jangan mencoba mencariku, Harvest. Karena aku akan menghilang darimu dan anakku. Selamat tinggal, Bayi mungilku. Selamat tinggal, Sahabat terbaikku. Amy Watson----.

Selesai membaca, air mata Harvest terurai membasahi wajahnya. Kini ia telah kehilangan sahabat terbaiknya~ lagi.

Setahun yang lalu, kekasih Amy yang bernama Bruce--yang tak lain adalah sahabat Harvest juga-- meninggal karena overdosis di apartemennya. Amy yang baru saja dikabarkan hamil sungguh terkejut atas berita kematian kekasihnya itu. 

Tadinya Amy menolak keras melahirkan anak dari Bruce karena tak sanggup menyandang status 'wanita yang hamil di luar nikah'. Tapi atas bujukan Harvest serta janjinya pada Amy bahwa akan selalu berada di sisinya, Amy pun akhirnya menyetujuinya untuk melahirkannya. Kalau diingat-ingat, memang Amy tidak pernah berjanji padanya untuk membesarkan anaknya. Ia hanya berjanji kalau ia akan melahirkan anak ini. 

Shit!

Seharusnya Harvest tahu rencana Amy dari awal. Kini nasi sudah menjadi bubur. Harvest tak bisa mengulang waktu. Seharusnya tadi pagi ia tidak pergi meninggalkan Amy. Harvest menatap bayi mungil yang sudah terdiam sejak digendong olehnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia tidak ada pengalaman apa-apa dalam hal mengurus bayi. Tetapi, ia juga tak bisa meninggalkannya karena bayi mungil ini tidaklah bersalah. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan padamu?" gumamnya sembari melihat ke bayi perempuan mungil yang kini sedang menatapnya lugu.

Saat sedang berpikir, dering ponsel milik Harvest berbunyi. Ia pun segera mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya. Harvest mencoba tersenyum di tengah kegetiran hatinya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Ya, Ma?" jawab Harvest. Ternyata yang menelponnya adalah mamanya. "Harv tidak mungkin lupa. Malam ini juga Harv akan balik ke sana. Sekalian ada hal penting yang akan Harv beritahukan pada Mama dan Papa."

Selesai menelpon, Harvest bergegas ke kamarnya untuk membereskan semua pakaiannya. Ia sudah memutuskan akan pulang ke kampung halamannya di Milford, yang terletak di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Ya, baginya ini adalah keputusan yang terbaik.

***

Sinar matahari sore dan semilir angin sejuk yang berhembus di cela-cela lubang jendela membangunkan Harvest dari tidur sore-nya. Setelah melakukan perjalanan selama 7 jam, kini Harvest sudah berada di rumah orang tuanya. Sekilas ia melihat ke bayi perempuan yang dibawanya masih tertidur pulas di sampingnya setelah asisten rumah tangga di rumah ini membuatkan susu hangat yang lantas disedot bayi itu dengan lahap, kemudian tertidur. 

Sesaat ingin bangkit dari ranjang, Harvest kembali melihat wajah bayi itu dan ia urung untuk berdiri.

Harvest kembali menatap wajah bayi malang itu. Ya, ia adalah bayi malang yang ditinggal oleh ibunya. Harvest memang tidak berpengalaman dalam merawat bayi, namun ia juga bertekad tidak akan menelantarkan bayi tersebut demi persahabatannya pada Amy. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Every," gumamnya sembari tersenyum tipis. Ia pun memutuskan akan memberi nama pada bayi tersebut sesuai dengan keinginan Amy. Setelah itu, Harvest pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setengah jam kemudian, Harvest sudah keluar dari kamarnya dan tengah berjalan menuju ke arah ruang keluarga. Tempat di mana mama papanya selalu berkumpul saat akhir pekan.

"Mama, maaf tadi Harv ketiduran," ujar Harvest sembari berjalan mendekati sang Mama.

Mamanya meletakkan majalah yang dibacanya di atas meja. "Ya Mama mengerti. Perjalanan lumayan jauh pasti sangat membuatmu kelelahan. Sini duduk di samping Mama," suruhnya sambil menepuk-nepuk sofa.

Harvest menurut dengan duduk di sebelah mamanya. "Bagaimana kabar Mama?" Harvest memeluk mamanya melepas rindu. 

"Baik, Sayang," jawab Mama membalas pelukan putranya. "Bagaimana denganmu sendiri, Harv?" tanyanya balik. Mama melepaskan pelukan Harvest, lalu menatap lekat wajah putra pertamanya itu sambil mengusap kepalanya. "Selama kau tinggal sendiri di apartemenmu, kau tidak melewatkan sarapan pagimu kan, Harv?"

"Tidak, Ma. Harv selalu mengingat raut wajah Mama yang tegas untuk tidak melewatkan sarapan pagi. Wajah Mama bahkan lebih efektif dari alarm yang kadang terdengar kadang tidak."

Mama memicingkan matanya sebal menatap Harvest.

Harvest pun terkekeh geli saat ditatap sinis mamanya karena ia telah menggodanya. "Harv hanya bergurau, Ma." Harvest melanjutkan, "Mama tahu, Harv bahkan mengisi lemari pendingin dengan roti dan buah-buahan. Pokoknya Mama tenang saja dan tidak perlu khawatir lagi pada Harv. Harv juga sudah menyingkirkan minuman bersoda."

Kedua sisi mulut Mama pun ditarik membentuk senyuman lebar. "Mama senang mendengarnya, Harv. Mama ingin kau menjaga dirimu dan kesehatanmu di manapun kau berada. Kini tinggal kau sendiri yang Mama punya. Jangan sampai Mama kehilanganmu juga, Nak," ujarnya. Raut wajah Mama tampak sedih karena ia harus mengingat lagi akan kematian putra keduanya yang sudah lama meninggalkannya itu.

"Hey, Ma, " Cepat-cepat Harvest merangkul mamanya yang mulai terisak. "Yang terjadi pada adikku tidak akan terjadi padaku. Tenanglah, Ma. Adikku mungkin pergi secara fisik, tetapi dia masih akan terus berada di dalam hati kita semuanya. Kita memperingati hari kematiannya bukan untuk bersedih, tetapi bersyukur bahwa dengan kepergiannya berarti Tuhan lebih menyayanginya dibanding kita. Aku tak ingin Mama terus meratap dan bersedih."

"Kau betul, Harv." Mama meneteskan air mata lagi tanpa ia sadari. Perkataan Harvest membuatnya tersentuh. Ia pun menyeka air matanya cepat-cepat saat sudah membasahi pipinya. "Mama janji tidak akan menangisinya kembali," ujarnya.

"Harv senang mendengarnya, Ma." Harvest melepaskan rangkulannya. 

"Oh ya, Harv---," Mama menoleh dan menatap Harvest. "Tadi Mama mendengar suara bayi di kamarmu. Bisakah kau menjelaskannya pada Mama, bayi siapa itu? Tadinya Mama ingin melihatnya, tetapi Mama menghargai privasimu. Apa bayi itu adalah anakmu?" cecar Mama langsung.

"Bayi itu bukanlah anak Harv," jawab Harvest.

Mama terkesiap. "Kalau bukan anakmu, lalu anak siapa? Kenapa kau membawanya ke sini?"

"Justru hal inilah yang ingin Harv beritahukan ke Mama dan Papa."

"Apa maksudmu, Harv? Mama tidak mengerti."

Sebelum Harvest menceritakan kebenaran pada mamanya, ia menghela nafas pendek sesaat. "Mama masih ingat sewaktu Harv menceritakan sahabat Harv yang meninggal karena overdosis setahun yang lalu?"

Mama mengangguk. "Kalau tidak salah namanya Bruce."

"Iya. Namanya Bruce. Dan bayi itu adalah anaknya. Bruce memiliki kekasih yang sekaligus sahabat Harv juga. Namanya adalah Amy. Kemarin saat Harv pulang kerja, ternyata Amy sudah pergi diam-diam meninggalkan Harv. Dan kemudian bayinya dititipkan pada Harv."

"Really, Harv? Mama tidak pernah mengajarimu berbohong lho, Nak. Dan jangan memulainya."

"I swear. Bayi itu memang bukan anak Harv." Harvest menegaskan saat melihat mamanya mendelik tidak percaya. "Mana mungkin juga Harv memungkirinya kalau dia benar adalah anak Harv. Bukankah selama dua tahun ini Mama selalu bilang ingin cepat menggendong cucu dari Harv?" Harvest menaikkan alisnya menggoda mamanya.

"Mama tidak sedang bercanda, Harv." Mama menatap sebal putranya yang masih bisa bergurau di saat percakapan serius ini.

Harvest menghela nafas kasar. "Amy memang sudah pergi, tapi ia  meninggalkan selembar surat pada Harv." Harvest mengeluarkannya dari dalam saku celananya, kemudian memberikan kertas surat peninggalan Amy tersebut pada Mama. "Mama bisa membacanya sendiri kalau tidak percaya."

Mama menerimanya, lalu melihatnya.

"Amy berkata bahwa dia merasa tak mampu merawatnya dan lantas meninggalkannya di apartemen Harv."

Mama mendengarkan ucapan Harvest sembari membaca isi surat Amy.

"Jadi, Ma, bayi itu bukanlah anak Harv. Trust me!" Harvest terus meyakinkan mamanya.

"Tetapi mengapa dia harus menitipkan bayinya padamu, Harv? Kau tentu tidak ada pengalaman dalam merawat bayi. Seharusnya wanita yang bernama Amy itu lebih bisa, kan?"

"Harv tidak tahu alasannya, Ma. Dia hanya bilang tidak sanggup merawat bayi tersebut karena itu akan mengingatkannya pada Bruce. Intinya sekarang, Ma, Harv tidak akan menelantarkan bayi itu meskipun Harv belum mahir merawatnya. Harv hanya ingin Mama membantu Harv mencarikan seorang pengasuh bayi, karena tidak mungkin Harv akan membawa si bayi ke kantor Harv."

"Ya, itu tidak boleh terjadi. Yang ada kau akan dipecat." Mama tampak berpikir sejenak. "Bagaimana kalau Mama yang merawatnya dulu, Harv?" usul Mama. "Dan di akhir pekan kau bisa mengunjunginya." Mama melihat Harvest mengerutkan keningnya tampak sedang berpikir. "Jangan khawatir karena Mama tidak akan kerepotan."

"Mama memang tidak akan kerepotan, namun aku tidak ingin Mama kelelahan. Nikmati hari tua Mama sebelum cucumu yang sebenarnya hadir."

"Mama akan menganggap bayi itu sebagai cucu Mama sekarang. Kau tidak perlu khawatir, Harv." Mama meyakinkan Harvest.

Harvest terkesiap. "Mama yakin?" Ia mencoba memastikannya.

"Iya. Lagipula bisa dibilang Mama ini lebih punya pengalaman membesarkan anak. Dua putra Mama yang sudah besar ini adalah buktinya. Jadi, bagaimana usul Mama, Harv?"

Harvest tengah berpikir sambil mendehem. "Hem..."

"Kau tenang saja, Harv. Jika Mama kelelahan atau tidak sanggup merawatnya, Mama akan mencarikan pengasuh bayi untuk membantu Mama."

Perkataan Mama ini akhirnya membuat Harvest tersenyum dan menyetujuinya. "Itu saran yang bagus, Ma."

Mama pun tersenyum lebar. "Lalu, Harv, kira-kira kau akan tinggal di sini sampai kapan? Soalnya besok Mama mau menyuruh Gaby untuk berbelanja bahan makanan kesukaanmu serta persiapan bahan-bahan yang akan kita bawa nanti ke pemakaman."

"Hem, mungkin sekitar seminggu," jawab Harvest.

"Ya sudah. Mama mau menyiapkan makan malam dulu. Papa juga sebentar lagi akan pulang. Dan kau, Harv, bersiaplah karena Papa pasti akan juga menanyakan hal yang sama tentang bayi itu padamu."

"Iya. Oh ya, Ma, Mama sudah bisa memanggil bayi itu dengan Every atau Eve."

"Ah, kau benar. Nama yang bagus." Setelah itu, mama pun pergi ke arah dapur dan meninggalkan Harvest yang masih duduk di ruang keluarga.

****

To be continue